Liputan KOLOM

Sejarah Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau

Ditulis oleh Liputan68 pada 23 Desember 2020 • ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

A. Jejak Peradaban Melayu Klasik.

Sesungguhnya kota Tanjungpinang merupakan pusat tumbuhnya peradaban Melayu klasik. Beruntung sekali sekarang kota Tanjungpinang dekat dengan ibukota Propinsi Kepulauan Riau.

Perlu adanya kajian historis filosofis. Propinsi Kepulauan Riau atau Kepri berdasarkan UU no 25 tahun 2002. Pemimpin Propinsi Kepulauan Riau bertekad kuat. Yaitu Ismeth Abdullah, Darjo Sumarsono, Muhammad Sani, Agung Mulyana, Nuryanto, Nurdin Badsirun dan Isdianto.

Kesadaran tentang arti penting kearifan lokal di era globalisasi telah mendorong Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) untuk menyelenggarakan aktivitas budaya. Dengan untuk memperoleh pemahaman dan pendalaman atas pemikiran filosofi yang tersebar di seluruh kawasan Nusantara.

Pada era globalisasi ini tiap-tiap bangsa akan merapatkan diri, agar tetap bertahan dalam kancah percaturan dunia. Potensi lokal selama ini diyakini memiliki daya kekuatan yang tangguh. Oleh karena itu, butir-butir luhur warisan nenek moyang itu perlu dikelola sedemikian rupa, sehingga tercipta sebuah kristalisasi pandangan hidup yang sesuai dengan kultur jatidiri bangsa.

Dengan kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten dan kota, kegiatan kebudayaan ini tampak semarak dan semangat. Aktivis seni dan LSM pun berpartisipasi maksimal. Semua pihak sepakat bahwa problematika kenegaraan harus melibatkan peran publik yang lebih luas. ATL dalam hal menjadi pelopor utama, demi terwujudnya cita-cita mulia.

Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) menyelenggarakan Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara pada tanggal 23 – 27 Mei 2012, bertempat di Pulau Bintan, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Bagi kebanyakan pemuda pemudi Indonesia, nama Pulau Bintan amat akrab. Sejak kelas V SD, para siswa mengenal pulau ini sebagai kawasan tambang bouksit. Beberapa soal ujian kerap menanyakan di mana penghasil bouksit itu? Pertanyaan ini selalu diulang-ulang. Materi pelajaran pun mencantumkan secara jelas. Sebegitu seringnya maka keberadaan pulau ini menjadi hafalan. Meskipun jarang yang tahu persis lokasinya.

Menurut informasi dari Bang Fahri, tukang ojek yang mangkal di depan Hotel Aston, bahwa TKI/TKW banyak transit di Pulau Bintan. Maklum, letaknya amat dekat dengan Singapura. Kadang-kadang terbersit pikiran nakal, sebaiknya Pulau Bintan bergabung dengan negara Singapura saja, pasti lebih kopen dan kajen. Daripada punya ibukota di Jakarta yang agak jauh. Tapi ini angan-angan belaka. Tak perlu digagas serius. Kita tetap mendukung NKRI. Jelek-jelek begini, tetap menghargai negeri sendiri. Tidak perlu gugat sejarah. Sudah menjadi takdir Tuhan, kita punya NKRI, harus dijaga. Biar makmur dan mujud.

Seminar kali ini diikuti oleh perwakilan dari Sabang sampai Merauke. Di bawah kepemimpinan Ibu Dr. Pudentia MPSS, ATL tampak ngrembaka dan ngrembuyung. Terbukti tiap mengadakan acara senantiasa gegap gempita, meriah dan menyenangkan. Wajar saja karena priyayi ini supel dalam pergaulan. Bisa momong, momor dan momot. Tiap bertegur sapa menunjukkan sikap akomodatif, komunikatif dan persuasif. ATL benar-benar misuwur, kuncara dan kawentar. Pada kali ini kelihatan betul Bu Pudentia menjadi bintang bersinar terang.

Acara ini dipersiapkan dengan cukup matang. Karena bertaraf internasional, maka sedapat-dapatnya wangun, pantes dan memikat. Dalam kop surat tertera International Seminar On Indonesian Oral Traditions VIII. Tema pokok seminar ini yaitu “Dari Ingatan ke Kenyataan, From Memory to Reality”. Masing-masing tema diperjelas dengan uraian yang meliputi keberadaan Budaya Melayu dan Globalisasi (Malay Culture and Globalization). Bahasan lainnya mengenai Sempadan, Geopolitik, Sejarah Warisan Budaya dan Pengelolaan Tradisi (Border Space, Geopolitics, History Heritage and Safe Guarding of Tradition).

B. Nilai Pendidikan Multikultur Melayu.

Pendidikan toleransi dan multikultur juga ditekankan. Oleh karenanya dibicarakan pula tentang perayaan keberagaman. Dalam hal ini adalah keberagaman hayati, keragaman budaya dan perubahan kebudayaan (celebrating diversity from biodiversity to cultural diversity and cultural changes). Tujuannya adalah memperkokoh identitas dan pembentukan karakter bangsa. Ujung-ujungnya untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan masyarakat (identity and nation character building for peace and prosperity). Begitulah cita-cita luhur yang tetap relevan di era global ini.

Terkait dengan hal itu, perlu deskripsi tradisi lisan di masa depan, penguatan komunitas dan industri kreatif (oral tradition in the future, community development and creative industry). Paparan topik di atas berguna buat penyusunan strategi kebudayaan. Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tentu amat terbantu. Butir-butir kesimpulan seminar ini merupakan dokumentasi sekaligus sosialisasi gagasan cemerlang dalam rangka membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Usaha mulia ini memang memerlukan kerjasama dengan semua pihak. ATL lantas menggandeng Pemerintah Propinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kota Tanjungpinang. Kegiatan kolektif ini juga mengusung Program Revitalisasi Budaya Melayu (RBM) dengan disertai acara Festival Tradisi Lisan Melayu, peluncuran buku terbitan ATL, pameran buku, foto, film, kerajinan rakyat, bazar dan wisata budaya. Sebuah aktivitas yang memadukan untuk praktis dan teoritis.

Pegiat sastra lisan yang berdatangan dari seluruh pelosok tanah air, dengan sendirinya menjadi ajang silaturahmi akademis. Pertukaran informasi cultural ini terjadi semacam persaudaraan pengkaji kearifan lokal. Tiap peserta berusaha mengenalkan keagungan daerah. Dari beragam perspektif lokalitas, terkumpullah bentuk keunggulan yang dimiliki oleh negeri ini. Ensiklopedi berbudaya daerah dapat ditambahkan entrinya. Inilah yang dinamakan dengan proses pembentukan identitas naratif.

Posisi geografis kebudayaan Melayu sungguh strategis. Dalam lintasan sejarah dunia, etnis Melayu telah melakukan kontak diplomatik dengan bangsa-bangsa dunia, sebut saja bangsa Eropa seperti Portugis, Perancis, Inggris, Spanyol dan Belanda. Pulau Sumatra, Malaya dan Kalimantan merupakan komunitas yang banyak dihuni etnis Melayu. Bahkan Semenanjung Malaya banyak dibangun oleh Gubernur Jendral Raffles. Beliau meletakkan dasar-dasar kokohnya kebudayaan Melayu yang berpusat di Singapura. Kejayaan bangsa Singapura tak bisa dilepaskan dari jasa Raffles. Bagi kawasan Asia Tenggara peranannya cukup besar.

Kontak bangsa Melayu dengan bangsa Asia Barat seperti Arab, Mesir, Yordania, Kuwait, Yaman, Irak dan Iran sungguh mewarnai kebudayaan Melayu hingga sekarang. Terutama paham budaya Islam. Mulai dari cara berpakaian, ceritera rakyat dan adat istiadat penuh dihiasi dengan nilai-nilai keislaman. Kepiawaian etnis Melayu dengan petatah petitih, syair dan pantunnya merupakan sarana untuk mengembangkan pendidikan budi pekerti.

Akulturasi dengan bangsa Asia Selatan, terutama negeri India, Bangladesh, Srilanka dan Pakistan. Warna Hindu sebagian berpengaruh pada Hikayat Iskandar Zulkarnain dan Hikayat Seri Rama. Untuk masa kini pengaruh Asia Selatan masih lebih kecil dibanding dengan pengaruh yang berasal dari Timur Tengah. Seolah-olah budaya Melayu identik dengan soal keislaman. Berbeda dengan suku Jawa yang terbentuk oleh kultur Hindu/Budha dan Islam.

Ditilik dari sesi komparatif maka Melayu dan Jawa tampak betul pada figur Soekarno Hatta. Soekarno tokoh Jawa, Hatta tokoh suku Melayu. Cara pandang, filosofis, keyakinan hidup dan aliran pemikiran keduanya sangat berlainan. Tapi demi NKRI yang dijiwai nasionalisme, kedua tokoh yang berbeda pandangan hidup itu rela melebur. Beliau berdua bersahabat erat hingga anak cucu. Perbedaan Jawa Melayu sehari-hari bisa dilihat dari penyajian warung makan Solo dan rumah makan Padang.

Hubungan Melayu dengan Asia Tengah dan Timur diwakili oleh orang Cina, Korea dan Jepang. Hanya bangsa Cina paling dominan. Bahkan sejak zaman Sriwijaya, mahaguru Cina yang bernama U Ching menjadi tokoh menjadi tokoh penyebar agama Budha di Palembang.

Saat itu Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat penyebaran agama Budha yang berpengaruh di Asia Tenggara. Kini banyak suku Melayu yang berakulturasi dengan etnis Cina. Bahkan lebih mengakar sampai di kawasan pedesaan. Berbeda dengan kontak Jawa, hubungan dengan etnis Jawa tampak elitis. Sebatas pada kalangan perkotaan dan bangsawan. Untuk orang desa masih sangat asing dan aneh. Sampai detik ini hubungan itu tetaplah renggang.

Beruntung sekali NKRI punya suku Melayu yang tersebar di penjuru negeri. Identitas kultural Melayu menjadi soko guru, penyangga jatidiri nasional. Bersama dengan etnis lain, keutuhan NKRI turut serta dijaga oleh orang Melayu. Tugas pemerintah untuk menjaga, melestarikan dan menghormati budaya Melayu. Ketahanan Nasional salah satunya adalah melalui unsur kebudayaan. Luasnya kebudayaan Melayu tentu menjadi modal dasar.

C. Pengembangan Literasi Sastra Melayu.

Ulasan tentang warisan budaya Melayu diulas secara khusus oleh Walikota Tanjungpinang, Ibu Suryatati. Kepala Daerah yang peduli pada sastra dan budaya. Buku-buku dengan tema sastra dan budaya telah lahir dari tangannya. Dengan moderator yang pintar berbalas pantun. Busana adat Melayu menambah semarak acara. Tampak para pegawai Gubernuran Kepri dan Pemkot yang mengikuti atasan.

Ketua ATL, Bu Pudentia memberi pengantar. Berbicara di mimbar dengan suara empuk enak didengar. Tak ketinggalan paduan busana yang anggun, berwibawa dan menggema. Pantas sekali jadi penyelenggara acara bertaraf internasional. Seolah-olah Tanjungpinang menjadi pusat perhatian dunia. Layak sekali Tanjungpinang diberi julukan Kota Gurindam Negeri Pantun. Isyarat bahwa kebudayaan Melayu memang gudang kesusasteraan. Lantas teringat Raja Ali Haji, Amir Hamzah. Kini di bawah kepemimpinan Suryatati A Manan, Tanjungpinang menggelar Seminar Tradisi Lisan Nusantara. Dalam kumpulan pantun Majelis, Suryatati berpantun :

Kalau saudara jalan di taman

Ambil sekuntum bunga kamboja

Kalau ingin negara kita aman

Budayakan pantun di mana saja.

Buah pinang memang dibeli zaitun

Warnanya merah terikat katun

Tanjungpinang memang negeri pantun

Kotanya indah masyarakatnya santun.

Kutipan di atas diterbitkan pada tanggal 25 Maret 2012. Beberapa karya puisi buah tangan Suryatati:

1. Melayukah Aku

2. Perempuan Walikota

3. Surat Untuk Suami

4. Perempuan dalam Makna

5. Bual Kedai Kopi

6. Sejak Kita Berjauhan

7. Pantun Majelis

Ditilik dari proses beliau berkarir, jelas pengalaman hidup terlalu berlimpah ruah.

Pejabat Kasubag Setda Kepri Kabupaten. Camat Tanjungpinang

Kepala Dispenda Kepri. Kepala Daerah Tanjungpinan. Walikota Tanjungpinang ini lahir 14 April 1953. Sehari hari bekerja tekun dan total. Saat pidato suara merdu, nyaring. Pidato enak didengar seolah-olah artis alami. Tak lupa selalu menyitir pantun nan elok.

Pemikiran kebudayaan Melayu banyak digagas di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Letaknya sebelah Pulau Bintan. Kira-kira 1 km, naik perahu 30 menit. Pulau Penyengat cukup diatur dalam teritorial kelurahan.

Keistimewaan Pulau Penyengat adalah simbol kejayaan bangsa Melayu pada masa silam. Para raja Melayu menjadikan pulau ini sebagai pusat pemerintahan. Beberapa raja Melayu yang bersangkut paut dengan Kasultanan Riau.

1. Sultan Abdul Jalil 1699 – 1718

2. Sultan Rahmad Syah 1718 – 1722

3. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah 1722 – 1760

4. Sultan Muazam Syah 1760 – 1761

5. Sultan Mahmud Syah 1761 – 1812

6. Sultan Abdul Rahman 1812 – 1832

7. Sultan Muhammad Syah 1832 – 1841

8. Sultan Mahmud Muzaf 1841 – 1857

9. Sultan Sulaiman Badrul 1857 – 1883

10. Sultan Abdul Rahman 1883 – 1911

Cukup banyak pengaruh kawasan ini terhadap daerah Kepulauan Riau, Singapura, Malaysia, Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi. Dulu kerap terjadi diplomasi politik antar bangsawan dengan melalui hubungan perkawinan. Lewat jalur pernikahan politik ini kekuatan mereka bertambah kokoh.

Bagi pengkaji sastra Indonesia terutama sastra Melayu, mesti mengenal Raja Ali Haji. Pengarang Gurindam Dua Belas. Pujangga ini sungguh cerdik dan mengagumkan. Siswa SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi terlampau familier dengan nama Raja Ali Haji. Di pulau inilah makam Ali Haji diabadikan dan dikunjungi peziarah.

Kesempatan emas buat pengkaji sastra klasik bertepuk tangan dengan penyelenggaraan seminar Tradisi Lisan. Mereka melacak kebenaran Raja Ali Haji yang telah menyusun kaedah tata bahasa, ejaan dan kamus. Beliau berhasil mengangkat bahasa Melayu sebagai dasar Bahasa Indonesia.

Kitab kitab Naskah Kuno tentang budaya Melayu banyak disimpan di Pulau Penyengat. Peneliti utamanya adalah Mujiyah Bambah Widiatmoko. Beliau berkali kali datang di pulau ini untuk mengadakan penelitian. Kebetulan para penduduk setempat yang masih keturunan raja mempunyai koleksi kitab kitab klasik.

Pulau Literer boleh diberikan sebagai gelar kehormatan pada Pulau Penyengat. Di sinilah peradaban besar amat berpengaruh pada perkembangan bangsa Indonesia. Strategis kebangsaan harus dimulai dari Pulau Penyengat. Kita tidak tahu, strategi macam apa lagi tanpa jasa Raja Ali Haji. Berbahagialah masyarakat Tanjungpinang yang punya pujangga ulung. Karya-karya harus wangi menghiasi ibu pertiwi.

Perlu kiranya diadakan revitalisasi atas peran Kasultanan Riau hingga yang berpusat di sekitar Tanjungpinang. Kebesaran, kewibawaan, kejayaan, keemasan, keagungan, keluhuran bangsa Melayu Riau hingga secepatnya dipulihkan. Para pecinta budaya harus bekerja keras, supaya budaya penting ini tidak hilang. Jangan sekedar jadi pajangan, tontonan demi wisata. Tapi tetap demi wibawa budaya.

Pada tahun 1890 dibangun sebuah percetakan “Mathba’atul Riauwiyah” yang menerbitkan buku-buku bermutu. Bangsawan Melayu menjunjung tinggi nilai moralitas, integritas dan intelektualitas. Bahkan mereka membuat organisasi Rusyidah Klab. Sebuah paguyuban yang menjadi aktivitas berpikir, pengkajian, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Boleh dikatakan bahwa Tanjungpinang merupakan pusat peradaban dunia. Kita memberi apresiasi, perhatian demi pelestarian. Sungguh kemuliaan apabila masyarakat setempat diberi kesempatan untuk tumbuh dan melanjutkan nilai agung leluhurnya. Jangan hanya menjadi pemandu wisata kita perlu menyusun strategi yang efektif.

D. Suasana Adat Istiadat Melayu Kepri.

Tuan tuan dan Puan puan, begitulah sapaan kehormatan dalam seminar ATL kali ini. Untuk sapaan laki-laki menggunakan sebutan Bang. Untuk wanita digunakan sebutan Cik. Di seluruh Nusantara ini memang banyak sapaan akrab dan kehormatan. Misalnya Cak, Rek dan Ning untuk Jawa Timur. Jeng Mas untuk Jawa Tengah. Teteh dan Bung untuk Jawa Barat. Untuk Sumatra Barat ada sebutan Uni. Di Gorontalo dikenal Tata. Bli untuk daerah Bali. Daeng dan Karaeng untuk Sulawesi Selatan.

Tanjungpinang banyak nama yang berasal dari Bugis. Ternyata dulu banyak bangsawan Melayu yang menjalin kekerabatan dengan suku Bugis. Tiap kali ada konflik politik di kerajaan Melayu, maka pembesar Bugis diundang untuk turut serta mendamaikan. Juru runding antar suku ini sekaligus faktor perekat kebangsaan. Nasionalisme Indonesia punya akar historis yang cukup kuat. Sejarah perlu mengungkap kontak kultural ini. Bila dapat, dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.

Jatidiri yang dibangun atas dasar nilai historis lebih terasa membanggakan. Kegelapan masa silam cuma membuat mental rendah diri. Pikiran minder menghadapi dunia luar. Terlebih-lebih generasi muda, masa depan dianggap begitu suram. Tidak ada harapan. Tentu ini harus dicegah. Nenek moyang kita dulu punya prestasi keemasan lampau dikenang kembali, supaya bersinar menghadapi hari esok. Para pelajar di seluruh nusantara kita gugah perasaannya, kita bahas semangatnya. Bahwa kehidupannya nanti bertambah terang benderang.

Sejenak menoleh kehidupan negeri tetabgga. Singapura adalah pusat bisnis Asia Tenggara. Orang berbondong bondong ke Singapura untuk belanja. Pejabat Indonesia pating kemruyuk ke sini. Urusan diplomasi, liburan, demi gengsi, cari wah, sok modern dan supaya dianggap warga dunia. Semua sepakat bahwa Singapura dapat dijangkau dengan modal. Lewat Jakarta, Yogya, Surabaya dan semua ibukota propinsi serba tersedia. Singkat kata rute penerbangan amat ramai dan tersedia.

Menurut sejarah Negeri Singapura dulu dipimpin oleh para Raja Melayu. Takdir bahwa Malaya jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Kisruh di Semenanjung Malaka ini mengundang penguasa dari Demak untuk membantu penyerangan raja Melayu. Dia adalah Pangeran Sabrang Lor atau Adipati Yunus. Berangsur angsur Malaka di bawah pemerintahan Inggris selama berabad-abad.

Sedangkan untuk kawan Sumatra dan Kepulauan Riau dijajah Belanda. Nasib kedua kekuasaan Malaya ini pun berbeda. Singapura tumbuh menjadi kota perdagangan yang maju dan modern. Dunia menoleh Singapura sebagai tempat singgah. Kemana saja terbang, Singapura adalah tempat transit yang cocok.

Kalau dipikir panjang, Singapura punya apa? Wilayah sempit, pantai sedikit, gunung minim, sumber daya alam tidak ada. Tetapi kenapa bisa makmur. Jawabnya adalah keberanian dan ketegasan sikap dalam berhadapan dengan Indonesia. Terus terang Singapura amat tidak memberi untung apa-apa pada RI. Bila perlu RI dikuras habis habisan. Tidak ada perasaan. Kita harus mau introspeksi.

Tanah di Singapura begitu sempit. Sumpek rasanya. Tidak ada ruang yang luas dan bawera. Negeri yang amat kecil dan sempit. Untuk hidup mat-matan tentu tidak mungkin. Tiap hari warganya ngoyo dan kemrungsung. Cari duit, cari duit. Tumpuk uang sebanyak banyaknya. Akal diputar terus.

Kekayaan yang diperoleh dengan akal-akalan menciptakan kepanikan. Dirinya akan curiga terus pada orang lain. Dengan dalih ketertiban, peraturan yang kaku dan ketat diterapkan. Dua kawasan yang berdekatan, tetapi punya aturan yang amat berlainan. Tanjungpinang egaliter, terbuka dan demokratis. Sementera negeri Singapura menerapkan peraturan yang kolot. Betul sekali bahwa rakyatnya cuma butuh makan, tetapi tata sosial demikian lambat laun terkikis juga.

Apabila ditelusuri lebih lanjut, sebenarnya banyak kejanggalan. Singapura tak punya sawah, ladang, laut, gunung, kerajinan dan pabrik. Mereka semata mata jual jasa dan bisnis. Kadang-kadang menggelikan. Barang produk Yogya, dijual di Singapura, tetapi yang beli orang Bantul, Sleman, Wonosari dan Gunung Kidul. Batik asal Solo di jual di Singapura, yang beli orang Boyolali, Sragen, Klaten, Wonogiri dan Sukoharjo. Sepatu buatan Bandung dijual di Singapura yang beli orang Tasikmalaya, Garut dan Ciamis.

Bisnis tipu menipu berlangsung terus. Batam, Kepri, Dumai, Lingga dan sekitarnya diperalat Singapura. Bangka Belitung sudah lama dikuasai, Sumatra Daratan dieksploitasi. Sungguh tidak enak bertetangga seperti ini. Indonesia itu besar, tetapi dipermainkan negara kecil. Malah dianggap remeh. Seolah olah Singapura itu atasan Indonesia. Citra sudah menjadi keyakinan umum. Elit politik, bisnis dan militer bermarkas di Singapura.

Orang Melayu yakin bahwa Singapura adalah tanah leluhur dan daerah kekuasaannya. Sekarang mereka tersingkir, tersungkur dan tergusur. Pendatang menjadi penguasa mutlak. Dunia ini cuma dibatasi soal ekonomi. Eksistensi bidang lain dianggap tidak ada. Elektronik, teknik dan politik bersatu. Berbungkus barang modern dan atas nama kemajuan alam agraris dan tradisi dijatuhkan. Tapi ingat, benda-benda alam itu menyehatkan. Segala bentuk rekayasa genetika tak ubah sampah. Polusi yang mengganggu peradaban.

Orang Melayu punya peradaban besar. Jangan ditukar dengan baru. Pengalaman berabad abad jangan ditukar benda sesaat. Nanti akan menyesal. Keaslian kita jaga. Itulah jalan yang benar.

Kebudayaan dengan akarnya memperkokoh kepribadian. Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi kebudayaan Melayu terkait dengan faktor historis. Identitas naratif dan kearifan lokal. Dari perspektif historis kebudayaan Melayu mempunyai akar kesejarahan yang panjang, dalam konteks pergaulan antar bangsa.

Ditinjau dari aspek sosiologi masyarakat Melayu telah mewarnai suku-suku besar yang ada di Tanah Air. Melayu Palembang, Bangka Belitung, Padang, Riau, Deli Serdang, Aceh dan Medan merupakan bentuk komunitas yang khas dan harmonis. Demikian penyebaran suku Melayu di Semenanjung Malaka, Singapura dan Malaysia mempunyai ciri yang kokoh. Termasuk suku Melayu di kawasan Phatan Thailand. Hal serupa terjadi di Pulau Kalimantan serta Sulawesi, keberadaan budaya Melayu sungguh memberi kontribusi positif.

Identitas naratif Melayu menjadi sumbangan berharga bagi kokohnya jatidiri bangsa. Nilai-nilai luhur bangsa Melayu bisa menjadi tuntunan hidup, buat menggapai keselarasan, keserasian dan keseimbangan.

Propinsi Kepulauan Riau kaya tentang kearifan lokal. Dengan mengkaji budaya Melayu secara sistematis, integral dan komprehensif diharapkan memperkuat tali persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian