Sejarah Provinsi Bengkulu

Rotasi kepemimpinan soal rutin. Kini ada koalisi pilihan Gubernur yaitu pasangan yang ideal. Mereka adalah Sultan Najamudin – Mujiono. Tokoh asli Bengkulu menggandeng tokoh kelahiran Boyolali Surakarta. Uda Jamaris dan Teh Adel siaran budaya Jawa dengan semangat.

Ternyata nilai budaya itu tetap relevan pada dunia mutakhir. Sejarah, seni, sastra, budaya Jawa kaya nilai etis filosofis. Nara Radio mempunyai pendengar yang beragam. Desa, kota, kelas bawah, kelas menengah dan elit menjadi penggemar siaran Nara Radio. Kebetulan sekali Pak Mujiono punya teman Jawa transmigrasi. Dengan demikian materi Nara Radio diterima publik Bengkulu dan mengakar sampai pelosok desa.

Siaran budaya berlangsung mengena. Sabtu sore 14 November 2015 sekitar pukul 16.00 sampai 17.00 siaran dengan lagu lagu kenangan. Kadang kadang diselingi lagu dangdut ciptaan Rhoma Irama. Rekaman lagu disiarkan. Waktu luang digunakan untuk keliling pedesaan. Kebetulan ada sepeda motor nganggur. Pemiliknya adalah Uda Jamaris. Beliau mempersilahkan untuk menggunakan.

Dengan senang hati, jalan jalan sore sambil menghirup udara segar di Bengkulu. Tak lupa beli gorengan tahu tempe di pinggir jalan. Sudah barang tentu penjualnya adalah mbak-mbak tanah Jawa.

Sebelah belakang Nara Radio sejak pukul 14.00 sudah berkumpul tim sukses Sultan Bahtiar Najamudin – Mujiono. Mereka berkumpul untuk menyamakan gerak langkah, pikiran, perjuangan, konsep dan aplikasi. Harapan mereka menyatunya tokoh Melayu Jawa akan membawa masa depan lebih gemilang. Budaya Jawa dan budaya Melayu saling mengisi dan saling melengkapi. Bengkulu menjadi lebih kokoh, terkenal, harum dan cemerlang.

Hawa di Bengkulu boleh dibilang panas. Maklum dekat dengan pantai. Ada pantai yang indah dan menjadi objek unggulan pariwisata propinsi Bengkulu. Namanya Pantai Panjang. Tapi harus diakui bahwa tingkat kunjungan wisata ke propinsi Bengkulu perlu ditingkatkan lagi. Orang berkunjung ke Bengkulu bisa ditebak umumnya tilik keluarga transmigrasi. Betapa banyak keluarga Jawa yang bertransmigrasi ke daerah Bengkulu. Kedatangan orang Jawa yang mengunjungi sanak famili boleh dinamakan kunjungan wisata transmigrasi.

Potensi wisata transmigrasi sudah berlangsung puluhan tahun. Keluarga transmigrasi yang punya gawe mantu, sunatan, penobatan, pelantikan akan dikunjungi keluarga dari Jawa. Mereka datang bersama rombongan besar. Sudah barang tentu nama Bengkulu tambah moncer.

Barang kali wisata transmigrasi di Bengkulu merupakan wujud wisata terbesar di Indonesia. Wisata transmigrasi termasuk wisata alamiah yang tidak memerlukan energi promosi. Prosesi dan kebiasaan tinggal diberi fasilitas yang memadai. Pemerintah propinsi Bengkulu mendapat keuntungan.

Penerbangan di Bandara Fatmawati Bengkulu 12 kali sehari. Transportasi udara lancar. Tinggal memberi pelayanan maksimal transportasi darat. Bus umum perlu dijamin keamanan, biro travel dipermudah. Lalu lintas yang mengangkut produk pertanian ditata, dikelola, diatur dengan rapi. Para perantau Bengkulu yang berada di luar daerah dijak rembugan. Mereka pasti mendukung Bengkulu.

Bambang Ari Purnama, tokoh Seluma Bengkulu
Beliau adalah pendukung pasangan Sultan – Mujiono. Ketua DPC PBB Kabupaten Seluma Bengkulu ini pernah belajar di Surakarta.

Katanya di sana banyak makanan enak dan murah. Memang betul. Ngobrol sampai larut malam di Najamudin Community. Mereka relawan yang tersebar di seluruh propinsi Bengkulu. Malam itu benar benar ramai.

Acara budaya terus terjadi. Hari Minggu, 15 November 2015. Sesuai dengan rencana bahwa hendak dilakukan rekaman tentang sejarah hubungan Jawa Melayu. Kemungkinan besar para penyiar masih tertarik dengan sisi historis peradaban Melayu Jawa pada masa silam. Ternyata cerita sejarah itu tetap aktual dan menarik hati. Dengan tahu sejarah wawasan menjadi lebih kaya. Referensi hidup bertambah luas. Malah bisa dikatakan sebagai wisata historis.

Masa silam perlu diagungkan, dipuja atau glarifikasi. Mulai pukul 10.00 siaran lagi tentang budaya Jawa. Dipandang dari sisi historis filosofis sosiologis. Historis terkait dengan aspek kesejarahan. Filosofis terkait dengan aspek kesusilaan. Sosiologis terkait dengan aspek kemasyarakatan. Ketiga perspektif tersebut untuk membaca perjuangan Sultan Najamudin dan Mujiono. Dengan menyadari aspek historis filosofis sosiologis maka kerjasama antar keduanya semakin kokoh.

Masyarakat Bengkulu menyadari arti penting koalisi kultural. Dengan diiringi lagu Jawa dialog di Radio Nara amat menarik. Rupa rupanya Nara Radio banyak penggemar dan relawan. Ada saja orang datang bawa makanan, minuman, oleh-oleh.

Tamu kehormatan pada hari Minggu 15 Novembe 2015 yaitu Jeng Srikandi, usia 50 tahun. Beliau aktif di bidang seni budaya. Kerap menjadi bintang tamu di acara relevisi Bengkulu.

Iklan sosial budaya kerap dia lakukan. Di Bengkulu nama Srikandi cukup tenar. Tiap hari ada saja pentas dan pagelaran. Mulai dari MS mantenan, melawak dan penjual gaya humor.

Sempat mengantar untuk mencari nasi padang. Beliau bersedia menjadi sopir. Demi makan siang. Waktu kira kira pukul 15.00 lantas ke jalan Suprapto untuk mencari peralatan radio. Teteh Adel dan Jeng Srikandi dari toko ke toko mencari benda elektronik. Biasa kaum hawa belanja pilah pilih dan waktu lama. Jemu juga. Dua jam lamanya mencari barang di toko dan dapat. Tidak ketinggalan beli kaos cap kota Bengkulu.

Acara santai dilanjutkan dengan makan tahu gejrot di tepi Pantai Panjang. Di tengah jalan Jeng Srikandi berdialog tentang pengembangan seni budaya Bengkulu. Lantas ada usul pembentukan organisasi seni budaya. Namanya Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu. Disingkat Pamasjalu. Organisasi ini akan dilegalkan lewat akte notaris. Bila perlu diminta legalitas dari Kemenkumham. Legalitas ini penting buat rencana kegiatan yang berkaitan dengan birokrasi pemerintah.

Siaran radio pada petang dan malam hari. Sekitar pukul 22.00 perut sama lapar. Berburu kuliner di kota Bengkulu. Pandang kiri kanan dapatnya pecel lele Mas Eko. Berulang kembali. Menu dari Kabupaten Lamongan mengepung kota Bengkulu. Pesan nasi uduk dibungkus. Puas, lahap dan kenyang. Sambel, sajian, cara masak, tenda, kursi warung pecel lele hampir sama.

Hampir semua kota di Indonesia terdapat sajian pecel lele gaya Lamongan. Hanya kota Surakarta yang sedikit ada pecel lelenya. Maklum di sini pusat kuliner.
Hujan rintik rintik sejak sore mengisi perjalanan keliling kota Bengkulu. Di sepanjang jalan tampak gedung Walikota, gedung Gubernuran, Taman Budaya Bengkulu, Simpang Lima. Tidak ada macet, jalan dengan sangat lancar. Di Bengkulu jalan jalan lebar tetapi mobil, motor belum padat. Rombongan berhenti sebentar di rumah tempat pembuangan Presiden Soekarno tahun 1942. Beliau ditawan oleh pemerintah Belanda. Juga rumah asli Ibu Fatmawati Soekarno di Bengkulu. Rumahnya terbuat dari kayu bertingkat.

Dari percakapan rombongan pecel lele terungkap sebuah pendapat yang cukup radikal. Kota yang tidak pernah dikelola oleh Belanda pasti terbelakang, tidak maju, jelek dan terasing. Kota yang pernah dipimpin Belanda ternyata lebih terkenal, rapi, bagus, tertib, indah, wibawa, nyaman. Pendapat kontroversial ini perlu menjadikan perhatian, setidak tidaknya bahan untuk refleksi dan introspeksi.

Hujan amat derat sejak dini hari. Saat itu hari Senin tanggal 16 November 2015. Hingga pukul 9.30 hujan tetap mengguyur tanah Bengkulu. Problem baru muncul lagi. Kemarin kemarau panjang. Orang berkeluh kesah soal asap, kekeringan dan kekurangan air. Tiap hari televisi, radio, koran tak bosan bosannya memberitakan kemarau panjang. Kadang-kadang salah berita.

Kemarau memang diharap oleh petani tembakau, melon, bawang merah, mangg dan randu. Semakin panas hawanya, maka buahnya makin berkualitas. Sebentar lagi hujan akan menimbulkan berita yang kurang sedap. Di mana mana air menggenang. Bahkan meluap jadi banjir. Rutinitas ini berlangsung terus. Seolah-olah terjadi goblok kolektif di negeri ini.

Penjaga kawasan Najamudin Community menunggu hujan reda. Bisa diceritakan keadaan Yayasan Nuraini Najamudin. Kompleks ini terdapat lembaga belajar SDIT. Murid-muridnya berasal dari beragam sosial. Di sebelahnya penampungan anak yatim piatu.

Panti asuhan ini menampung anak anak dari keluarga yang tidak mampu. Lantas bangunan masjid untuk beribadah. Kanan kiri taman yang diatur indah. Bambu hias, bunga dan kelapa sawit. Tak ketinggalan kalau renang untuk fasilitas olahraga. Lapangan tenis, volly, badminton, sepakbola, layang-layang. Fasilitas olahraga memadai.

Bagi tamu yang ingin menginap tersedia kamar tidur beserta kamar mandi. Jumlahnya cukup banyak. Lebih nyaman tinggal di sini daripada tinggal di hotel. Tempatnya di bukit dan dataran tinggi, lampu kerlap-kerlip kota Bengkulu terlihat indah. Untuk acara pertemuan disiapkan ruang rapat. Ruang-ruang itu cukup untuk pertemuan sesuai dengan keperluan acara. Manajemen rumah tinggal dengan fungsi publik sungguh ideal.

Radio menjadi alat komunikasi. Pukul 10.30 Jeng Sri datang di Radio Nara. Bawa mobil mau antar keliling Bengkulu. Terlebih dulu beli 2 bungkus nasi padang. Untuk bekal perjalanan. Tidak lupa beli gorengan di pinggiran kota, sebungkus pisang goreng, gethuk, tela cukup untuk mengisi perut.

Suasana jalan Bengkulu masih lengang. Tidak dijumpai kemacetan yang mengular. Gedung gedung tak tampak bertingkat. Biar aman saat gempa. Sudah cocok.

Bengkulu terus membangun. Tepat pukul 12.00 dilakukan siaran budaya Jawa di Nara Radio. Temanya gotong royong, gugur gunung, bersatu padu, manunggal. Paguyuban masyarakat Jawa di Bengkulu atau Pamasjalu bersama sama untuk memandang masa depan yang lebih baik. Maka perlu satunya langkah, gerak, cita-cita dan harapan. Dari udara berkumandang lagu Gugur Gunung.

Ayo kanca ayo kanca
Ngayahi pakaryan praja
Kono kene kono kene
Gugur gunung tandang gawe
Sayuk sayuk rukun
Bebarengan ro kancane
Lila lan legawa
Kanggo mulyaning negara

Siji loro telu papat
Bareng maju papat papat
Diulung ulungake murih enggal rampung
Holobis kontul baris
Holobis kontul baris.

Pengembangan budaya terjadi pada masa berdirinya Propinsi Bengkulu sejak tahun 1967. Ada kota Bengkulu, serta Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kaur, Kapahiang, lebong, Muko Muko, RejangLebobg, Seluma.

Pemimpin dan rakyat selalu seoakat. Kemajuan Propinsi Bengkulu diraih setahap demi setahap secara beraturan.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *