Liputan KOLOM

Sejarah Provinsi Bengkulu

Ditulis oleh Liputan68 pada 23 Desember 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

A. Berdirinya Propinsi Bengkulu.

Daerah Bengkulu pada jaman dulu dibina oleh Kerajaan Inderapura, yang berkuasa tahun 800-1911. Berturut turut Kerajaan Air Pura, Inderajati dan Inderapura.

Kerajaan yang terdapat di wilayah Bengkulu berjenis jenis. Sebut saja Kerajaan Sungai Serut, Patpetulai, Balai Buntar, Sungai Lemau, Sekiris, Gedung Agung, Mau Riang. Semua kerajaan ini mendapat pembinaan dari Kasultanan Banten sejak tahun 1685.

Propinsi Bengkulu lahir berdasarkan UU no 9 tahun 1967. Berturut turut para Gubernur Bengkulu yang memerintah dengan bijak bestari.

1. Ali Amin 1968-1974.
2. Abdul Chalik 1974-1979.
3. Suprapto 1979-1989.
4. Razie Yahya 1989-1994.
5. Adjis Ahmaf 1994-1999.
6. Andi Djalal Bahtiar 1999-1999.
7. Hasan Zen 1999-2004.
8. Seman Widjoyo 2004-2005.
9. Agusrin Maryono Najamuddin 2005-2012.
10. Junaidi Hamzah 2012-2015.
11. Suhajar Diantoro 2015-2016.
12. Ridwan Maluk 2016-2017.
13. Rohidin Mersyech 2017-2022.

Latar sosio historis menjadi bahan renungan. Kunjungan budaya di Bengkulu tanggal 13-16 November 2015. Perkenalan dengan daerah Bengkulu sudah dimulai sejak tahun 1979. Program transmigrasi sedang gencar gencarnya dilakukan di Jawa. Kebetulan sekali pejabat Gubernur saat itu adalah Bapak Soeprapto. Beliau pernah menjadi Bupati di Kabupaten Nganjuk. Tidak mengherankan apabila warganya berbondong-bondong menyusul sang Bapak. Perasaan emosional terbangun seolah-olah Nganjuk – Bengkulu amat dekat. Sukses kepemimpinan Bapak Soeprapto berpindah lokasi ke daerah Bengkulu. Dengan sukarela warga Nganjuk bertransmigrasi.

Jarak Nganjuk – Bengkulu terlalu jauh. Pergi untuk bertransmigrasi berarti berpisah untuk selama lamanya. Ketika mau berangkat tentu saja ada rasa haru, kehilangan dan hujan tangis.

Kalimat yang menghibur : ing kana kene tetep bumine Gusti Allah. Padha wae, sing penting slamet seger waras. Begitulah ungkapan yang mujarab untuk menjalankan perpisahan. Rombongan dari desa Mojorembun Rejoso Nganjuk jumlahnya cukup banyak. Dapat disebut di sini keluarga Sarimo, Kadi, Giyar, Madi, Jalal, Bari, Yayuk, Gombak, Sumirah, Naryo, Padi, Puji. Pada kenyataannya mereka berkunjung ke daerah asal sekali dua kali. Bahkan ada yang sampai akhir hayat belum pernah kembali ke desa.

Transportasi tersedia bus lintas Jawa Sumatra yang perlu waktu tempuh 3 hari 3 malam. Perjuangan lewat darat perlu kesabaran. Lantas menyeberang laut. Telpun belum akrab digunakan. Apalagi hp kalau ada berita penting baru disampaikan lewat telegram. Warga transmigran untuk bisa tilik kampung halaman adalah sebuah kemewahan. Contoh perantau yang sudah senior di Lampung adalah Darmi dan Darmo. Setelah 20 tahun merantau, baru pulang ke kampung. Isak tangis pun meledak. Orang berpikir Sumatra itu tempat yang amat jauh. Sulit dibayangkan alam pikiran petani yang dibatasi oleh sawah dan tanaman.

Kini situasi berubah. Berita apa pun mudah tersebar melalui Hp dengan segala kelengkapan. Hubungan keluarga menjadi amat dekat. Kapan saja dan di mana saja bisa sambung. Seiring itu kendaraan pesawat terbang tersedia murah. Tiap hari berkunjung pun dapat asalkan ada tiketnya. Umumnya harga tiket bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Teknologi informasi dan transportasi betul-betul mengubah imajinasi, geografis dan emosi. Sambang sambung srawung berubah pola dan bentuk.

B. Bengkulu Menjadi Tujuan Program Transmigrasi.

Transmigrasi merupakan program pemerintah yang populer sekitar tahun 1970. Definisi transmigrasi menurut guru geografi SMP adalah proses perpindahan penduduk dari satu pulau ke pulau lain dalam satu negara.

Pola pikir anak anak malah tertuju pada lapisan bawah lemah. Orang Jawa ini dipindah oleh pemerintah ke luar pulau Jawa. Mereka tidak punya apa apa di Jawa. Oleh karena itu perlu diberi tanah yang cukup di luar Jawa. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya menjadi tujuan program transmigrasi.

Kebanyakan peserta transmigrasi itu adalah buruh tani. Mereka bertani tanpa punya tanah. Pemerintah menolong nasibnya dengan program transmigrasi. Harapan itu memang mulia.

Pengertian transmigrasi ala guru SMP itu menimbulkan masalah. Apakah pelancong dari Jawa ke Bali tiap hari itu disebut transmigrasi. Pejabat yang berpindah pindah dari satu pulau ke pulau lain juga dinamakan transmigrasi? Anak anak luar Jawa yang kuliah di Yogyakarta juga termasuk transmigrasi. Inilah problem definisi yang mentah.

Oleh karena itu pengertian yang bikin kacau pikiran anak anak. Apalagi program transmigrasi sekarang tidak populer. Anak muda tidak tertarik lagi.

Di banding dengan daerah Kalimantan, Sulawesi dan Papua barangkali Bengkulu amat terkenal di telinga orang Nganjuk. Transmigrasi dari Nganjuk jumlahnya ratusan ribu orang. Mereka beranak pinak di Bengkulu, sehingga orang Jawa jumlahnya lebih dari 80%. Tiap pilkada, untuk pilihan bupati atau gubernur, komunitas Jawa menjadi ajang rebutan. Suara mereka menentukan dalam pilkada.

Embok Yatinem, perempuan desa yang kerap nembang lagu transmigrasi. Syairnya demikian :
Ayo budhal transmigrasi
Ben ndang sugih jagung pari
Sawahe sing amba
Aneng luar Jawa

Sungguh aneh, Embok Yatinem pula yang tidak tertarik sama sekali untuk pergi ke luar Jawa. Analisa dia transmigrasi kurang bisa menguntungkan. Transmigrasi berarti babad alas. Seperti orang buka mbaon atau ladang. Membuka lahan baru perlu energi berlipat ganda. Hitung hitungan ekonomi lebih baik tinggal di Jawa.

Kenangan dengan gadis Bengkulu yaitu Mbak Yeni Haspalnida. Dia adalah mahasiswi jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UGM. Seangkatan dengan Agus Erwan Sulaiman, Heni Ngawi yang masuk pada tahun 1990. Ada lagi dosen Universitas Bengkulu yang bernama Syuplahan Gumay. Orangnya rendah hati dan lucu. Kalau omong pengucapannya selalu mleset. Beliau alumni Fakultas Filsafat UGM program Sarjana dan Magister.

C. Potret Sosial Budaya Masyarakat Bengkulu.

Masyarakat Bengkulu punya seni budaya yang mengagumkan. Ambil contoh seni tari penyambutan, tombak kerbau, putri gadibg cepaka, Andun, kejei, bidadari menimang anak, topeng. Tari tarian Bengkulu ini kerap pentas.

Pengenalan musik meliputi musik dal, geritan, serambeak, andai andai, sambei. Permaiban musik ini menghasilkan bunyi merdu. Asyik sekali bila didengar sambil istirahat.

Pengkajian budaya dilakukan oleh tim LOKANTARA. Hari Jumat tanggal 13 November 2015 berangkat dari Yogyakarta pukul 7.30. Penerbangan Yogya-Jakarta berjalan lancar. Transit di Bandara Cengkareng Jakarta, beristirahat agak lama. Sekitar 14.30 penerbangan dilanjutkan ke arah Jakarta Bengkulu. Dari angkasa terlihat awan gemawan. Mendung di bawah pesawat memantulkan cahaya matahari keputih-putihan. Tepat pukul 16.00 pesawat mendarat, hitam legam seperti berkabut.

Tanah Bengkulu yang menjadi tujuan orang Jawa transmigrasi menjadi kenyataan. Alhamdulillah. Pesawat mendarat dengan aman. Awan mendung tidak disertai dengan hujan. Dari pesawat yang berjalan pelan kelihatan kelapa sawit, pemukiman, menara masjid, perkebunan, rerumputan. Bandara di Bengkulu sebesar Bandara Adi Sucipto. Suasana tidak begitu ramai. Justru tampak anggun dan indah.

Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu besarnya mirip dengan Bandara Kendari. Taksi bandara siap mengantar. Jumlah taksi terbatas, sehingga tidak banyak pilihan. Tanpa harus tawar menawar, langsung saja sepakat untuk menuju penginapan. Dicari penginapan yang dekat dengan transportasi angkot, pasar dan terminal. Dengan tujuan mobilitas, aktivitas serta produktivitas berjalan lancar. Dapatlah penginapan Sindu atau Sinar Dunia, Jl. Salak Raya 293 Bengkulu. Hujan deras mengguyur.

Untuk mengisi waktu luang, segera keliling kota Bengkulu dengan angkot. Pasti harganya murah. Masih dapat dua angkot dengan nomor khusus Kota Bengkulu mempunyai enam jalur 1. Jalur A warna merah. 2. Jalur B warna biru. 3. Jalur C warna hijau. 4. Jalur D warna putih. 5. Jalur E warna kuning.

Begitulah menejemen angkutan kota yang tertib. Kira kira pukul 17 malam gerimis rintik rintik menghiasi Bengkulu. Kendaraan lengang. Pusat perbelanjaan agak sepi. Di pinggir jalan berderet deret penjual pecel lele. Orang Lamongan memang njajah desa milang kori di bumi nusantara. Tiap kota pasti disinggahi. Pecel lele, bebek goreng dan soto babad.

Turunnya hujan itu sekaligus menandai lenyapnya asap yang menjadi isu nasional. Wilayah Bengkulu juga tak lepas dari bencana asap. Pernah bandara tutup gara-gara asap yang menutupi jarak pandang. Tiap tahun bencana asap terus berulang. Hutan dan perkebunan ada yang sengaja membakar.

Pagi pagi kegiatan di kota Bengkulu dimulai. Hari Sabtu 14 November 2015, setelah makan pagi dengan sayur lodeh segera cari angkot warna kuning. Rutenya cukup jauh. Dari penginapan menuju pantai pulang pergi sekitar 2 jam. Cukup kasih ongkos Rp. 20.000. Perjalanan keliling kota lumayan enak. Tidak macet. Anak-anak sekolah dan kantor sudah lewat. Sementara waktu baru pukul 10.30 pagi. Jalan-jalan boleh dikatakan lengang. Di Bengkulu angkot mau mengantar sampai di depan rumah penumpang.

Sambil jalan sopir mesti memberi informasi penting. Berbeda dengan suasana kota Palembang, Tanjungkarang, Riau, Medan dan Pekanbaru. Kota Bengkulu menunjukkan khas kota pertanian Jawa. Dinamika perkembangan kota terlihat santai. Perkotaan cocok untuk pertanian. Interaksi dengan modernitas sebatas pada benda-benda teknologi. Sopir angkot yang berasal dari Padang dan Palembang mengatakan bahwa bangunan peninggalan Belanda umumnya kokoh, kuat, indah. Contohnya bangunan benteng Bengkulu. Elok sekali sudah beratus-ratus tahun lamanya tetap anggun.

Kegiatan Lokantara lancar. Pukul 12.00, Sabtu tanggal 14 November 2015 diundang oleh Bapak H. Agusrin. Beliau mantan Gubernur Bengkulu yang lincah, ramah dan cekatan. Punya pusat aktivitas di Yayasan Agusrin di Puncak Dataran tinggi Bengkulu. Di sana kami lakukan siaran radio. Pertama tentang kebudayaan Jawa. Untuk orang tua diberi sajian lagu tembang macapat. Untuk anak muda disajikan lagu dolanan yang meriah.

Nama Radio 901 FM mengudara di kawasan tertinggi kota Bengkulu. Bertempat di area yang cukup luas, berbukit bukit, sejuk, dikelilingi pepohonan. Suara burung berkicau menghiasi tempat yang tenang dan hening. Cocok untuk refleksi dan kontemplasi. Di sini tertera nama Najamudin Community. Lembaga ini dibina oleh Bapak Agusrin M. Najamudin. Mantan Gubernur Bengkulu tampak sibuk dalam bidang seni budaya.

Dua orang penyiar Nara Radio 901 FM yaitu Uda Jamaris dan Teh Adel. Kedua orang ini cukup dinamis dalam menghidupkan radio Nara. Uda Jamaris dan Teh Adel begitu profesional dalam mengisi acara Nara radio Bengkulu. Ada nama pendengar yaitu Riwon dan Waty. Keduanya senang dengan kebudayaan Jawa.

Hubungan Jawa Sumatra sudah berlangsung lama. Sejak jaman kerajaan Singasari. Raja Kertanegara mengirim Expedisi Pamalayu. Pulangnya membawa putri Melayu yang bernama Gayatri. Nanti diambil istri oleh Raden Wijaya. Pada jaman kerajaan Majapahit Adityawarman, teman Gajahmada diutus ke kerajaan Pagaruyung. Pada jaman kerajaan Demak ada hubungan dengan kerajaan Palembang. Jaman Mataram Sultan Agung mengutus Syekh Jangkung ke Palembang.

Rotasi kepemimpinan soal rutin. Kini ada koalisi pilihan Gubernur yaitu pasangan yang ideal. Mereka adalah Sultan Najamudin – Mujiono. Tokoh asli Bengkulu menggandeng tokoh kelahiran Boyolali Surakarta. Uda Jamaris dan Teh Adel siaran budaya Jawa dengan semangat.

Ternyata nilai budaya itu tetap relevan pada dunia mutakhir. Sejarah, seni, sastra, budaya Jawa kaya nilai etis filosofis. Nara Radio mempunyai pendengar yang beragam. Desa, kota, kelas bawah, kelas menengah dan elit menjadi penggemar siaran Nara Radio. Kebetulan sekali Pak Mujiono punya teman Jawa transmigrasi. Dengan demikian materi Nara Radio diterima publik Bengkulu dan mengakar sampai pelosok desa.

Siaran budaya berlangsung mengena. Sabtu sore 14 November 2015 sekitar pukul 16.00 sampai 17.00 siaran dengan lagu lagu kenangan. Kadang kadang diselingi lagu dangdut ciptaan Rhoma Irama. Rekaman lagu disiarkan. Waktu luang digunakan untuk keliling pedesaan. Kebetulan ada sepeda motor nganggur. Pemiliknya adalah Uda Jamaris. Beliau mempersilahkan untuk menggunakan.

Dengan senang hati, jalan jalan sore sambil menghirup udara segar di Bengkulu. Tak lupa beli gorengan tahu tempe di pinggir jalan. Sudah barang tentu penjualnya adalah mbak-mbak tanah Jawa.

Sebelah belakang Nara Radio sejak pukul 14.00 sudah berkumpul tim sukses Sultan Bahtiar Najamudin – Mujiono. Mereka berkumpul untuk menyamakan gerak langkah, pikiran, perjuangan, konsep dan aplikasi. Harapan mereka menyatunya tokoh Melayu Jawa akan membawa masa depan lebih gemilang. Budaya Jawa dan budaya Melayu saling mengisi dan saling melengkapi. Bengkulu menjadi lebih kokoh, terkenal, harum dan cemerlang.

Hawa di Bengkulu boleh dibilang panas. Maklum dekat dengan pantai. Ada pantai yang indah dan menjadi objek unggulan pariwisata propinsi Bengkulu. Namanya Pantai Panjang. Tapi harus diakui bahwa tingkat kunjungan wisata ke propinsi Bengkulu perlu ditingkatkan lagi. Orang berkunjung ke Bengkulu bisa ditebak umumnya tilik keluarga transmigrasi. Betapa banyak keluarga Jawa yang bertransmigrasi ke daerah Bengkulu. Kedatangan orang Jawa yang mengunjungi sanak famili boleh dinamakan kunjungan wisata transmigrasi.

Potensi wisata transmigrasi sudah berlangsung puluhan tahun. Keluarga transmigrasi yang punya gawe mantu, sunatan, penobatan, pelantikan akan dikunjungi keluarga dari Jawa. Mereka datang bersama rombongan besar. Sudah barang tentu nama Bengkulu tambah moncer.

Barang kali wisata transmigrasi di Bengkulu merupakan wujud wisata terbesar di Indonesia. Wisata transmigrasi termasuk wisata alamiah yang tidak memerlukan energi promosi. Prosesi dan kebiasaan tinggal diberi fasilitas yang memadai. Pemerintah propinsi Bengkulu mendapat keuntungan.

Penerbangan di Bandara Fatmawati Bengkulu 12 kali sehari. Transportasi udara lancar. Tinggal memberi pelayanan maksimal transportasi darat. Bus umum perlu dijamin keamanan, biro travel dipermudah. Lalu lintas yang mengangkut produk pertanian ditata, dikelola, diatur dengan rapi. Para perantau Bengkulu yang berada di luar daerah dijak rembugan. Mereka pasti mendukung Bengkulu.

Bambang Ari Purnama, tokoh Seluma Bengkulu
Beliau adalah pendukung pasangan Sultan – Mujiono. Ketua DPC PBB Kabupaten Seluma Bengkulu ini pernah belajar di Surakarta.

Katanya di sana banyak makanan enak dan murah. Memang betul. Ngobrol sampai larut malam di Najamudin Community. Mereka relawan yang tersebar di seluruh propinsi Bengkulu. Malam itu benar benar ramai.

Acara budaya terus terjadi. Hari Minggu, 15 November 2015. Sesuai dengan rencana bahwa hendak dilakukan rekaman tentang sejarah hubungan Jawa Melayu. Kemungkinan besar para penyiar masih tertarik dengan sisi historis peradaban Melayu Jawa pada masa silam. Ternyata cerita sejarah itu tetap aktual dan menarik hati. Dengan tahu sejarah wawasan menjadi lebih kaya. Referensi hidup bertambah luas. Malah bisa dikatakan sebagai wisata historis.

Masa silam perlu diagungkan, dipuja atau glarifikasi. Mulai pukul 10.00 siaran lagi tentang budaya Jawa. Dipandang dari sisi historis filosofis sosiologis. Historis terkait dengan aspek kesejarahan. Filosofis terkait dengan aspek kesusilaan. Sosiologis terkait dengan aspek kemasyarakatan. Ketiga perspektif tersebut untuk membaca perjuangan Sultan Najamudin dan Mujiono. Dengan menyadari aspek historis filosofis sosiologis maka kerjasama antar keduanya semakin kokoh.

Masyarakat Bengkulu menyadari arti penting koalisi kultural. Dengan diiringi lagu Jawa dialog di Radio Nara amat menarik. Rupa rupanya Nara Radio banyak penggemar dan relawan. Ada saja orang datang bawa makanan, minuman, oleh-oleh.

Tamu kehormatan pada hari Minggu 15 Novembe 2015 yaitu Jeng Srikandi, usia 50 tahun. Beliau aktif di bidang seni budaya. Kerap menjadi bintang tamu di acara relevisi Bengkulu.

Iklan sosial budaya kerap dia lakukan. Di Bengkulu nama Srikandi cukup tenar. Tiap hari ada saja pentas dan pagelaran. Mulai dari MS mantenan, melawak dan penjual gaya humor.

Sempat mengantar untuk mencari nasi padang. Beliau bersedia menjadi sopir. Demi makan siang. Waktu kira kira pukul 15.00 lantas ke jalan Suprapto untuk mencari peralatan radio. Teteh Adel dan Jeng Srikandi dari toko ke toko mencari benda elektronik. Biasa kaum hawa belanja pilah pilih dan waktu lama. Jemu juga. Dua jam lamanya mencari barang di toko dan dapat. Tidak ketinggalan beli kaos cap kota Bengkulu.

Acara santai dilanjutkan dengan makan tahu gejrot di tepi Pantai Panjang. Di tengah jalan Jeng Srikandi berdialog tentang pengembangan seni budaya Bengkulu. Lantas ada usul pembentukan organisasi seni budaya. Namanya Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu. Disingkat Pamasjalu. Organisasi ini akan dilegalkan lewat akte notaris. Bila perlu diminta legalitas dari Kemenkumham. Legalitas ini penting buat rencana kegiatan yang berkaitan dengan birokrasi pemerintah.

Siaran radio pada petang dan malam hari. Sekitar pukul 22.00 perut sama lapar. Berburu kuliner di kota Bengkulu. Pandang kiri kanan dapatnya pecel lele Mas Eko. Berulang kembali. Menu dari Kabupaten Lamongan mengepung kota Bengkulu. Pesan nasi uduk dibungkus. Puas, lahap dan kenyang. Sambel, sajian, cara masak, tenda, kursi warung pecel lele hampir sama.

Hampir semua kota di Indonesia terdapat sajian pecel lele gaya Lamongan. Hanya kota Surakarta yang sedikit ada pecel lelenya. Maklum di sini pusat kuliner.
Hujan rintik rintik sejak sore mengisi perjalanan keliling kota Bengkulu. Di sepanjang jalan tampak gedung Walikota, gedung Gubernuran, Taman Budaya Bengkulu, Simpang Lima. Tidak ada macet, jalan dengan sangat lancar. Di Bengkulu jalan jalan lebar tetapi mobil, motor belum padat. Rombongan berhenti sebentar di rumah tempat pembuangan Presiden Soekarno tahun 1942. Beliau ditawan oleh pemerintah Belanda. Juga rumah asli Ibu Fatmawati Soekarno di Bengkulu. Rumahnya terbuat dari kayu bertingkat.

Dari percakapan rombongan pecel lele terungkap sebuah pendapat yang cukup radikal. Kota yang tidak pernah dikelola oleh Belanda pasti terbelakang, tidak maju, jelek dan terasing. Kota yang pernah dipimpin Belanda ternyata lebih terkenal, rapi, bagus, tertib, indah, wibawa, nyaman. Pendapat kontroversial ini perlu menjadikan perhatian, setidak tidaknya bahan untuk refleksi dan introspeksi.

Hujan amat derat sejak dini hari. Saat itu hari Senin tanggal 16 November 2015. Hingga pukul 9.30 hujan tetap mengguyur tanah Bengkulu. Problem baru muncul lagi. Kemarin kemarau panjang. Orang berkeluh kesah soal asap, kekeringan dan kekurangan air. Tiap hari televisi, radio, koran tak bosan bosannya memberitakan kemarau panjang. Kadang-kadang salah berita.

Kemarau memang diharap oleh petani tembakau, melon, bawang merah, mangg dan randu. Semakin panas hawanya, maka buahnya makin berkualitas. Sebentar lagi hujan akan menimbulkan berita yang kurang sedap. Di mana mana air menggenang. Bahkan meluap jadi banjir. Rutinitas ini berlangsung terus. Seolah-olah terjadi goblok kolektif di negeri ini.

Penjaga kawasan Najamudin Community menunggu hujan reda. Bisa diceritakan keadaan Yayasan Nuraini Najamudin. Kompleks ini terdapat lembaga belajar SDIT. Murid-muridnya berasal dari beragam sosial. Di sebelahnya penampungan anak yatim piatu.

Panti asuhan ini menampung anak anak dari keluarga yang tidak mampu. Lantas bangunan masjid untuk beribadah. Kanan kiri taman yang diatur indah. Bambu hias, bunga dan kelapa sawit. Tak ketinggalan kalau renang untuk fasilitas olahraga. Lapangan tenis, volly, badminton, sepakbola, layang-layang. Fasilitas olahraga memadai.

Bagi tamu yang ingin menginap tersedia kamar tidur beserta kamar mandi. Jumlahnya cukup banyak. Lebih nyaman tinggal di sini daripada tinggal di hotel. Tempatnya di bukit dan dataran tinggi, lampu kerlap-kerlip kota Bengkulu terlihat indah. Untuk acara pertemuan disiapkan ruang rapat. Ruang-ruang itu cukup untuk pertemuan sesuai dengan keperluan acara. Manajemen rumah tinggal dengan fungsi publik sungguh ideal.

Radio menjadi alat komunikasi. Pukul 10.30 Jeng Sri datang di Radio Nara. Bawa mobil mau antar keliling Bengkulu. Terlebih dulu beli 2 bungkus nasi padang. Untuk bekal perjalanan. Tidak lupa beli gorengan di pinggiran kota, sebungkus pisang goreng, gethuk, tela cukup untuk mengisi perut.

Suasana jalan Bengkulu masih lengang. Tidak dijumpai kemacetan yang mengular. Gedung gedung tak tampak bertingkat. Biar aman saat gempa. Sudah cocok.

Bengkulu terus membangun. Tepat pukul 12.00 dilakukan siaran budaya Jawa di Nara Radio. Temanya gotong royong, gugur gunung, bersatu padu, manunggal. Paguyuban masyarakat Jawa di Bengkulu atau Pamasjalu bersama sama untuk memandang masa depan yang lebih baik. Maka perlu satunya langkah, gerak, cita-cita dan harapan. Dari udara berkumandang lagu Gugur Gunung.

Ayo kanca ayo kanca
Ngayahi pakaryan praja
Kono kene kono kene
Gugur gunung tandang gawe
Sayuk sayuk rukun
Bebarengan ro kancane
Lila lan legawa
Kanggo mulyaning negara

Siji loro telu papat
Bareng maju papat papat
Diulung ulungake murih enggal rampung
Holobis kontul baris
Holobis kontul baris.

Pengembangan budaya terjadi pada masa berdirinya Propinsi Bengkulu sejak tahun 1967. Ada kota Bengkulu, serta Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kaur, Kapahiang, lebong, Muko Muko, RejangLebobg, Seluma.

Pemimpin dan rakyat selalu seoakat. Kemajuan Propinsi Bengkulu diraih setahap demi setahap secara beraturan.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian