Paku Buwono X bertahta di Surakarta Hadiningrat antara tahun 1893-1939. Beliau adalah putra Paku Buwono IX. Kawula negari Surakarta memberi gelar Sampeyan dalem Ingkang Minulya Saha Wicaksana Kanjeng Sinuwun Paku Buwono X. Paku Buwono X lahir pada tanggal 21 Rejeb 1795 atau 29 November 1866. Nama kecilnya adalah Bendara Raden Mas Gusti Sayidin Malikul Husna. Ibunya bernama Gusti Kanjeng Ratu Sinuwun Paku Buwono. Sejak lahir diambil anak oleh eyang dalem Gusti Kanjeng Ratu Agung, permaisuri Paku Buwono VI.
Menginjak umur 3 tahun, BRM Gusti Sayidin Malikul Khusna diangkat menjadi putra mahkota, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Sudibya Raja Putra Narendra Mataram Ingkang Kaping V ing Negara Surakarta Hadiningrat. Gerakan nasional yang tumbuh di Solo, yaitu Syarikat Islam sangat didukung oleh Sinuwun Paku Buwono X. Pendidikan pada masa itu pun berkembang pesat. Surat kabar juga hidup dengan subur, dengan beraneka ragam penerbitan yang maju idealismenya.
Sri Susuhunan Paku Buwono XI mendapat gelar: Sinu-wun Kridha Caraka. Artinya raja yang menjadi pelopor tumbuh-nya parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat. Sri Susuhunan Paku Buwono XI adalah aktifis pergerakan pendidikan keagama-an dan kebudayaan. Pada tahun 1905 Hangabehi PB XI menjabat sebagai Ketua Dewan Kraton. Tahun 1908 aktif dalam pemben-tukan Budi Utomo. Tahun 1911 menjadi Ketua Penasihat Sarekat Islam. Tahun 1912-1914 menempuh pendidikan di Universiteit Leiden. Tahun 1915 membantu persarikatan Muhammadiyah. Tahun 1918 turut serta dalam pembentukan Volksraad atau dewan rakyat.
Antara tahun 1920-1940 beliau mencurahkan tenaganya demi kemajuan bangsa dan negara. KGPH Hangabehi PB XI turut memperlancar Perguruan Taman Siswa, Pendidikan Islam Man-ba’ul Ulum, stadion Sriwedari, pasar Gede. Pabrik gula, stasiun kereta api, jalan, jembatan, terminal, telekomunikasi, listrik perkebunan dan rumah sakit. Ketrampilan Hangabehi PB XI yaitu melakukan lobi, pendekatan dan kerjasama dengan berbagai kekuatan sosial.
Menjelang kemerdeaan Indonesia tahun 1945 Sri Susu-hunan PB XI dapat meyakinkan para pembesar Jepang untuk membentuk BPUPKI. Bahkan ketua BPUPKI dijabat oleh KRT Dr. Radjiman Widyodiningrat, utusan resmi Kraton Surakarta. Sri Susuhunan PB XI merupakan pejuang kemerdekaan yang mewariskan keteladanan, keutamaan dan kepahlawanan. Beliau telah mengantar bangsa ini ke depan pintu gerbang kemer-dekaan Indonesia. Paku Buwono XI naik tahta pada tanggal 26 April 1939, mengganti ayahanda Paku Buwono X. Beliau memerintah 1939-1945. Beliau selalu memberi sumbangan kepada masyarakat.
B. Kraton Surakarta bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Sri Susuhunan Paku Buwono XII mendapat gelar: Sinuwun Hamardika. Kraton Surakarta Hadiningrat kemudian diperintah oleh Sinuwun Paku Buwono XII. Riwayat Sinuwun Paku Buwono XII dalam bahasa Jawa sebagai berikut: Sinuwun Paku Buwono Senapati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Kaping XII Ing Negari Sura-karta Hadiningrat putra saking Paku Buwono XI ingkang lahir saking prameswari dalem GKR Sinuwun Paku Buwono, putri KRMT Puspadiningrat. Asma timur GRM Suryaguritna. Wiyosan dalem ing dinten Selasa Legi, 20 Ramelan 1855 utawi 14 April 1925. Dewasa jumeneng Pangeran KGPH Purbaya. Jumeneng nata ing dinten Jum’at Pahing, 19 Rejeb 1876 utawi 12 Juli 1945. Wondene sesebutan dalem Solo Koo, awit taksih pendudukan Japan.
Kehidupan Sinuwun Paku Buwono XII saat ini banyak diwarnai oleh nilai-nilai kebudayaan dan kesenian Jawa. Beliau termasuk tokoh tradisional yang berpengaruh di Asia Tenggara. Beliau wafat pada tanggal 11 Juni 2004. Sinuwun Paku Buwono XII sangat disegani oleh politikus kaliber internasional. Semuanya selalu mohon doa restu pada Sinuwun Paku Buwono XII di Surakarta.
Mendukung Berdirinya NKRI
Sejarah telah mencatat bahwa Kraton Surakarta amat berperan pada masa awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sinuhun Paku Buwono XII membantu secara moril, materiil dan spirituil demi tegaknya NKRI yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Generasi muda perlu mempelajari dengan sungguh-sungguh peranan Kraton Surakarta Hadiningrat sepanjang masa.
Piagam Kedudukan
Republik Indonesia
Kami, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, menetapkan: Ingkang Sinoehoen Kandjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono Senopati Ing Ngalogo Abdoerrahman Sajidin Panotogomo Ingkang Kaping XII, ing Soerakarta Hadiningrat pada kedudukannya.
Dengan kepercayaan bahwa Seri Padoeka Kandjeng Soesoe-hoenan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga untuk keselamatan daerah Surakarta sebagai bagian dari pada Republik Indonesia.
Jakarta 19 Agustus 1945
Presiden Republik Indonesia
Ir. Soekarno
Maklumat Sunan Paku Buwono XII
Makloemat Sri Padoeka Ingkang Sinoehoen Kandjeng Soesoehoenan kepada seloeroeh Pendoedoek Negeri Soerakarta Hadiningrat.
1. Kami Pakoe Boewono XII, Soesoehoenan Negeri Soerakarta Hadiningrat menjatakan Negeri Soerakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Repoeblik Indonesia dan berdiri di belakang Pemerintah Poesat Negara Repoeblik Indonesia.
2. Kami menjatakan bahwa pada dasarnja segala kekoeasaan dalam daerah negeri Soerakarta Hadiningrat terletak di tangan Soesoehoenan Soerakarta Hadiningrat dan oleh karena itoe, berhoeboeng dengan keadaan pada dewasa ini, maka kekoeasaan-kekoeasaan jang sampai kini tidak di tangan kami dengan sendirinja kembali ke tangan kami.
3. Kami menjatakan bahwa perhoeboengan antara Negeri Soerakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Poesat Negara Repoeblik Indonesia bersifat langsoeng.
4. Kami memerintahkan dan pertjaja kepada seloeroeh Pendoedoek Negeri Soerakarta Hadiningrat, mereka akan bersikap sesoeai dengan Sabda Kami terseboet di atas.
Soerakarta Hadiningrat, 1 September 1945
Pakoe Boewono XII
Delegasi Konferensi Meja Bundar
Paku Buwono XII dan Mangkunegara VIII menjadi ang-gota delegasi RI yang dipimpin oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Surat di bawah ini dikirim dari negeri Belanda menjelang penandatanganan Konferensi Meja Bundar (KMB) oleh Bung Hatta yang ditujukan kepada Presiden dan Menhankam RI.
Jang terhormat
J.M. fg. Minister Presiden dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Djogjakarta
Dengan hormat,
Dengan surat ini dikabarkan bahwa dalam perundingan KMB tetap diturut sikap dan pendirian bahwa semendjak penjerahan piagam pengakuan pada penghabisan tahun 1945 oleh Peme-rintah Republik Indonesia, maka Zelfbesturende Landschappen Surakarta dan Mangkunegaran mempunyai kedudukan daerah istimewa menurut Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
Berhubung dengan ketetapan pendirian ini hendaklah ada persesuaian dengan kebidjaksanaan dalam praktik pemerin-tahan terhadap kedua daerah istimewa itu.
Bersangkutan dengan persesuaian pendirian ini dan melihat aliranaliran jang ada di daerah tersebut, maka djikalau sekiranja ada berlangsung penjerahan pemerintahan oleh tentara Belanda, hendaknya penjerahan itu diterima dengan langsung oleh J.M. fg. Minister Presiden dan Menteri Pertahahan sebagai wakil Pemerintah Republik Indonesia. Tentang Pengangkatan Wali Kota baru di Surakarta hendaklah dilaksanakan setelah mendengar timbangan dan fikiran rijksbestuurders Surakarta.
Sekian pemberitahuan ini, jang harap didjadikan pedoman dalam melaksanakan kebidjaksanaan pemerintahan terhadap kedua daerah istimewa itu.
Den Haag, 12 September 1949
Dengan hormat,
Ttd.
WAKIL PRESIDEN
Mohammad Hatta
Konferensi Meja Bundar yang diikuti oleh Sunan Paku Buwono XII tersebut merupakan peristiwa sejarah yang sangat penting. Pada tanggal 27 Desember 1949, negara Indonesia diakui kedaulatannya. Hasil terpenting perundingan Meja Bundar adalah terbentuknya Republik Indonesia Serikat. Penting, karena dampaknya di bidang politis terutama dalam aspek konstitusional akan sangat luas (Bram Setiadi, dkk. 2000: 105). Beliau menjadi delegasi KMB dengan biaya sendiri. Tujuannya untuk tegaknya NKRI yang baru saja merdeka.
C. Sumbangan Kraton Surakarta pada Pemerintah Republik Indonesia
Sejak awal proklamasi kraton Surakarta terlibat aktif dalam proses pendirian NKRI. Menurut Prof. Dr. Sri Juari Santosa Guru Besar Universitas Gadjah Mada bahwa Kraton Surakarta Hadiningrat telah memberi sumbangan kepada Negara RI. Barang dan jasa yang diberikan Kraton Surakarta kepada pemerintah RI pada masa revolusi kemerdekaan, sesuai dengan catatan kwitansi dan dokumen resmi yang tersimpan dalam berbagai kepustakaan dan musium adalah sebagai berikut:
No Nama barang yang diberikan atau dipinjamkan Jumlah Penerima Tanggal penyerahan
1 Mobil Plymouth 1 buah Reg. II Div. IV 30-10-45
2 Mobil Chevrolet kelabu 1 buah TKR Surakarta 4-11-45
3 Makanan dan bahan makan – Medan pertempuran Surabaya 17-11-45
4 Instrumen musik – Kep. Jawatan TU. TRI Div. Surakarta 20-11-45
5 Mobil Plymouth 1 buah Polisi tentara 30-11-45
6 Mobil Chevrolet 1 buah Abdidalem Pangreh Praja 30-11-45
7 Sejumlah senjata – Markas TKR 24-12-45
8 Uang Rp. 8.750 Berbagai badan 19 Sept s/d 24 Des 45
1 Mobil 1 buah M. BO TRI bag. Organisasi 4-2-46
2 Kursi antik, kursi bludru & kecohan – Panitia Muktamar Masyumi 9-2-46
3 Bangsal Witana Balai Agung – Asrama & Pengadilan Luhur Islam 18-2-46
4 Perahu 1 buah PKBS Serengan 22-2-46
5 Instrumen musik – Panitia penyambutan tentara 26-6-46
6 Jam Genta 6 buah Markas Resimen II Div. X 19-4-46
7 Tambur 1 buah AsramaRI 14-4-46
8 Instrumen musik 23 pucuk Div. IV 29-4-46
9 Tambur 4 buah Div. X 13-6-46
10 Slompret 4 buah Div. X 13-6-46
11 Bende 5 buah Markas Resimen II Div. X 19-6-46
12 Senapan Beamont model 71 dengan bayonet 50 buah TRI Bat. 16 –
13 Tempat peluru 50 buah TRI Bat. 16 –
14 Klewang pendek 100 buah TRI Bat. 16 –
15 Gordel 100 buah TRI Bat. 16 –
16 Anggar (schunkapmes) 100 buah TRI Bat. 16 –
17 Draagrim 100 buah TRI Bat. 16 –
18 Wachpatroon 105 buah
TRI Bat. 16 –
19 Sadel cavaleri 100 buah TRI Bat. 16 –
20 Instrumen musik 27 pucuk Panitia 1 tahun RI 27-7-46
21 Telepon di WiryodininG.R.A.tan 1 buah Gabungan Laskar Pertahanan 23-9-46
22 Montor Ford 1 buah Anggota PMC 25-11-45
23 Kuda 1 ekor Pasukan berkuda Div. IV 17-12-46
24 Kuda 1 ekor Kep. Div. IV AD RI 17-12-46
25 Piala 1 buah Konggres Laskar Buruh Indonesia 30-12-46
26 Uang Rp. 41.088 Berbagai badan 21 Jan s/d 28 Des 46
1 Kuda 1 ekor Pasukan Cavaleri 6-1-47
2 Kuda besar 2 ekor Staf. Div. IV AD TRI 30-11-47
3 Mobil Crysler 1 buah Walikota 18-1-47
4 Kuda gerobag 1 ekor Pemimpin pertem-puran tenggara 17-4-47
5 Ikan dendeng – Garis depan 8 Feb s/d 15 Feb 47
6 Kuda Layarmega & Nirwati 2 ekor Kementrian Pertahanan 10-3-47
7 PesangG.R.A.han Tegalganda & Giriwaya – Markas tertinggi tentara 18-3-47
8 Kuda tunggangan 2 ekor Dewan Pertahanan Daerah Surakarta
9-4-47
9 Arca marmer 2 buah Panitia Fancy Fair Pandu Ska.
17-4-47
10 Kuda besar 1 ekor Pemimpin pertem-puran tenggara 17-4-47
11 Plaquette 1 buah Panitia penyelenggara Hawaian Concours Ska. 21-4-47
12 Plaquette 1 buah Gabungan Laskar Pertahanan 21-4-47
13 PasangG.R.A.han Langenharjo – PT Resimen II 24-5-47
14 PasangG.R.A.han Tursinoharjo – BTN 5-6-47
15 Taplak, piring, beri, serbet, dan jodang 420 buah Detasemen Staf Div. IV 24-7-47
16 Kuda kecil 1 ekor Pemimpin pertempu-ran tenggara 17-4-47
17 Rusa 2 ekor Dewan Pertahanan Daerah Ska. 24-7-47
18 Mobil Dodge 1 buah Divisi IV 24-7-47
19 Kuda Lungkeh & Kresno 2 ekor Dewan Pertahanan Daerah Ska. 24-7-47
20 Pesawat telepon di rumah KRMT Tirtodiningrat 1 buah Markas pertahanan Salatiga 29-7-47
21 Lampu ting 10 buah Gabungan Laskar pertahanan Surakarta 14-10-47
22 Piala
1 buah IPI 28-9-47
23 Pesawat telepon 1 buah Gabungan Laskar pertahanan Surakarta 14-10-47
24 Beri emas 1 buah PemerintahRI 9-9-47
25 Pedang 20 buah Laskar Merah Markas Surakarta 17-10-47
26 Plaquette 1 buah PPR. Kalurahan Gajahan 20-11-47
27 Kuda 2 ekor Eskadron Cavaleri Divisi IV 24-7-47
28 Plaquette 1 buah Panitia Panahan Surakarta 25-10-47
29 Plaquette 1 buah Panitian pertahanan Rakyat Gajahan 21-11-47
30 Uang Rp. 17.500 Berbagai badan 10 Jan s/d 30 Des 47
1 Plaquette 1 buah TNI bag. Masyarakat 16-1-48
2 Plaquette 1 buah Panitia Hawaian Cours Surakarta 28-1-48
3 Plaquette 1 buah PO RI Surakarta 14-2-48
4 Arca Perunggu 1 buah Fancy for bagian kewanitaan Surakarta 6-3-48
5 Arca Perunggu 1 buah Panitia Pasar Derma cabang Surakarta 31-3-48
6 Nessel Merah Putih 6 buah Kepala Rumah Tangga Presiden 24-3-48
7 Uang Rp. 900 Berbagai badan 17 Jan s/d 31 Maret 48
1 Rusakan perahu 2 buah Pendidikan Langenarjo 20-6-49
2 Rumah Pakapalan 4 buah DPU Surakarta 14-6-49
3 Plaquette 1 buah Panitia Pasar Malam Sri Wedari –
4 Uang Rp. 450 Berbagai badan 2 Juni s/d 20 Des 49
1 Tanah perumahan di Kartasura 1 hektar Kep. Pem.Militer Kartasura 16-1-50
2 Perabot wireng – Panitia perayaan Surakarta 18-1-50
3 Perabot wireng – Panitia Kampung Reksoniten 17-2-50
4 Perabot wireng – PB PNI Pusat daerah Surakarta 11-4-50
5 Perabot wireng – Panitia Peringatan 1 Mei
27-4-50
6 Perabot wireng – Panitia Perpisahan STN 9-6-50
7 Perabot wireng – Kep. Pendidikan Subsistensi Kader
4-5-50
8 Pompa motor – Pembantu Polisi Kare-sidenan Surakarta 5-7-50
9 Sabuk epek – Panitia kitanan Pasar Kliwon –
10 Gamelan – Pembukaan Konser-vatori Surakarta 19-8-50
11 Wayang kulit – RRI Surakarta 19-10-50 &12-12-50
12 Alat Brandweer – Panitia Pekan Maulud Surakarta 23-11-50
13 Uang Rp. 1330 Berbagai badan 21 Agust s/d 13 Des 50
1 Berbagai plaquette – Berbagai badan Selama tahun 1951
2 Perabot wireng – Berbagai badan Selama tahun 1951
3 Wayang kulit – RRI Surakarta 9-3-51
4 Pompa motor – Panitia Maleman Sri Wedari 14-6-51
5 Pakaian wayang orang – Pengurus HBS 30-7-51
6 PasangG.R.A.han Langenharjo – Perwira Pengawas Teritorial 5-9-51
7 Tambur & slompret @ 2 buah Com. Brigade Mobil Rayon Surakarta 20-11-51
8 Uang Rp. 350 Berbagai badan 13-21-51
No Nama barang Jumlah Keterangan
1 Pakaian prajurit Jaba 205 stel Satu stel terdiri dari:
1 Jas hitam
1 Celana hitam
1 Shouder (tali rumbai)
1 Kuas topi
2 Pakaian Jayengsastra 50 stel Satu stel terdiri dari:
1 Baju atela biru
1 Celana panjang merah
1 Kain rejeng latar putih
1 Sabuk merah
1 Shouder (tali rumbai)
3 Pakaian Tamtama 50 stel Satu stel terdiri dari:
1 Jas atela hitam
1 Celana panji-panji merah
1 Kain rejeng latar ireng
1 Sabuk merah
1 Shouder
4 Pakaian Opsir (luar dalam) 17 stel Satu stel terdiri dari:
1 Jas atela hitam
1 Celana panji-panji merah
1 Kain rejeng
1 Sabuk cinde boro Epek
1 Shouder
5 Pakaian Prajurit komplit 18 stel Satu stel terdiri dari:
1 Kutang putih
1 Takwa kuning
1 Rapek sabuk kuning
1 Epek dan timang
1 Celana panji-panji biru
1 Sumping keris
6 Cadangan pakaian Panyutro
a. Rapek
b. Kutang putih
c. Celana Panji-panji biru
d. Srempang endong
e. Jeplakan
f. Tempat anak panah
g. Sabuk kuning
h. Anggaran
i. Epek
j. Sumping
k. Kolong keris
l. Kain rejeng
m. Kain lereng barong
n. Keris Panyutro
5 potong
5 potong
4 potong
9 potong
5 potong
18 buah
1 buah
2 buah
9 buah
5 buah
5 buah
3 helai
1 helai
18 bilah
7 Sabuk prajurit 29biji
8 Rim 52buah
9 Epek kulit 32buah
10 Timang PB 34buah
11 Tempat klewang 38buah
12 Topi sersi/Prajurit Jaba 250 buah
13 Topi hijau 140 buah
14 Topi bamboo 140 buah
15 Iket wulung 100 buah
16 Isi kepmes 232 buah
17 Pestol kuno 15buah
18 Songkok 9buah
19 Umbul-umbul 1buah
20 Daludag 3buah
21 Rontek 119 buah
22 Keris 98buah
23 Tempat peluru 200 buah
24 Tameng 51buah
25 Tombak 125 buah
26 Pedang 213 buah
27 Payung 6 buah
28 Kuluk 94buah
29 Pukul bende 1buah
30 Alat/pakaian kuda 2jodang
31 Pakaian kusir 1blek
32 Ting joli (lampu kereta) 4buah
33 Kain penutup kereta 5buntel
34 Besek kosong 9buah
35 Tiwar 1buah
36 Kawat 1gulung ± 10 m
37 Kereta 3 buah a. Kyai Garudo
b. Kyai Siswando
c. Kyai Morosebo
38 Joli 2 buah a. Kyai Jempono
b. Kyai Mimono
(Sri Juari, 2002: 20-25).
Sumbangan Kraton Surakarta tersebut menjadi modal awal atas terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah kota Surakarta yang dipimpin oleh walikota menjadi ringan dan mudah dalam memberikan tugas. Adapun walikota Surakarta adalah sebagai berikut:
1. Sindoeredjo, 19 Mei 1946-15 Juli 1946
2. Mr. Iskak Tjokroadisurjo, 15 Juli 1946-14 November 1946
3. Sjamsoeridjal, 14 November 1946-13 Januari 1949
4. Soedjatmo Soemowerdojo, 14 November 1946-13 Januari 1949
5. Soeharjo Soerjo Pranoto, Juni 1949-Mei 1950
6. K. Ng. Soebekti Poesponoto, 1 Mei 1950-1 Agustus 1951
7. Muhammad Saleh Werdisastro, 1 Agustus 1951-17 Februari 1958
8. Oetomo Ramelan, 17 Februari 1958-23 Oktober 1965
9. Th. J. Soemantha, 23 Oktober 1965-11 Januari 1968
10. R. Koesnandar, 1968-1975
11. Soemari Wongsopawiro, 1975-1980
12. Ignatius Soekatmo Prawirohadisebroto, 1980-1985
13. H.R. Hartomo, 1985-1995
14. Imam Soetopo, 1995-2000
15. Slamet Suryanto, 2000-2005
16. Jok Widodo, 2005-2012
17. F.X. Hadi Rudyatmo, 2012-2015
18. Budi Suharto (Penjabat Wali kota), 5 Agustus 2015-30 Desember 2015
19. Budi Yulistianto (Penjabat Wali kota), 31 Desember 2015-17 Februari 2016
20. F.X. Hadi Rudyatmo, 17 Februari 2016-2021.
Berseri berseri bersih sehat rapi indah. Pancen nyata pra kanca kanggo srana. Mujudake Surakarta kutha budaya. Pariwisata lan olahraga. Wus misuwur sedulur. Njaban rangkah wus genah. Ngondhangake kutha Sala tanpa nendra. Dadya budayane bangsa mrih kuncara. Berseri berseri bersih sehat rapi indah.
(LM-01)

