Oleh: Dr Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp 087864404347)
A. Peranan Sindhenan dalam Upacara Kraton.
Waranggana adalah pelantun tembang guna mengiringi seni karawitan. Dalam sistem Kerajaan waranggana membaca kidung mantra sakti. Tradisi ini berlangsung sejak tahun 1645.
Sri Susuhunan Amangkurat Agung raja Mataram membuat Serat Babad Ila Ila. Segala upacara kenegaraan Mataram ditulis dengan menyertakan penampilan waranggana. Kidung mantra sakti demi keselamatan.
Wara berarti sebutan kehormatan untuk wanita. Anggana berarti kepribadian yang mulia. Waranggana hadir untuk menghias dunia agar lebih bermartabat mulia.
Untuk menjadi waranggana perlu belajar yang tekun. Olah vokal meningkatkan semangat berkesenian. Seni karawitan terlalu peduli dengan olah suara yang berupa lagu, gendhing, tembang. Suara vokal dengan gamelan harus selaras. Keduanya membuat suasana yang selaras, serasi dan seimbang. Keselarasan irama itu mendatangkan kenyamanan dan kenikmatan.
Lagu lagu populer dalam masyarakat barangkali bisa digunakan untuk materi pengajaran. Rasa memiliki atau sense of belonging menambah daya semangat untuk nabuh. Suasana belajar semakin menggairahkan. Senda gurau dan derai tawa akan pecah.
Tahun 1708 Kanjeng Ratu Mas Balitar mendirikan sanggar untuk melatih sindhenan. Garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana I ini menjadi pelopor di dibukota Mataram Kartasura.
Gembira ria bagi peserta. Pasti terjadi suasana yang gembira meriah. Gamelan Jawa berfungsi sebagai sarana upacara kenegaraan, keagamaan dan hiburan.Ambil contoh lagu Jamu. Dalam masyarakat kerap mendengar dan menyanyikan lagu Jamu, dengan segala variasi. Syair ini terlalu familiar di kalangan sekalian warga masyarakat.
Suwe ora jamu
Jamu godhong tela
Suwe ra ketemu
Temu pisan gawe gela.
Pertemuan kedua bisa diajak untuk nabuh lancaran Jamu beserta cakepan syair lagunya. Di tanggung pasti bersuka ria. Kini banyak tersedia bacaan tentang gendhing kreasi. Lebih menarik lagi bila syair syairnya dibuat dengan kejadian lingkungan sekitar.
Ditambah dengan cakepan atau syair yang lucu lucu, peserta belajar merasa percaya diri. Ada sanjungan estetis yang sopan secara sosiologis. Bahkan mereka dapat menciptakan syair sendiri. Latihan kerawitan sebaiknya diakhiri dengan pentas.
Secara psikologis mereka merasa ada harapan untuk diperhatikan, dianggap dan dihargai. Ibarat orang menanam padi, harus tahu kapan masa panen. Jangan sampai anak anak diajak latihan terus, sementara tidak ada harapan untuk unjuk kebolehan. Jadwal pentas merupakan upah penghargaan.
Tokoh yang bersemangat dalam karawitan misalnya Wasitodiningrat. Jadwal pentas dalam rangka rapat akbar, pertemuan besar, peringatan hari besar, ulang tahun dapat diisi dengan kesenian. Kesempatan emas bagi anak-anak untuk tampil unjuk diri. Mereka merasa menjadi insan berharga. Orang tua, bapak, ibu, kakek nenek berasa berbahagia. Generasi penerus telah menjadi orang yang berguna.
Budaya seni berkembang pesat pada jaman Sinuwun Paku Buwana III memerintah tahun 1749 – 1788. Teater wayang wong dan ketoprak dibina. Kostum serba gumebyar. Waranggana didukung dengan dana yang memadai.
Boleh jadi waktu pentas itu menjadi kenangan sepanjang masa. Pentas seni yang ditampilkan mengharumkan nama keluarga. Kepercayaan diri terpupuk, sehingga peserta didik siap menyongsong masa depan.
Seni kerawitan membawa dampak psikologis anak. Kebutuhan kultural dan spiritual mereka tersalur lewat latihan seni. Tehnik cara menabuh bisa dipelajari dengan berbagai gaya karawitan.
B. Perlambang Sastra Gendhing.
Suara waranggana terbagi menjadi dua. Yaitu Laras pelog dan Laras slendro. Laras slendro diciptakan oleh wangsa Syaelendra pada tahun 778.
Peran waranggana amat penting dalam kehidupan istana. Mereka terikat dengan aspek kultural spiritual. Mantra yang dibaca waranggana berhubungan dengan keselamatan negara dan rakyat.
Dhandhanggula Karawitan
Wulang wuruk jroning ulah gendhing.
Kawengku wirama karawitan.
Pangolahe dan garape.
Ngrasakna wosing lagu.
Witing patet saka ing ngendi.
Ing kono golekana
Surasaning lagu
Rarasen nganti kajiwa
Karya padang narawang nora mblerengi
Tatas nembus bawana.
Gendhing Lancaran menika karumpaka kanthi pangajab seni budaya adi luhung tansah ngrembaka lestari. Tumraping para kadang mitra ingkang remen ngudi karawitan, seratan menika saged migunani kagem cepengan pasinaon.
Saestunipun tasih kathah lelagon ingkang dereng kapacak ing seratan menika, amargi winatesing seserepan dalah pambudi daya. Pramila ing sanes wekdal tartamtu rumpakan sapala menika badhe dipun wuwuhi malih kanthi gendhing-gendhing enggal ingkang nembe karipta.
Wondene gendhing-gendhing ingkang sampun kapyarsa dening ngakathah, perlu dipun persudi kanthi permati. Sauger telaten kemawon, gendhing-gendhing kalawau ing mbenjangipun saged njangkepi isipun seratan menika. Pangangkah kalawau mugi-mugi enggal kasembadan.
Centhini adalah nama kitab yang dibikin oleh Sinuwun Paku Buwana V. Raja Surakarta Hadiningrat ini memimpin tahun 1830-1858. Pujangga Ranggawarsita diberi kewenangan untuk mencipta kreativitas seni adi luhung.
Pengetahuan tentang seni karawitan dapat diperoleh melalui berguru, membaca buku, berdialog dengan tujuan langsung di kalangan para seniman. Kawruh karawitan artinya pengetahuan tentang kerawitan. Rawit, artinya halus, lembut, lungit. Karawitan artinya kehalusan rasa.
Karawitan juga dapat untuk mengiringi seni-seni lainnya. Hubungan yang erat dengan karawitan ialah seni suara vokal, seni pedhalangan dan seni tari. Keterampilan berkerawitan dilakukan dengan berlatih terus menerus. Dengan bimbingan seorang guru, maka proses belajar seni semakin tertata lancar.
Seni karawitan kerap digunakan untuk mengiringi vokal atau olah suara. Seni suara vokal pada gamelan terdiri dari bagian. Bawa permulaan gendhing dengan sebuah tembang.
Gerong : tembang yang dilagukan lebih dari seorang, wanita pria.
Sindhen yaitu tembang yang dilagukan oleh seorang wanita. Perpaduan antara musik gamelan dengan olah vokal menghasilkan suara yang selaras.
Musik karawitan selalu hadir dalam pentas berbagai wayang. Masyarakat Jawa mengenal wayang beserta asal cerita. wayang Purwa, wayang kulit: mengambil cerita dari Ramayana atau Mahabarata. Wayang Orang, wayang purwa yang dilakukan oleh orang.
Wayang Madya mengambil cerita dari keturunan Pandawa, ialah Prabu Parikesit. Wayang Gedhog mengambil cerita dari Jenggala dan Kediri. Wayang Golek aslinya dari Pasundan, bentuk wayangnya seperti golekan.
Wayang Menak berisi hal hal keislaman mengambil cerita Menak. Wayang Wahyu berisi hal-hal agama Katholik, mengambil cerita dari kitab Injil.
Wayang Thith Wayang Potehi mengambil ceritera dari Tiongkok. Wayang Beber mengambil cerita Raden Panji.
Contoh dalang serba bisa yaitu Ki Anom Sukatno. Beliau pernah menampilkan wayang beber.
Karawitan juga hadir untuk mengiringi tari dan ragam gerak. Tarian dalam kraton, untuk putri ialah Bedhaya, Srimpi.
Untuk putra ialah Wireng Gelas, Wireng Dhadhap. Tarian dalam masyarakat pada umumnya. Tarian putri misalnya Golek, Bondang dan Gambyong.
Tarian putra misalnya Klana Topeng, Gambir anom, Minakjingga, Dayun. Tari Gubahan Baru : misalnya Sukaretna, Retnapamudya, Retnayuda, Retnatamtama, Lara Mendut, Bathik. Seni tari berkembang dalam sanggar sanggar sebagai sarana olah pembelajaran.
Waranggana belajar titi laras. Belajar karawitan perlu tahu titi laras. Kata titi artinya tanda. Laras ialah urutan nada dalam satu gembyangan. Adapun titi laras ialah tanda sebagai penyimpulan nada nada yang sudah tertentu tinggi rendahnya.
Gunaannya yaitu untuk mencatat dan membunyikan gendhing atau tembang. Titilaras dalam gamelan ada dua macam, ialah : Titilaras slendro 5 nada Penunggul = 1 = siji (ji) Gulu = 2 = loro (ro) Dhadha = 3 = telu (lu) Lima = 5 = lima (ma) Nem = 6 = enem. Titi nada ini pernah dibina oleh Patih Sosrodiningrat.
Notasi kepatihan ini penting sejali. Titilaras pelog 7 nada: Penunggul = 1 = siji (ji); Gulu = 2 = loro (ro); Dhadha = 3 = telu (lu); Pelog = 4 = papat (pat); Lima = 5 = lima (ma); Nem = 6 = enem (nem); Barang = 7 = pitu (pi). Begitulah sistem pembelajaran notasi sindhenan.
Dalam Serat Centhini karya Paku Buwana V disebutkan tentang perumpamaan pergelaran wayang dan gamelan.
Megatruh
Kelir jagad gumelar wayang pinanggung
asnapun makhluking Widhi
gedebog bantala wegung
belencong pandaming urip
gamelan gendhinging lakon.
Terjemahan :
Kelir adalah dunia semesta
wayang di panggung adalah semisal makhluk Allah
pohon pisang adalah bumi
lampu adalah pelita hidup
gamelan adalah lagu kehidupan.
Pengenalan pathet terkait dengan klasifikasi nada. Pada gamelan, laras ada 2 macam ialah laras slendro dan laras pelog. Laras slendro mempunyai 5 nada dan laras pelog mempunyai 7 nada. Pathet ialah susunan nada di dalam suatu laras yang dapat menimbulkan sesuatu suasana.
Pathet di dalam laras slendro ada 3 macam : slendro pathet sanga, slendro pathet nem, slendro pathet manyura. Pathet di dalam laras pelog, ada 3 macam : pelog pathet lima, pelog pathet nem, pelog pathet barang. Mengetahui pathet berarti mempermudah untuk nabuh dan nembang.
Olah vokal sindhenan kerap dilakukan dalam bentuk tembang. Di tanah Jawa ada 3 golongan Sekar, ialah Sekar Ageng, Sekar Tengahan dan Sekar Macapat. Sekar ageng pada umumnya dipergunakan untuk bawa.
Macam macam Sekar ialah sebagai berikut : Sekar ageng Retna Mulya Pl. Br.: Sekar ageng Kumudasmara Pl. Nem.; Sekar ageng Citramengeng Sl. 9. Sekar ageng Mintajiwa Sl. Manyr. Penggunaan tembang gedhe dapat membuat suasana semakin hidup.
Pengrawit hendaknya tahu fungsi masing masing tembang. Sekar tengahan dipergunakan juga untuk bawa. Macam macamnya, diantaranya : Sekar tengahan Kuswaraga; Sekar tengahan Palugon; Sekar tengahan Kenya Kediri Sl; Sekar tengahan Pangajabsih. Ketepatan suara akan menambah daya pesona.
Sinuwun Paku Buwana IX memerintah tahun 1861-1893. Raja Surakarta Hadiningrat aktif dalam menyusun paugeran untuk pegangan bagi waranggana.
Masyarakat Jawa memakai tembang macapat untuk berbagai keperluan. Sekar macapat pada umumnya dipergunakan untuk tetembangan. Macam macamnya ada 11 buah, ialah pocung, maskumambang, gambuh, megatruh, kinanthi, mijil, asmarandana, pangkur, durma, sinom dan dhandhanggula. Masing-masing tembang memiliki watak khas.
Ada lagi tembang yang perlu diketahui. Sekar itu ialah jurudemung, wirangrong, balabak dan girisa. Kemudian disusul dengan munculnya lagu dolanan sebagai sarana untuk pendidikan anak anak.
Sri Mangkunegara IV membuat wangsalan sejak tahun 1851. Wangsalan sindhenan ini cocok buat waranggana wayang purwa.
C. Wangsalan Waranggana Dalam Pakeliran.
Kajian Sastra Karawitan dipegang teguh. Penyajian kesusasteraan Jawa dalam bentuk tulis sesungguhnya bervariasi.
Pada tahun 1834 Pangeran Kusumadilaga menyusun serat Sastra miruda. Atas perintah Sinuwun Paku Buwana VII.
Pengarang Jawa memiliki kesukaan dan ketrampilan yang berbeda. Mereka menuangkan buah pikir terkait dengan latar pekerjaan, pergaulan, status, tradisi dan tugas yang harus diemban.
Bahasa kesusasteraan yang bersifat simbolik, penuh perlambang, terdapat teka-teki serta perumpamaan menunjukkan jiwa penulis. Kata-kata yang digunakan, asiterasi, disonansi, konvensi juga dapat menunjukkan kedudukan seorang pengarang.
Gaya bahasa dalam ragam sastra Jawa itu bertingkat -tingkat. Demikian pula cara memahami tentu berjenis-jenis pula. Masing-masing bentuk mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gagasan estetis.
Pementasan wayang memiliki usia panjang yang dapat ditinjau secara historis. Wangsalan merupakan bentuk karya sastra Jawa yang kerap dibawakan oleh para waranggana wayang purwa. Waranggana disebut pula pesindhen yang bertugas untuk melagukan tembang tembang iringan wayang.
Sesuai dengan adegan cerita, wangsalan berguna untuk memberi karakter pentas wayang. Syair-syair wangsalan dipilih untuk menambah keagungan pementasan. Rasa nasionalisme perlu digalakkan untuk para generasi muda. Nilai kebangsaan itu dalam wangsalan waranggana wayang diungkapkan dengan mengutip kata- kata negara, praja, bangsa, nusa.
Isinya tentang watak luhur untuk mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongan. Cinta tanah air dan bangsa berguna untuk membentuk sifat patriotik. Tokoh-tokoh pewayangan seperti Kumbakarna, Adipati Karna, Patih Suwanda penuh dengan keteladanan.
Bahkan mungkin tokoh dalam Serat Tripama itu sangat dipuja oleh orang Jawa. Anjuran untuk membela tanah air diutamakan, dihargai dan dijunjung tinggi.
Dalam pentas Wayang Orang Ngesti Pandowo selalu menggunakan sistem manajemen yang baik, termasuk dalam hal penyajian gending- gendingnya. Wangsalan yang digunakan untuk mengiringi adegan yang gagah, tegap, semangat, berwibawa dijumpai dalam gendhing srepeg.
Suasana megah, mewah, meriah terbangun. Suara waranggana yang merdu berselaras dengan instrumen gamelan. Diksi wangsalan makin menggugah nilai kepahlawanan. Daya pikat sajian wangsalan ini sungguh meresap dalam hati. Sikap bela negara dihayati sebagai ungkapan yang terpuji.
Jarwa nendra narendra yaksa Ngalengka
Mumpung tresna dadya srana njunjung bangsa
Jarweng janma janma kang koncatan jiwa
Wong prawira mati alabuh nagara
Makna wangsalan di atas terkait dengan pengabdian kepada bangsa dan negara. Bekal pengabdian tersebut berupa keutamaan. Abdi negara perlu ilmu pengetahuan yang memadai.
Jarwa mudha mudhane sang prabu Kresna
mumpung anom ngudia srananing praja.
Tawas pita darpa driya wisnu garwa
