Sejarah Seni Karawitan Sebagai Iringan Upacara Kerajaan
Oleh: Dr Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp 087864404347)
A. Gamelan Warisan Wangsa Syaelendra.
Laras slendro adalah warna nada gamelan yang diciptakan oleh wangsa Syaelendra. Pada tahun 778 dilakukan pembuatan notasi gamelan laras slendro. Adanya laras pelog menyusul pada kemudian hari. Seni edi peni bertambah subur.
Perkembangan Gamelan Jawa
merupakan piranti yang serba tertata. Musik tradisional ini sebagai pernyataan musikal yang sering disebut dengan istilah karawitan. Oleh karena itu perlu diketahui definisi karawitan secara semantis.
Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku liku dan enak. Suara gamelan sayup sayup dari kejauhan membuat hati tentram. Seni karawitan memerlukan ketrampilan yang memadai, dengan lewat belajar.
Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik tradisional yang bersistem nada non diagtonis. Yakni dalam laras slendro. Juga laras pelog yang garapan garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap. Dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar. Cocok untuk mendapatkan suasana damai sejahtera.
Empu Kanwa jaman kerajaan Kahuripan pada tahun 1057 mendapat tugas menyusun garap gending. Prabu Airlangga berkenan menyaksikan pentas wayang wong dengan lakon Arjuna Wiwaha. Sekarang lakon ini disebut dengan cerita Begawan Mintaraga.
Perkembangan Seni gamelan Jawa mengandung nilai nilai historis dan filosofis. Karena gamelan Jawa merupakan salah satu seni budaya yang diwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni. Nuting jaman kelakone.
Kerajaan Jawa hadir terus dalam kesenian. Masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah mengenal sepuluh keahlian. Contohnya adalah wayang tari tembang dan gamelan.
Jaman Kerajaan Majapahit tahun 1314 Prabu Jayanegara menampilkan gamelan di daerah Lumajang. Gamelan Jawa juga mempunyai sejarah yang panjang. Seperti halnya kesenian atau kebudayaan yang lain, gamelan Jawa dalam perkembangannya juga mengalami perubahan perubahan. Perubahan terjadi pada cara pembuatannya, sedangkan perkembangannya menyangkut kualitasnya. Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan karaton.
Untuk bahan legitimasi memang perlu. Dewasa ini siapa saja yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan gamelan Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka.
Karaton Demak yang berdiri tahun 1478 menggunakan adat istiadat untuk memperkokoh jati diri. Raden Patah Jumbun Sirullah Syah Alam Akbar didukung wali sanga. Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianut.
Sunan Bonang membuat piranti gamelan Bonang pada tahun 1479. Istilah gamelan telah lama dikenal sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa kuno. Kata gamelan terjadi dari pergeseran atau perkembangan. Piranti tabuh adalah alat untuk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan ditabuh berulang ulang. Barang yang sering dipukul namanya pukulan. Barang ini sering diketok namanya kethokan. Orang Jawa mengenal kothekan.
Sistem pembelajaran seni dengan tertib. Pemahaman seni perlu sekali. Definisi gemelan ini bergeser atau berkembang menjadi biasa. Mungkin juga karena cara membuat gamelan itu adalah perunggu. Bunyi gamelan merupakan suatu hasil dari benda ditabuh.
Piranti gamelan berkembang. Musik musik etnis untuk memainkan dipergunakan alat pukul. Gamelan gamelan kuna yang masih ada, seperti Gamelan Megamendung dari Kanoman Cirebon, Kyai Guntur Laut dari Majapahit. Manusia memang selalu tidak puas kepada apa yang sudah tersedia.
Baik selalu ingin mengembangkan apa yang sudah ada. Alat musik etnis tradisional ritualis menjadi alat musik religius. Lantas kemudian menjadi musik sarana, yaitu gamelan untuk dakwah, untuk sarana pendidikan, untuk media penerangan. Kinarya pepadhang.
Kerajaan merupakan jaman gamelan sebagai sarana ini jumlah unitnya selalu mengalami penambahan. Piranti ragam kendang, alat musik petik, alat musik gesek, bahkan tambur, terbang, jedor, bedug. Juga masuk ke dalam anggota musik gamelan. Anak muda sekarang ada yang ingin menbuat unit gamelan dengan cara gong dibalik diisi kerikil dan dibunyikan dengan memukul bahu. Kempul diberi kerikil di dalamnya, bonang dipukul dengan penabuh tambur pada badan. Kreatif tetap pakem. Nabuh gamelan merupakan sarana meditasi.
Wahana pitutur luhur. Pengertian juru Pradangga. Arti Pradangga sama dengan gamelan. Makna prada dan angga artinya yang punya badan mengkilat. Adi artinya baik, Guna artinya kepandaian, ilmu pengetahuan atau manfaat, Sarana artinya alat, Bina artinya membangun, membimbing. Terjadi proses pendidikan karakter.
Jawa adalah komunitas besar. Bangsa adalah orang orang yang bertempat tinggal di suatu tempat yang mempunyai kedaulatan sendiri dan pemerintahan sendiri. Jika gamelan itu digunakan dengan sebaik baiknya bisa sebagai alat untuk mendidik bangsa. Suatu kenyataan bila mendengar uyon uyon rasanya dibawa ke alam bayangan yang serba nikmat. Sarana untuk mendapatkan suasana emat matan.
B. Suara Gamelan Memancarkan Aura Kewibawaan.
Raja Pajang adalah Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama. Putra Kebo Kenongo ini menjadi pelopor upacara adat yang memadukan beragam unsur budaya. Pada tahun 1546 diadakan upacara di umbul Pengging. Hadir pula Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Banyubiru.
Murid murid Syekh Siti Jenar turut mengembangkan seni karawitan. Bagi masyarakat Jawa gamelan mempunyai fungsi estetis. Seni karawitan yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Warga bangsa harus bangga memiliki alat kesenian tradisional gamelan. Keagungan gamelan sudah jelas ada. Dunia mengakui bahwa gamelan adalah alat musik tradisional timur yang dapat mengimbangi alat musik Barat. Di dalam suasana ayem tentrem, suara gamelan mendapat tempat di hati masyarakat. Suara yang mengalun membahana di alam raya.
Sultan Agung Prabu Hanyakra Kusuma sejak tahun 1613 menggunakan gamelan untuk upacara kenegaraan. Lantas raja Mataram ini menciptakan kitab Sastra Gendhing. Keselarasan cipta rasa, karsa karya.
Paugeran seni karawitan diteruskan oleh Sinuwun Amangkurat Agung sejak tahun 1645. Nada menjadi bahan pertimbangan. Gamelan adalah alat kesenian yang serba luwes. Di bawah ini sebagai contoh keluwesan gamelan. Gamelan dan pendidikan. Gamelan dapat digunakan untuk mendidik rasa keindahan pribadi manusia.
Pujangga Kraton berusaha untuk membuat keselarasan. Misalnya Kyai Yasadipura pujangga Karaton Surakarta tahun 1756 menciptakan syair untuk iringan karawitan. Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan, rasa setiakawan tumbuh, tegur sapa halus, tingkah laku sopan. Semua itu karena jiwa seseorang menjadi sehalus irana.
Gamelan dan beksan berhubungan. Gamelan memang tidak bisa dipisahkan dengan tarian. Gamelan memang alat untuk mengiringi tari tarian. Gamelan bisa untuk mengiringi semua macam beksan. Tarian klasik maupun tarian modern gamelan selalu bisa digunakan untuk mengiringinya. Gamelan sebagai sarana pemujaan nenuwun.
Raden Ngabehi Ranggawarsita tahun 1832 menciptakan notasi gendhing palaran. Dulu gamelan mula mulanya digunakan untuk pemujaan kepada roh roh baik roh halus, maupun arwah leluhur upacara ritual Gamelan. Memang agama ageming aji.
Karaton Surakarta Hadiningrat yang berdiri tanggal 17 Sura 1745 menggunakan gamelan untuk iringan upacara.
Upacara ritual gamelan berkembang menjadi bersifat keagamaan, sebagai sarana untuk membuat suasana hening, untuk pemusatan perhatian. Gamelan dan dakwah alat syiar yang efektif lan mikolehi.
Wirama gamelan sekaten setahun sekali dibawa ke halaman masjid. Di sana gamelan sekaten dibunyikan. Bunyi gamelan sekaten punya daya tarik yang sangat besar. Tiap gamelan sekaten dibunyikan banyak orang berdatangan dan berkumpul dekat gamelan sekaten itu. Kemudian setelah orang orang sudah datang maka dakwah agama Islam dimulai. Gamelan dan olah raga. Gamelan bisa untuk mengiringi olah raga dan olah rasa.
Irama gendhing disesuaikan dengan irama senam tersebut. Gamelan dan peralatan. Rasanya sepi apabila dalam suasana perhelatan tidak ada suara gamelan. Gamelan dapat menambah kemeriahan suasana perhelatan. Gamelan dan Tamu Agung sama rawuh.
Kerajaan Mataram di Jawa punya tradisi bila ada tamu agung datang mesti disambut dengan suara gamelan, biasanya gamelan Monggang di Karaton Surakarta atau dengan gamelan biasa. Gendhing sesuai dengan irama langkah tamu. Jelas masih banyak lagi tentang keluwesan gamelan yang mengalun sakral, ngumandang ing awang awang.
Ki Nartosabdo sejak tahun 1958 aktif menciptakan lagu karawitan. Dalam buku yang berjudul Sri Lestari an Introduction to Gamelan dikatakan gamelan is one of the traditional musical instruments of Indonesia. It is one of the most complete and highly developed orchestras in Indonesia. Gamelan is also called gangsa krama or pradonggo kawi. Most of the instruments are made of bronze, an alloy of 10 parts copper tembaga and 3 parts tin rejasa. Gangsa campuran tiga nikel lan sedasa tembaga.
C. Piranti Pengajaran Seni Karawitan.
Ilmu iku kelakone kanthi laku. Pewarisan ketrampilan diturunkan dengan belajar. Seni karawitan perlu dikenalkan kepada peserta didik, supaya warisan luhur nenek moyang tetap lestari. Pengenalan karawitan bisa melalui sekolah, sanggar, paguyuban, media cetak, media elektronik. Terlebih dulu para peserta didik mendapatkan informasi tentang dasar dasar kesenian.
Gamelan atau instrumen Jawa yang kerap dilihat hendaknya dikenalkan nama, kegunaan serta jenis jenisnya. Kendang, bonang, kenong, kempul, kethuk, gong, peking, saron, demung, slenthem, gender, rebab, gambang, suling, siter barangkali sudah amat populer. Gambar, foto, rekaman video, siaran televisi biasa sekali menayangkan jenis-jenis instrumen gamelan.
Aktivitas pengenalan karawitan sekaligus bentuk apresiasi. Alat musik tradisional kerap digunakan sebagai pelengkap kegiatan ritual, kesenian, dan hiburan masyarakat Jawa. Ruang karawitan biasanya lumayan luas. Jumlah ricikan gamelan yang banyak memang memerlukan tempat longgar. Kenyamanan tempat gamelan sangat dianjurkan. Sebetulnya seni karawitan terkait dengan keindahan, kemegahan, kemewahan.
Definisi rawit sendiri bermakna halus, njlimet, bermutu, anggun, agung. Ungkapan bahwa seni karawitan itu begitu kompleks, sempurna, lengkap itu ada benarnya. Misalnya untuk iringan wayang purwa perlu notasi khusus. Kualitas instrumen gamelan bertingkat tingkat, sesuai dengan jenis bahannya. Tentu saja berbeda juga harga, mutu, dan daya pikatnya.
Gamelan dari bahan besi, kuningan, baja, perunggu dapat dijumpai di daerah Bekonang Sukoharjo Jawa Tengah. Di sana menjadi tempat sentra industri gamelan yang produksinya sudah menyebar di berbagai belahan dunia. Industri gamelan ini mampu menembus pasar global. Contoh tradisi pengajaran gamelan dapat dijumpai di Grogol Mojorembun Rejoso Nganjuk Jawa Timur.
Tahun 1980 bertempat di pendapa carik diselenggarakan latihan karawitan. Jadwalnya seminggu empat kali. Terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok ibu ibu dan kelompok bapak bapak. Dalam konteks sistem pembelajaran ini perlu dikenalkan teknik sindhenan cengkok srambahan lan abon abon. Pelatih ternama waktu itu Bapak Tarimin. Punya nama kebesaran Ki Hardjo Soekondho.
Beliau pelatih seni tradisi kerawitan yang ahli, pintar, trampil dan betul betul mumpuni. Semua indra dapat menguasai suara gamelan. Bunyi bunyi setiap instrumen diberi tanda. Para muridnya dengan mudah mengikuti materi pengajaran. Tiap mengajar gendhing karawitan, beliau tidak lupa membawa kertas, pena, kapur dan penghapus. Papan tulis sudah tersedia permanen.
Tiap hari Pak Tarimin atau Ki Hardjo Soekondho mencatat lagu, notasi dan petunjuk nabuh gamelan. Tulisannya rapi, tertata, bersih, urut dan ilmiah. Ketertiban membuat dokumentasi gendhing gendhing karawitan mendatangkan rasa hormat di kalangan seniman. Kolega kolega waranggana, wiyaga, penari, dalang berhubungan dengan Ki Hardjo Soekondo untuk bertukar pikiran dan meminjam buku catatan gendhing. Seolah olah beliau seni yang selalu memberi pencerahan. Gamelan menjadi sarana untuk melestarikan budaya adi luhung.
Ada jaman bahagia. Paguyuban PKK Sinar Remaja Grogol Mojorembun Rejoso Nganjuk berlatih seni karawitan tahun 1982. Ki Hardjo Soekondo juga terkenal sebagai dalang. Pocapan, janturan, sabet, suluk dan teknik-teknik pedalangan kerap diajarkan pada murid muridnya. Sebagai pelaku seni Jawa kemampuannya boleh dibilang lengkap. Di mata siswanya, Pak Tarimin atau Ki Hardjo Soekondo memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin amat tinggi. Jika mengajar, mimiknya terlalu serius.
Tahun 1984 siswa SMP Rejoso Nganjuk Jawa Timur latihan seni karawitan. Ada lagi metode pengajaran gamelan tradisi. Tempatnya di pendapa desa Talang Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Pengajarnya bernama Bapak Djianto. Beliau pengrawit ulung dan seorang dalang. Keistimewaannya dalam memberi pelajaran kerawitan lebih menekankan notasi buku. Beliau menyusun buku yang berisi materi pengajaran seni kerawitan. Notasi dan cakepan disusun dengan rapi.
Siswa yang belajar diberi buku catatan sesuai dengan instrumen yang ditabuh. Sampul tertera tulisan buku kempul, kenong, bonang, saron, demung, peking, slenthem. Wilahan gamelan diberi tanda urut angka. Siswa tinggal mengikuti petunjuk nabuh gamelan. Beliau selalu menganjurkan untuk tidak menatap fisik instrumen gamelan.
Saat nabuh diharapkan mata berkonsentrasi membaca notasi buku. Terus menerus belajar begitu, sehingga tangan siswa hafal jarak wilahan instrumen. Sedang matanya terbiasa membaca notasi dengan tepat dan cepat. Ricikan atau jenis-jenis instrumen gamelan yang perlu dikenal.
Berbahagia sekali pada tanggal 24 Maret 2004 diadakan pengenalan instrumen gamelan. Diselenggarakan oleh Paguyuban Seni kentrung Jenggala Manik, Jl Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta. Sebagai narasumber Dra Triyanti alumni IKIP Surabaya.
1. Bonang barung
2. Bonang penerus
3. Bonang panembung
4. Gender barung
5. Gender penerus
6. Gender panembung
7. Eneng-eneng
8. Reyog
9. Saron barung
10. Saron penerus
11. Saron panembung
12. Saron panacah
13. Curing
14. Salukat
15. Dhempling
16. Centhe
17. Gambang gangsa
18. Gambang kayu
19. Salangsang
20. Galunggung petung
21. Salundhing
22. Senggani
23. Kethuk pelog
24. Kethuk barang
25. Kethuk kungkang
26. Kethuk wayang
27. Kenong
28. Kenong japan
29. Kemanak
30. Kempyang
31. Kendhang sabet
32. Kendhang sabet wayangan
33. Kendhang kosek
34. Kendhang bem
35. Kendhang ciblon
36. Kendhang ketipung
37. Kendhang carabalen
38. Suling
39. Dremen
40. Bangsi
41. Sangkakala
42. Gong suwukan
43. Gong barang
44. Gong ageng
45. Gong kemodhong
46. Gong bumbung
47. Jes
48. Lesung
49. Kothak
50. Lumpang
51. Gambyong
52. Klenong
53. Klemit
54. Jedhor
55. Alu
56. Thimplungan
57. Demung
58. Peking
59. Lumpang
60. Gurnang
61. Puksur
62. Tambur
63. Pandhen
64. Daludag
65. Bendha
66. Bindhi
67. Pluntus
68. Klanthe
69. Krimpring
70. Kepyek
71. Trethek
72. Bumbungan
73. semprit
74. Oprak.
75. Teplek.
Masing piranti gamelan itu memiliki sejarah tersendiri. Pak Dasah di Bekonang Sukoharjo pada tanggal 20 Juli 2010 menerima pesanan gamelan dari Sanggar Seni Pustaka Laras Yogyakarta.
D. Tata Krama Nabuh Gamelan.
Betul betul mengharukan. Pengajaran seni karawitan di SMA Sei Rampah Serdang Bedagai Sumatra Utara tanggal 16 Agustus 2026. Drs Joni Walker Manik MM Kepala Dinas Pendidikan dan Ir H Soekirman Bupati Sergai turut memberi dukungan.
Cara pelatihan itu ditujukan warga transmigrasi. Nabuh
Bidang apa saja akan mulia bila disertai dengan aspek etika. Nabuh gamelan pun akan berwibawa bila tetap memegang teguh tata krama. Dalam lingkungan pengrawit ada nilai dasar yang dijunjung tinggi. Misalnya saja pantang untuk melangkahi instrumen gamelan. Jalan harus lewat celah ruang yang disediakan.
Tatanan gamelan dibuat serasi, sesuai dengan tradisi yang sudah berlaku dan disepakati. Tertib menciptakan keanggunan. Mengubah posisi asal asalan bisa membikin perasaan yang normal menjadi terganggu. Di situ terjadi bibit-bibit sengketa yang tidak harmonis. Sebaiknya tradisi, adat dan pengalaman kolektif tidak diabaikan, hanya demi sebuah kreasi. Ini bentuk penghormatan pada senior dan sejarah. Pengajarannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Kenyataannya bila terjadi paham tradisi dan kreasi. Penganut aliran tradisi meyakini bahwa pengalaman dan praktek seni yang sudah berlaku jangan diubah ubah.
Perubahan dianggap sebagai pelanggaran. Sebaliknya penganut paham kreasi menghendaki penciptaan seni baru. Dunia berjalan dinamis. Perubahan adalah keniscayaan. Jangan halang halangi segala bentuk kreativitas seni. Keyakinan ini banyak diyakini oleh kalangan generasi muda. Jalan tengah masing-masing pihak perlu mengendalikan diri. Harus belajar untuk saling menghormati. Untunglah tokoh Ki Nartosabdo mendapat banyak apresiasi.
Pada tanggal 1 Mei 2018 dilakukan kursus gamelan di SMP Pegajahan Serdang Bedagai Sumatra Utara. Pengajar karawitan hendaknya mengetahui, memahami dan menyadari arti penting pengajaran seni.
Siswa belajar itu meningkatkan kemampuan diri dalam bidang kesenian. Mereka diharapkan trampil berkesenian.
Harapan terbuka lebar. Pada masa depan mereka mampu berkesenian secara mandiri. Lebih lagi menggembirakan para siswa dapat melakukan pengembangan dan pelestarian. Jadi proses belajar mengajar itu bukan untuk kepentingan pengajar. Pelajar seni harus lebih diutamakan kepentingannya.
Kegiatan pengajaran seni merupakan aktivitas pewarisan peradaban. Posisi pengajar merupakan bagian dari mediator budaya. Transformasi nilai estetis kerawitan melalui para pengajar. Alangkah mulianya tugas itu. Disadari bahwa pengajar kerawitan adalah pelestarian seni adi luhung. Pada masa jaman Jawa kuna sudah mengenal jenis jenis instrumen.
Materi pengajaran seni karawitan untuk warga Sergai pada tanggal 28 Pebruari 2020 perlu selektif, mudah dan menyenangkan. Jangan sampai kerawitan menjadi beban yang amat menakutkan. Biarlah mereka nabuh jenis lagu yang termudah. Misalnya gangsaran loro. Semua siswa disuruh nabuh secara serempak. Notasi notasi loro ditabuh bareng. Siswa pasti tidak mengalami kesulitan apa pun. Tidak usah memerlukan daya penalaran. Mereka diajak nabuh notasi loro atau dua sampai sepuas puasnya. Ada baiknya jika para pemuda mau membaca berbagai buku gerong.
Nabuh notasi loro selama empat kali. Kemudian diajak nabuh notasi telu empat kali. Lantas nabuh notasi siji empat kali. Jadilah tabuhan selama dua belas kali. Mereka senang dan puas. Berilah keterangan bahwa jajaran notasi yang ditabuh itu disebut gendhing srepeg manyura. Gendhing manyura menjadi bagian penting pertunjukan wayang.
Wirama wiraga dan wirasa. Dalam satu kali pertemuan siswa sudah berpengalaman diajak nabuh gendhing gangsaran dan srepeg. Ternyata tidak sulit bermain gamelan. Pertemuan awal saja sudah berhasil nabuh gamelan. Mereka akan semakin bersemangat. Masih ada esok. Dalam seni karawitan diharapkan timbul suasana riang gembira.
Edi peni adi luhung terdapat dalam pentas seni karawitan. Sepanjang sejarah telah mewarnai budaya Jawa yang cukup memberi rasa bangga kagum. Sebagai sarana memperkokoh jatidiri.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan