Sejarah Tari Gambyong Sebagai Lambang Kesuburan

Dewi Sri atau Dewi Widowati selalu disebut oleh Prabu Dasamuka di mana saja. Dengan harapan kerajaan Alengka Diraja dan sejahtera. Bathara Wisnu pun berpengaruh atas alam pikiran masyarakat petani. Dunia ini dijaga oleh Sang Hyang Wisnu. Segala makhluk halus dan roh jahat yang dikuasai oleh Bathara Kala hanya bisa dikendalikan oleh Sang Hyang Wisnu.

Upacara sakral ruwatan Murwakala menempatkan Bathara Wisnu se-bagai patron, pelindung dan pelestari alam. Melalui Dhalang Kandha Buwana, Bathara Wisnu menjelma untuk membebaskan dari amukan Bathara Kala. Pasangan Dewa Wisnu dan Dewi Sri dianggap pahlawan bagi petani. Penokohan atas dua figur ini kuat mengakar dalam hati petani.

Diharapkan segala makhluk halus tak mengganggu. Dhandhang Mangore, Nusa Kambangan dan Pasetran Ganda Mayit menjadi sentra lokasi para mahluk halus seperti jin, setan, priprayangan, ilu-ilu, banaspati, engklek-engklek, warudhoyong, thong-thong sot, dhemit, medhon, genderuwo, sundel bolong.

Dengan rapal dan rajah yang dibacakan oleh Dhalang Kandha Buwana, titisan Bathara Wisnu tentu tidak akan sor prebawa atau kalah pamor. Semua lelembut takut oleh mantra sakti warisan Bathara Wisnu yang diutarakan oleh Ki Dhalang Kandha Buwana.

Hama wereng, walang sangit, uler, klabang, kalajeng-king, kala sundep, tikus dan sejenisnya adalah musuh utama bagi petani. Hewan pagebluk ini betul-betul merugikan petani. Cara mengusir hama tanaman ini harus menggunakan aktivitas ritual dan spiritual. Wayang, kledhek, kethoprak, ludruk, jathilan, kentrung, emprak, dhongkrek, srandhul, ndolalak dan reog merupakan sarana mengusir berbagai hama pertanian.

Semua seni tradisional itu disenangi oleh Dewi Sri. Oleh karena itu perlu ditanggap. Masyarakat hendaknya menempuh apresiasi seni sejak dini. Nanggap kledhek berarti rejekinya mbanyu mili, mengalir deras. Sawab dan sawan kledhek berpengaruh pada doa serta panuwun petani. Petani merasakan harapannya terkabul jika kledhek mau mendoakan.

Doa kledhek pasti dipenuhi Tuhan. Kledhek yang mau mendoakan penanggapnya terbukti manjur. Seolah-olah kledhek adalah perantara atau penghubung antara Tuhan dengan petani. Ilmu dan laku kledhek mempermudah komunikasi dengan Sing Nggawe urip.

Sumbaga atau aura spiritual kledhek terpancar saat tampil di panggung. Tangan bergerak, kaki melangkah dan suara melengking, pada saat itulah kledhek tampil dengan segala pancaran wibawa. Sinar yang gemerlapan dari kledhek itu menembus relung-relung jagad raya. Air yang mengalir dan udara yang berhembus pun ikut mengawal keagungan serta keanggunan kledhek. Kutu-kutu walang antaga, iber-iberan serta gegremetan turut bersuka ria.

Langen tayub manivestasi pesta alam. Sejak cikar datang membawa gamelan, para makhluk halus sudah menanti dengan riang gembira. Gamelan digelar bangsa yang tak kasat mripat mulai berdatangan. Mereka berpartisipasi demi kelancaran langen tayub.

Gong gedhe diberi menyan, dupa, sekar, sajen dan kokoh tanda bukti bahwa barisan pedhanyangan menyambut perhelatan. Sepanjang uyon-uyon, gamelan ditabuh pagi sampai sore hari, para penghuni alam lain itu mau merasakan indahnya gendhing-gendhing yang berkumandang memenuhi awang-awang.

Petani yang nanggap tayub percaya akan makmur. Panen berlimpah ruah, jauh dari hama. Padi, palawija, pala pendhem, pala gumandhul, pala kesimpar, karang kitri memberi penghasilan. Sayur dan buah membuat kekayaan bertambah. Tanah, air udara dan api cocok dengan suara gamelan. Di waktu malam mereka berdoa bersama suara kledhek yang mengalun merdu.

Sesungguhnya ada pengaruh gejolak ekonomi terhadap perkembangan seni. Bakul-bakul palen, bakul panganan, bakul dolanan, siap-siap untuk menawarkan dagangan. Penonton ramai, untung pasti berlipat ganda. Palen adalah penjual yang menjajakan mainan, plembungan, slathokan, wayang, kitiran dan ragam dolanan anak-anak. Mereka pindah dari tempat satu ke tempat lain. Dimana saja ada tontonan, bakul palen silih berganti berdatangan.

Keuntungan yang berlipat ganda cukup menghidupi keluarga. Betapa tidak, anak-anak kecil pasti minta dibelikan mainan. Berapa pun harganya, pasti diminta. Modalnya cuma nangis. Orang tua dan kakek nenek meluluskan permintaan anak kecil. Panganan berlimpah ruah saat tayuban berlangsung. Penjual makanan meliputi soto, sega pecel, opak sambel, tepo, tahu, tempe, cucur, ote-ote, ondhe-ondhe, kacang goreng dan gandhos.

Tidak lupa teh panas dan wedang kopi. Duduk jigang, omong-omong dan udut terasa asyik. Suasana gembira ria dirasakan anak-anak, remaja dan orang tua. Berkat nanggap tayub perhelatan terasa sigrak, segar dan menyenangkan. Muka mereka berseri-seri. Panas terik selama kerja di sawah hilang sama sekali. Itulah pengaruh tayuban.

Sepanjang jalan kanan kiri penuh orang berjualan. Anak-anak berlari-lari, bermain-main dengan teman sebaya. Dengan memakai lampu strongking, teplok, senthir dan cublik dirasa lebih dari cukup. Peradaban desa yang dihuni para petani merupa-kan kawasan mandiri, produktif dan kreatif. Sandang, pangan, papan, seni, ritual, diciptakan dan disediakan sendiri.

Selama berabad-abad desa dan petani dihitung dalam pergaulan dunia. Desa dan petani berkontribusi atas dinamika peradaban. Desa adalah komunitas otarki yaitu masyarakat yang dapat meme-nuhi kebutuhan sendiri secara mandiri. Perlu adanya usaha serius dalam pelestarian seni tari.

Langen tayub telah memutar roda perekonomian. Ujaring mbok bakul sinambi wara, informasi yang bersambung dari mulut ke mulut, gathok tular, menular dari seseorang ke pihak lain. Tontonan tayub akan segera menyebar ke segala pelosok, dari perkotaan, pedesaan dan pegunungan. Kesenian tradisional yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

C. Lambang Kesuburan untuk Pertanian

Kraton Surakarta yang didirikan oleh Sinuhun Paku Buwana II pada tanggal 17 Suro 1745 selalu menyertakan sajian tari gambyong. Terutama untuk pementasan di wilayah karang padesan. Dengan tujuan para petani mendapat perlindunagn spiritual sehingga hatinya menjadi ayem, ayom.

Para petani selalu mengharapkan kesuburan buat tanamannya. Dewi Sri dianggap sebagai lambang kesuburan di tanah Jawa. Ki Ageng Tarub sebagai suami Dewi Nawangwulan diharapkan membawa berkah bagi dunia pertanian. Masyarakat Jawa yang berprofesi sebagai petani di pedesaan pada saat panen kerap mementaskan seni langen tayub.

Kledhek adalah seniwati yang bertugas menari dan menyanyi pada saat pagelaran seni langen tayub. Sepanjang Pegunungan Kendheng yang berjajar-jajar mulai dari Kabupaten Pati, Sragen, Grobogan, Blora, Tuban, Ngawi, Bojonegoro, Nganjuk dan Lamongan langen tayub berkembang sebagai seni adi luhung dan edi peni.

Nanggap kledhek dipercaya akan mendatangkan kesuburan serta kemakmuran. Para petani meyakini bahwa tari gambyong kledhek merupakan seniwati yang dipersembahkan kepada Dewi Sri. Sejak jaman kraton kuno, Dewi Sri selalu menjaga tanaman padi di tanah Jawa, agar tumbuh dengan subur. Ketika Dewi Sri nganglang jagad, maka padi yang ditanam oleh petani kalis ing sambekala.

Segala macam hama: wereng, tikus, uler, kala sundep, walang sangit akan menyingkir dan disengker di Gunung Kendheng.Kehadiran kledhek memang diperlukan oleh petani. Nanggap langen tayub menjadi kewajiban pada saat nyadran, bubak bumi dan bersih desa. Tari gambyong dalam pentas seni tayub menjadi sarana untuk memperoleh jiwa yang ayem tentrem.

Untuk mencapai tujuan mulia ini, seorang kledhek, waranggana, ronggeng, ledhek, lengger atau tayub wajib menempuh ngelmu dan laku. Kledhek perlu ngadi salira, ngadi busana. Tata cara ngelmu laku kledhek dilakukan dengan tapa ngrame, tapa ngidang, tapa ngeli, tapa ngalong, tapa kungkum, tapa ngrowot dan tapa pati geni.

Para penari gambyong ini kerap menjalankan lelaku di Gunung Donorojo, tempat bertapanya Kanjeng Ratu Kalinyamat. Tidak lupa kungkum di Grojogan Sewu, ereng-erenging Gunung Wilis. Kadang kala mengheningkan cipta di pesisir Segara Kidul. Tujuannya supaya mendapat anugerah sumbaga dan perbawa, sinar sri panggung yang mempunyai daya pikat lahir batin.

Pada tanggal 24 April 2001 diselenggarakan gembyangan waranggana tayub. Acara ini dihadiri oleh Bupati Nganjuk Jawa Timur, Dr. Soetrisno R, M.Si. Tempatnya di desa Ngrajek Sambirejo Tanjung Anom Kabupaten Nganjuk. Terlebih dulu dimulai dengan pasugatan tari gambyong pangkur.

Pimpinan makhluk halus di sekitar gunung Kendheng, Gunung Wilis, Gunung Pandhan dan Gunung Lawu menyukai sepuluh gendhing yang dipakai gembyangan kledhek. Ketika gendhing tadi diiringi suara gamelan seketika para dhanyang sama mbeksa, njoged dan menari riang gembira.

Oleh karena itu kesepuluh gendhing sakral ini menjadi sajian wajib saat upacara sakral gembyangan waranggana. Sajian gendhing ritual ini sesuai dengan tuntunan pakem.

1. Eling-eling
Muji sukur marang kang Maha Kuwasa
Keparengan kula matur
Pra seniman seniwati
Saking Ngrajek Sambirejo
Kang sampun sawega gati
Murwakani nugrahane Gusti

2. Golekan
Bersih desa pancen perlu
Kanggone kawula iki
Kasembadan kang sedyane
Murah sandhang boga yekti

3. Bendungan
Para tani padha nungkul
Kedhuk bumi nggarap sawah
Murih dana murah pangan
Sandhang kalawan papan

4. Teplek
Braja Karna, Karna pinutra Jawata
Karerantan, kepanggya sekedhap
Bersih desa den pepetri
Caos dhahar cikal bakal
Ingkang hambabat desa iki
Kabeh para dhanyang desa
Tuwa mudha jaler estri
Yo ayo para kanca
Gumregah bareng njangkah
Ngluhurake kabudayan
Amurih aruming bangsa

5. Gangga Mina
Pra kanca kula sadarum
Ingkang sami ngupaya mina
Kalisa ing sambikala
Katekan kang sinedya
Dhuh Gusti Kang Maha Agung
Tansah paringa pepadhang
Dhumateng para kawula
Nelayan ing samudra

6. Astrakana
E astrakana 2x
Gedhang garing limpang limpung 2x
Dhondhong rete-rete 2x
Aku condhong karo kowe 2x
E, yo ayo kanca 2x
Saiyek saeka praya 2x
Sing guyub sing rukun 2x
Mengeti bersih desa
Setahun sepisan dha elinga

7. Ana Ini
Ana ini ana 2x
Wiwit jaman kuna
Apa wae wis ana
Mbudidaya den lestarekna
Jroning padha makarya
Aja padha sembrana
Kudu eling lan waspada
Ja ninggal adat tata cara
Setahun pisan dha eling

8. Gandariya
Gandrung gandariya
E gandrung manuke apa
Manuk manuk podhang
Mencoke neng papah gedhang
Mencoke ing sampiran
Re re sawo glethak
Njenggelek tangi maneh

Dayane banyu sumur tan sedhudha
Sumorot cahyane
Jamas rikma sarira tirta
Cundhuk kembang kanthil kenanga
Re re sawo glethak
Jenggelek tangi maneh

9. Ijo-ijo
Ijo-ijo muluk-muluk
Sampur ijo wis keceluk
Saiki wus kesayuk
Para waranggana sak Nganjuk
Kabeh padha suka-suka
Prangkat desa lan kawula
Wus kelakon bersih desa
Waranggana wis kawisuda

10. Kembang Jeruk
Paripurna paripurna
Sukuran bersih desa
Sami nir ing sambekala
Sumangga sami sesanti
Jaya jaya wijayanti
Tungkul ngawula negari
Satemah lulus lestari
Wisuda waranggana menjadi sarana rekonsiliasi antara jagad lahir dengan jagad batin. Kledhek yang diwisuda diberi cundhuk mentul yang melambangkan sudah resmi menjadi waranggana. Kemudian disuruh memegang godhong waru, yang melambangkan katresnan sejati. Siraman air dari grojogan Sedhudha agar kalis ing sambekala. Upacara sakral ini berlangsung dan wajib dilakukan sebelum waranggana, kledhek, tandak, pesindhen atau ronggeng tampil di pasaran.

Kledhek yang misuwur, kondhang, kawentar, kasusra, tenar dan ternama mesti diperoleh dengan cara ngelmu dan laku. Ketrampilan dan pengalaman dengan yakin berguru kepada kledhek senior dan para sesepuh. Lelaku dengan menjalankan lara lapa tapa brata.

Tari gambyong sebagai lambang kesuburan sangat perlu dipentaskan secara terus menerus. Dengan pagelaran tari gambyong ini para petani akan giat bekerja, sehingga negara tercukupi sandang pangan papan.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *