Oleh: Dr Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Ludruk Sebagai Sajian Seni Kerakyatan
Seni ludruk berkembang di kawasan Jawa Timur sejak kota Surabaya dipimpin oleh Pangeran Pekik pada tahun 1618. Pementasan seni ludruk mengambil lakon kehidupan sehari-hari. Tokohnya terdiri dari lurah, carik, kamituwa, jagatirta, jagabaya dan kebayan.
Kanjeng Ratu Pandansari memiliki usaha perkebunan di daerah Somobito Jombang. Untuk menghibur karyawan yang bekerja di kebun maka diadakan pentas sandiwara ludruk. Pada pentas tahun 1619 kali ini panggung dan kostum dibuat sangat megah. Lakonnya mengambil cerita Naga Baru Klinthing. Unsur kesaktian dan keteladanan sangat diutamakan dalam pementasan.
Cerita tentang perjuangan Arya Wiraraja dipentaskan di Tambaksari Surabaya pada tahun 1813. bertindak sebagai sponsor yakni Raden Ajeng Sukaptinah putri Bupati Pamekasan Madura. Tujuan pentas ludruk kali ini agar arek-arek Surabaya mewarisi nilai kepahlawanan yang pernah dilakukan oleh Arya Wiraraja dalam membantu berdirinya kerajaan Majapahit.
Untuk memperoleh momen tentang seni ludruk perlu kiranya diulas tentang latar belakang, iringan musik, kidungan, dan sejarah pertunjukan. Seni adalah ungkapan perasaan manusia yang berwujud keindahan. Seni edi peni merupakan ciptaan yang mengandung unsur puncak-puncak rasa indah. Seni adi luhung merupakan cipta rasa yang mengandung nilai keluhuran. Gabungan antara seni edi peni dan seni adi luhung menjadi pendukung utama terbentuknya kebudayaan.
Perkembangan kebudayaan Jawa dari masa ke masa selalu menyertakan kesenian sebagai unsur yang penting. Raja-raja bangsawan, pujangga dan pemuka masyarakat terlibat aktif dalam proses penciptaan kesenian. Bahkan kesenian yang bermutu tinggi menjadi sarana legitimasi kekuasaan. Legitimasi kraton Jawa mesti dihadirkan dalam rupa pentas kesenian, misalnya saja saat Jumenengan raja di Kraton Surakarta senantias diiringi dengan Beksan Bedhaya Ketawang. Tari sakral yang berdurasi dua jam menjadi sajian unutk mengokohkan eksistensi Kanjeng Sinuwun.
Dalam masyarakat desa pun kesenian menjadi alat untuk menjaga kesuburan dan suasana ayem tentrem. Tiap waktu panen padi petani nanggap seni tayub. Tujuannya unutk menghormati Dewi Sri. Masyarakat Jawa percaya bahwa Dewi Sri merupakan penguasa tanaman padi. Pentas seni gambyong tayub berorientasi pada kehidupan petani. Kegiatan merti dhusun, bersih desa, nyadran mesti menampilkan kesenian. Nanggap wayang purwa dianggap akan mendatangkan keselarasan dengan lingkungan.
Pementasan seni yang ditujukan untuk hiburan semata. Masyarakat memang memerlukan kesenangan yang bersifat rekreatif. Setelah bekerja berhari-hari, mereka haus hiburan untuk melepaskan lelah. Rasa penat, lungkrah, susah terobati dengan hadirnya kesenian. Fungsi pendidikan dalam seni terletak pada teks-teks yang memuat ajaran, piwulang dan pembinaan. Diharapkan peserta didik akan tercerahkan jiwanya setelah mempelajari nilai luhur seni. Dalam bidang ritual, kesenian menjadi sarana masyarakat untuk mencapai ketentraman lahir batin.
Masyarakat Jawa sudah lama mengenal seni, terutama gamelan dan wayang. Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak.
Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.
Seni gamelan Jawa mengandung nilai-nilai historis dan filosofis bagi bangsa Indonesia. Dikatakan demikian sebab gamelan Jawa merupakan salah satu seni budaya yang diwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni. Secara hipotetis, sarjana Brandes (1889) mengemukakan bahwa masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah mengenal sepuluh keahlian, di antaranya adalah wayang dan gamelan.
Menurut sejarahnya, gamelan Jawa juga mempunyai sejarah yang panjang. Seperti halnya kesenian atau kebudayaan yang lain, gamelan Jawa dalam perkembangannya juga mengalami perubahan-perubahan. Perubahan terjadi pada cara pembuatannya, sedangkan perkembangannya menyangkut kualitasnya. Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana.
Kini siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka. Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.
Istilah gamelan telah lama dikenal di Indonesia, sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa kuno. Arti kata gamelan, sampai sekarang masih dalam dugaan-dugaan. Mungkin juga kata gamelan terjadi dari pergeseran atau perkembangan dari kata gembel. Gembel adalah alat untuk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan dipukul-pukul.
Barang yang sering dipukul namanya pukulan, barang yang sering diketok namanya ketokan atau kentongan, barang sering digembel namanya gembelan. Kata gembelan ini bergeser atau berkembang menjadi gamelan. Mungkin juga karena cara membuat gamelan itu adalah perunggu yang dipukul-pukul atau dipalu atau digembel, maka benda yang sering dibuat dengan cara digembel namanya gembelan, benda yang sering dikumpul-kumpulkan namanya kempelan dan seterusnya gembelan berkembang menjadi gamelan.
Dengan kata lain gamelan adalah suatu benda hasil dari benda itu digembel-gembel atau dipukul-pukul. Musik-musik etnis di Indonesia 90% jenis musik perkusif, artinya untuk memainkannya dipergunakan alat pukul. Gamelan-gamelan kuna yang masih ada, seperti Gamelan Megamendung (dari Kanoman Cirebon), Kyai Guntur Laut (dari Majapahit), dan Gamelan Sekaten jumlah unitnya masih sedikit.
Manusia memang selalu tidak puas kepada apa yang sudah ada. Kita selalu ingin mengembangkan apa yang sudah ada. Alat musik etnis ritualis menjadi alat musik religius, kemudian menjadi musik sarana, yaitu gamelan untuk dakwah, untuk sarana pendidikan, untuk media penerangan. Pada jaman gamelan sebagai sarana ini jumlah unitnya selalu mengalami penambahan, antara lain ditambah macam-macam kendang, macam-macam alat musik petik, macam-macam alat musik gesek, bahkan tambur, terbang, jedor, bedug dan lain-lain masuk ke dalam anggota musik gamelan.
Anak muda sekarang ada yang ingin mengembangkan unit gamelan dengan cara gong dibalik diisi kerikil dan dibunyikan dengan memukul bahunya, kempul diberi kerikil di dalamnya, bonang dipukul-pukul dengan pemukul tambur pada badannya, dan lain-lain. Pradangga Adi Guna Sarana Bina Bangsa. Arti kata motto tersebut adalah Pradangga sama dengan gamelan (prada + angga) artinya “yang punya badan mengkilat”.
Adi artinya baik, Guna artinya kepandaian, ilmu pengetahuan atau manfaat, Sarana artinya alat, Bina artinya membangun, membimbing atau mendidik, sedangkan Bangsa adalah orang-orang yang bertempat tinggal di suatu tempat yang mempunyai kedaulatan sendiri dan berpemerintahan sendiri.
Arti kata secara bebas “Apabila gamelan itu digunakan dengan sebaik-baiknya bisa sebagai alat untuk mendidik bangsa”. Adalah suatu kenyataan bila kita mendengar uyon-uyon rasanya seperti kita dibawa ke alam impian yang serba nikmat, lupa segala-galanya.
Seni mempunyai fungsi dan wujud yang beragam. Bagi masyarakat Jawa gamelan mempunyai fungsi estetika yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Kita harus bangga memiliki alat kesenian tradisional gamelan. Keagungan gamelan sudah jelas ada. Dunia pun mengakui bahwa gamelan adalah alat musik tradisional timur yang dapat mengimbangi alat musik Barat yang serba besar. Di dalam suasana bagaimanapun suara gamelan mendapat tempat di hati masyarakat.
B. Teater Ludruk
Kesenian dapat menjadi cermin masyarakat pendukungnya. Bahasa, tari, drama, sastra, dan hiasan mudah ditemukan dalam panggung seni sandiwara. Kesenian sandiwara sering kali dijadikan sebagai ungkapan cita-cita kolektif yang sedang berkembang. Curahan hati yang diekspresikan dalam bentuk drama pada umumnya dilakukan secara fleksibel.
Ludruk merupakan seni sandiwara khas yang tumbuh di Jawa Timur. Sesuai dengan karakter masyarakat Jawa Timur, ludruk sungguh mewakili dan mudah sekali dikenali. Syarat pementasan ludruk telah disepakati bersama, yaitu menggunakan dialek Surabayan.
Meskipun menggunakan bahasa Jawa krama, tetap terdapat warna kental bahasa Jawa Timuran. Bahasa ini dikenal agak kasar, namun merakyat. Unggah-ungguhing basa tidak diperhatikan secara njlimet. Titik tekannya adalah asek komunikatif. Rakyat awam gampang sekali memahami bahasa seni ludruk.
Pesan-pesan pendidikan kerap kali dimunculkan dalam bahasa ludrukan. Misalnya dalam kidungan Jula-Juli, di samping diungkapkan melalui humor, tetapi tidak jarang diselipkan ajaran-ajaran moral bagi masyarakat. Kadang-kadang kidungan Jula-juli itu memakai bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Jawa, sehingga tampak lebih familiar.
Jula-juli
Aku seorang seniman
Berasal dari Surabaya
Aku sedang siaran
Untuk menghibur anda semua
Joget mari joget
Joget aja ngaget
Joget mari joget
Tra la la la la la
Sawo kecil ditumpakne sepur
Sawo kecik ya dironce-ronce
Sapa pengin uripe makmur
Ayo sing sregep nyambut gawe
Purwodadi iku kuthane
Sing dadi rak nyatane
Cekap semanten kidungan kula
Menawi lepat nyuwun ngapura
Syair kidungan di atas dalam penyusunannya terasa lebih bebas, mudah dicerna dan tidak terikat oleh ketentuan puisi tradisional. Dibandingkan dengan metrum tembang macapat, tentu saja kidungan Jula-juli akan nampak lebih merakyat. Syair-syair yang sederhana itu mudah dibuat dan dimengerti oleh orang kebanyakan. Maka tidak heran bila ideologi-ideologi politik, nilai kebangsaan dan semangat perjuangan menjadi tema dasar kidungan Jula-juli.
E ela elo sawone dipangan uler
E ela elo bocah bodho aja ngaku pinter
Kutipan di atas jelas mengandung aspek pendidikan. Orang tidak boleh keminter. Kalau ingin maju, seseorang harus mau mengakui kekurangannya. Terlebih-lebih dalam menuntut ilmu, orang hendaknya andhap asor atau rendah hati. Beberapa paguyuban ludruk di antaranya adalah Baru budi, Sari Murni, Naga Sakti, Langen Trisno, Kartika Baru, Suzana Baru, Baru Budi Jaya, Seni Budaya, Kopasgat Trisula Darma, Panca Marga, Graha Budaya, Sinar Budaya, Enggal Trisno, Indah Jaya, Tri Jaya, Sriwijaya, Persada dan Taruna Budaya.
Ludruk Kopasgat pada tahun 1983 pentas di desa Mojorembun Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Penonton diwajibkan untuk membayar karcis seharga Rp. 100. Uang segitu kalau dibelikan beras bisa mendapat 4 kg. Jadi harganya untuk beli karcis mahal juga. Meskipun mahal karcis terjual habis. Penonton selalu datang berjubel.
Kata-kata mutiara Jawa yang berbunyi becik ketitik ala ketara menjadi peagngan utama seorang penyusun lakon ludruk. Lakon atau cerita biasanya menampilkan suri teladan bagi masyarakat. Kejahatan mesti dikalahkan oleh kebenaran. Pengkhianatan tak mungkin lestari, oleh jiwa perjuangan. Bagi penonton ludruk lakon yang baik mesti memberi pencerahan jiwa.
Berhubung seni ludruk itu berkembang di tengah rakyat biasa, maka penyusunan lakon yang ditampilkan selalu bersumber dari situasi masyarakat sekelilingnya. Hampir semua struktur sosial dapat diperagakan lewat ludruk. Biasanya adegan di kelurahan sangat mendominasi lakon ludruk. Seorang kepala desa atau lurah sedang menghadapi problem internal. Salah seorang staf kelurahan ada yang berlaku tidak benar, karena berambisi untuk mencapat kekuasaan yang lebih tinggi.
Muncullah tokoh Carik, Kamituwa, Bayan, Jogoboyo, Jogosuto dan Modin. Konflik itu dilanjutkan dengan persekongkolan dengan pihak luar, sehingga berjalan lebih seru. Bisa muncul tokoh dukun santet, perempuan nakal, juragan kaya atau begal kampung.
Dapat ditebak akhir dari cerita itu pasti tokoh protagonis yang dimenangkan. Para penonton pun merasa lega. Struktur cerita happy ending selalu diharapkan oleh penonton. Oleh karena kesedihan dan air mata diobati oleh anugerah dari gelak tawa. Dendam dan kebencian akibat ketidakadilan bisa dibalas secara seimbang.
Cerita-cerita yang berakhir dengan kesedihan, bagi penonton akan menimbulkan kegelisahan, mengapa kejahatan bisa unggul? Penonton tentu tidak terim dan tersiksa batinnya. Akhir cerita dengan kesedihan pada umumnya dihindari, demi menjaga perasaan pemirsa.
Cerita ludruk yang mengandung nilai heroisme dapat dijumpai dalam lakon Sogol Pendekar Sumur Gumuling. Perjuangan Sogol yang membela kebenaran dan keadilan patut menjadi suri teladan. Sogol tidak rela apabila wilayahnya diperas dan ditindas oleh antek-antek penjajah. Para pemimpin pribumi yang kerap menghisap darah rakyat berhadapan dengan Sogol.
Ada dukun Kyai Mukhti dan Bayan Sarmidin yang beraliansi untuk membinasakan Sogol. Berkta kesaktian Sogol, keduanya pun tewas akibat polah tingkahnya sendiri. Di sini penonton disuguhi adegan perjuangan yang bernuansa kebangsaan. Tema keagamaan juga digarap para sutradara ludruk. Biasanya menampilkan tokoh pesantren yang sedang melawan gerombolan penjahat.
Berkat bimbingan seorang Kyai Sakti yang berilmu tinggi, maka sang murid atau santri tadi dapat mengalahkan para penjahat yang kerap bikin onar. Kewibawaan sang Kyai begitu besar di hadapan santri-santrinya sehingga menjadi inspirasi bagi para penonton agar kelak anak-anaknya dapat memperoleh bimbingan dari pesantren. Cerita rakyat seperti Timun Emas, Naga Baru Klinthing, Rawa Pening, Lahar Blitar, menjadi garapan para penyusun ludruk.
Hampir semua cerita rakyat yang berada di wilayah sekitar dapat dijadikan sebagai sumber lakon. Lakon Warah Suramenggala dan Suminten Edan adalah cerita yang banyak digemari oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya daerah Ponorogo dan sekitarnya.
Pentas ludruk jarang menampilkan adegan sejarah konvensional dengan latar keraton. Pemainnya akan kaku berperan sebagai raja dan punggawa. Mengapa demikian? Karena ada konversi umum bahwa adegan kerajaan itu harus menggunakan unggah-ungguh basa dengan sempurna. Krama inggil, mady dan ngoko menjadi syarat mutlak dalam adegan istana, semua dengan tuntutan adegan formal keraton.
Adapun lakon ludruk yang pernah dipentaskan diantaranya Ali Baba dan 40 Penyamun, Andhe-andhe Lumut, Arwah Cemburu, Babad Loceret, Balada Gadis Desa, Bawang Merah Bawang Putih, Beranak Dalam Kubur, Brahmana Manggala, Bldhek Branjangan, Ciung Wanara, Dukun Tiban, Ferry Sedy, Gagak Ngampar, Gagak Solo, Gembong Singayuda, Gendruwo Kendhal Growong, Gladhag Tuban, Hancurnya Istana Hantu, Joko Bereg Sawunggaling, Joko Gondhok, Joko Kandhung, Joko Kendhil, Jaka Sambang, Jaka Sembung.
Johar Manik, Karso Brandhal, Kopo Genthiri, Lahar Blitar, Lutung Kembar, Maling Caluring, Misteri Gunung Merapi, Mliwis Hitam, Naga Baruklinthing, Nyai Dasimah, Nyai Blorong, Pendhekar Randhu Gumbolo, Pendhekar Selogiri, Pedhut Mataram, Putri Dhuyung, Roro Kembang Sore, Ratapan Perawan Buta, Pak Sakerah Tampon Pajaran, Sangkuriang, Sarip Tambakyasa, Sampek & Ing Tay, Selor Lancuran Mergasana, Seruling Wasiat, Si Pietung, Si Buta Melawan Jaka Sembung, Sogol, Sunan Kalijaga, Sungging Purbengkara, Sundel Bolong, Tutur Tinular, Wahyu Nogososro, Warok Suromenggolo.
Cerita ludruk dengan bahasa kerakyatan cukup memberi hiburan yang segar dan bersemangat. Gelak tawa yang dilontarkan para pelawak selalu mendatangkan gelak ketawa yang terpingkal-pingkal. Tari Remong tanda pentas ludruk dimulai. Tak lupa selingan dari para tandak.
C. Cerita Ludruk dengan Lakon Panji
1. Pesta Perkawinan
Raja membicarakan dengan permaisurinya perkawinan Panji yang akan datang, Panji yang selama ini tidak mau kawin. Karena itu raja agak heran juga mendengar pemberitahuan Prasanta, yang sementara itu sudah datang kepadanya. Diadakan persiapan untuk perkawinan. Diadakan pesta besar. Malam hari orangpun tidur. Sri berniat buat sementara tidak akan menerima Panji, sebab Sri belum menjelma kembali. Ia pun tidur.
Panji, yang lupa, bahwa ia baru saja kawin (!), tidur seorang diri dalam paviliun dalam taman. Nila Prabangsa, ketika datang pada pada ibunya Madu-keliku, diganggu oleh ibunya itu, katanya ia ketinggalan jauh oleh Panji. Sebab Panji sudah beristeri. Parabangsa marah, dicabutnya kerisnya dan ia pergi ke tempat ruang wanita untuk membunuh Panji. Tatkala sampai di tempat tidur Sri, dilihatnya dua orang di bawah selimut.
Dikiranya mereka itu Panji dan kekasihnya, lalu ditikamnya keduanya. Tapi mereka adalah Sri dan Unon. Gempar dalam keraton. Waktu sedang sekarat, Sri masih sempat minta minum. Panji berbisik dalam telinga keduanya, supaya mereka menjelma kembali, masing2 dalam putri Kadiri dan peteri Urawan. Kedua perempuan itu meninggal tidak lama kemudian. Panji tak henti2nya menangisi kekasihnya yang sudah pergi. Tatkala orang bersedia-sedia hendak membuat janji untuknya, api unggun untuk membakar mayatnya sudah siap.
Sebelum Panji menaruh myat Sri dalam api, mayatnya itu hilang dalam tangannya tanpa bekas. Saat ini diceritakan tentang raja Daha. Ia mempunyai tiga orang isteri, yang tua bernama Dewi Rago, yang kedua : Bentari, yang ketiga, Laras –sih. Ketiga-tiganya sedang mengandung. Bentari memfitnah Rago, kalanya Rago, katanya Rago tidak setia dalam perkawinannya. Raja percaya saja dan Rago dikirimnya ke tempat yang sunyi.
Disana Rago melahirkan seorang anak perempuan, tapi tatkala ia terhantar lemah karena melahirkan itu, Bentari dengan tidak setahunya menukar anak itu dengan seekor anjing. Ketika raja mendengar hal itu, ia datang untuk membuktikan sendiri dan tatkala ia melihat anjing itu, ia memperpanjang hukuman Rago buat masa yang tidak ditentukan. Rago, yang tidak tahu apa kesalahannya, menyerah saja kepada nasibnya.
Pun raja Urawan mendapat anak, mula-mula seorang anak perempuan bernama Wadal-wredi (dalam dongeng biasa Kadal-wredi) alias Retna Cindaga. Setelah itu seorang lagi anak perempuan, yaitu penjelmaan kembali Unon, bernama Kumudaningrat, yang menderita penyakit beser (yaitu sering buang air kecil, tapi sedikit-sedikit). Kemudian seorang anak laki-laki, Arya Panjangkringan alias Sinjanglaga, yang banyak cacat tubuhnya, seperti dagunya terlalu pendek, pincang, dan sebagainya.
Raja Singasari pun mendapat seorang anak perempuan, bernama Mertasari. Mengenai penjelmaan kembali Sri-yaitu putri yang ditukar dengan anjing-anak itu hanyut disungai, dibungkus dengan tikar. Pada suatu tempat ia terkait dan ditemukan oleh seorang seorang lurah Bantrang, yang mempunyai firasat, bahwa anak itu bukan sembarang anak, tapi anak raja.
Dibawahnya anak itu pulang dan diserahkannya kepada isterinya, yang amat girang, karena ia sendiri tidak mempunyai anak. Laksana oleh suatu keajaiban keluarlah kini dari buah dada perempuan Bantrang yang sudah agak tua, air susu yang diberikannya kepada Nyi Bantrang segala yang perlu untuk memelihara anak itu.
Pada istri-istrinya yang lain pun raja Kadiri mendapat pula anak : Tami-ajeng, keduanya puteri, yang terkecil adalah seorang anak laki-laki, bernama Prabusekar (mestinya : Prabatasekar atau Gunungsari). Kedua putri Kadiri itu sudah dewasa.
Pangeran Jenggala Manik tak terhibur hatinya mengingat kekasihnya yang sudah meninggal. Berkali-kali ia dianjurkan oleh orang tuanya untuk kawin, tapi ia tetap menolak. Saat ini Kilisuci dikirim oleh kakaknya untk mendesak Panji supaya kawin, yaitu dengan putri Kadiri, Tamiaji, yang amat elok parasnya.
