Sejarah Seni Sandiwara Ludruk Jawa Timur

2. Kilisuci

Akhirnya Panji mengalah.

Kini Kilisuci pergi ke Kadiri untuk menyunting. Sementara itu Panji bersenang-senang di dalam taman. Di mana-mana ia mendengar orang memuji keelokan putri Kadiri. Ia pergi kepada ayahnya untuk meminta supaya perkawinan itu segera dilangsungkan, karena ia mengira bahwa putri Kadiri itu mungkin penjelmaan kembali Sri. Ayahnya berjanji, tapi ia menunggu dulu kedatangan saudaranya, Kilisuci, yang memajukan lamaan. Lamarannya itu diterima dan tiga hari kemudian ia kembali ke Jenggala Manik untuk memberitahukan kabar baik tentang perjalanannya itu. Segera diadakan persiapan untuk berangkat ke Kadiri.

Dikerahkannya sebuah tentara besar untuk menceritai Pangeran. Seorang raja seberang, bernama Jayalana, yang tinggal dikota Gedahbiru, belum beristeri. Ia bermaksud hendak kawin dengan seorang putri Jawa, yaitu dengan putri raja Kadiri. Tentaranya yang kuat, dipimpin oleh raja-raja taklukannya, raja Johor, Patani, Siak dan lain-lain, dikirim ke Jawa menaiki berbagai jenis perahu. Mereka sampai di tengah laut.

Dalam pada itu tentara Jenggala Manik sampai dikota Kadiri. Sang Pangeran pergi ke keraton. Setelah pertemuan, paa tamu dari Jangga la di tempatkan dibeberapa bagian keraton. Penjelmaan Sri tumbuh dengan subur pada ki Batrang. Ia diberi nama Wara Temon (Anak-dapat), digambarkan keindahan rupanya. Disini kita menemui penyisipan yang amat mengganggu dalam cerita yang memang sudah buruk dan bertele-tele itu.

Keelokan Temon jadi amat terkenal di desa-desa berdekatan. Tiap lelaki, tua maupun muda, jatuh cinta padanya. Demikian juga seorang kepala pencuri, bernama Gajah-gumanglar, yang amat kuat dan tidak dapat dilukai. Segala apa yang diperolehnya dengan mencuri dan merampok, diberikannya kepada Bantrang, sehingga yang tersebut kemudian ini menjadi kaya dalam waktu singkat. Tapi karena gadis itu selalu menolak meladeni pencuri itu, Bantrang selalu menjawab permintaannya dengan mengelak.

Di Kadiri Perkawinan Panji dirajakan dengan gemilang. Tapi apabila Panji melihat mempelainya, ia amat kecewa. Ia tidak merasa senang dengannya, tapi selalu teringat kepada penjelmaan Sri. Iapun tidak mau tinggal dalam keraton, tapi pergi dengan Prasanta bermalam di taman. Banyak orang menasehati Panji pulang ke Kraton, tapi Panji tetap menolak. Raja Kadiri memutuskan memberitahu hal itu kepada raja Jenggala Manik dengan surat.

3. Pesanggrahan Tambak Baya

Panji terus bersedih hati di taman mengingat penjelmaan Sri. Doyok dan Prasanta berlucu-lucu tidak pada tempatnya di antara mereka sendiri. Saat ini Prasanta bercerita tentang pengalaman isteri raja Kadiri yang tertua kepada Panji. Panji menganggap pemberitahuan itu sungguh-sungguh dan ingat akan berbagai kemungkinan.

Jajalalana, raja seberang, tiba di pantai Jawa bersama angkatan lautnya. Mereka mendiami Pesanggrahan Tambak Baya. Dalam suatu rapat umum, patih memberitahukan kepada raja, bahwa putri Kadiri, bernama Mindaka, sudah dikawinkan dengan Sang Panji, tapi perkawinan itu tidak baik jadinya: penganten lelaki tidak suka kepada penganten perempuan.

Raja segera menyuruh susun sepucuk surat untuk menyunting penganten perempuan itu. Dua orang raja taklukan membawa surat itu kepada raja Kadiri. Sambil menunggu balasan, sang raja bersenang-senang dalam hutan yang dekat dengan berburu.

Raja Kadiri bersedia menerima tamu, patih menceritakan kepadanya tentang kedatangan Jajalalana. Para utusan yang membawa surat diberitahukan kedatangaannya dan diminta masuk. Disusun surat balasan, persiapan-persiapan dilakukan untuk menghadapi perang. Raja kembali ke Kraton dan memberitahu permaisuri tentang maksud Jajalalana. Puterinya, sang mempelai, ketika ditanyakan apakah mau kawin dengan Jajalalana, menjawab bahwa ia tidak mau.

Saat ini diceritakan tentang penjelmaan Sri. Ia mempunyai seorang saudara pria bernama Jaka-bodo, Sri menyuruh saudaranya ini pergi ke pasar untuk menjual sebuah sumping (perhiasan telinga berkembang) seharga 1000 rupiah. Jaka-bodo berangkat ke paar membawa sumping itu, tiap orang yang melihatnya, ingin membelinya, tapi hargaanya terlalu mahal.

Orang berkerumun. Doyok berlucu-lucu lagi. Panji tertarik perhatiannya dan disuruhnya panggil orang yang menjual sumping itu. Setelah ia melihat penjual sumping itu, ia merasa terhibur. Dibelinya sumping itu dan ia senantiasa teringat kepada pembuatnya. Bagaimanakah konon rupanya? Esok paginya Panji bersama panakawannya (pelayan-pelayannya) pergi ke hutan untuk berburu.

Rara Temon menunggu dengan tak sabar saudaranya pulang, akhirnya ia datang dengaan uang, hasil penjualan sumping. Sementara ia menceritakan kepada Wara Temon bagaimana terjadinya jual beli itu, datanglah Gajah-gumanglar hendak memaksakan kemauannya. Tapi kali inipun ia ditolak dengan janji-janji. Temon makin mengharapkan kedatangan Panji.

Esok paginya Ni Bantrang dan suaminya pergi ke pasaar. Panji yang mengembara dalam hutan, kehausan, ia pergi ke sebuah desa untuk minum dan dengan demikian tiba di rumah Temon. Setelah ia mengatakan apa maunya, Temon keluar dengan air dalam pnggan emas. Setelah minum dan melihat Temon masuk lagi ke dalam rumah, Panji jatuh pingsan. Temon dipanggil lagi keluar untuk membikin ia siuman kembali. Hal itu dilakukannya dengan sirih yang dimamahnya.

Panji dan Temon kini masuk rumah bersama-sama. Para panakawan duduk di pintu. Bantrang dan isterinya kembali dari pasar. Prasanta memenangkan hatinya katanya sang Pangeran sedang di dalam bersama anaknya. Dalam pertemuan Panji dengan Bantrang, Bantrang menceritakan pengalaman-pengalaman Temon. Selanjutnya Bantrang duga juga menceritakan tentang Gajah-gumanglar. Panji berjanji akan membinasakannya kalau dia datang lagi. Baru saja Panji habis bicara, muncullah Gajah, berseru dari jauh supaya Temon menyongsongnya. Menyusul perkelahian antara dia dan Panji, dalam perkelahian itu tentu saja Gajah kalah. Gajah mati kena panah.

Saat ini Temon dibawa oleh sang Pangeran ke kota. Prasanta disuruh brjalan dahulu, untuk memberitahukan, bahwa putri raja yang hanyut dahulu, sudah ditemukan kembali. Suatu rombongan yang besar menjemput sang puteri. Waktu bertemu, Kilisuci memeluk sang puteri. Dimulailah perjalanan pulang ke kota. Kanjeng Sinuwun raja mengenali puterinya dan bertanya kepada Bantrang bagaimana jalannya peristiwa.

Bantrang bercerita. Untuk memeriksa kebenaran cerita Bantrang, Seri Ratu Rago yang dihukum, dipanggil dan ditanyai. Tapi ia tidak ingat suatu apa, kaena ia waktu itu dalam keadaan pingsan. Saat ini seorang anak kecil umur empat belas tahun (dimaksud: hari ) disuruh menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Anak bayi itu menceritakannya dan semua yang hadir senang. Kemudian anak itu meminta kepada raja supaya menghukum isterinya yang jahat, jika tidak, maka para dewa akan marah kepada Kanjeng Sinuwun.

Mendengar kata-kata itu raja Kadiri amarah kepada isterinya yang kedua, hendak ditikamnya isterinya itu. Narada tiba-tiba muncul dan menahan raja berbuat demikian, katanya segalanya itu terjadi karena kemauan para Dewa. Pun hari kelahiran Sekartaji adalah kemauan para Dewa.

Temon setelah dikenali ikut pula membantu dalam kejadian yang menyedihkan dengan sang puteri. Setelah para Panakawaan berlucu-lucu, Narada menghilang lagi. Diadakan pesta besar. Kemudian menyusul perang besar melawan raja seberang yang berakhir dengan kematian. Jajalalana, suatu kejadian yang kita dapati dalam tiap cerita Panji.

4. Buah Perjuangan

Ketika raja Kadiri duduk di setinggil, Panji datang mempersembahkan kepala raja seberang yang dipenggal. Kepala raja itu kemudian dipertontonkan di atas tiang. Banyak haarta rampasan yang dibagi-bagikan kepada orang banyak. Dalam pada itu tibalah para Pangeran dari Jenggala Manik. Disebutkan nama-nama mereka. Mereka itu membawa bermacam-macam kendaraan, yang akan dipergunakan oleh Panji dan anak buahya, karena raja Jenggala Manik ingin melihat Panji kembali. Tapi para paangeran harus istirahat sebentar.

Sang Putri dalam keraton bertanya kepada dayang-dayangnya, bagaimana akhir pertempuran. Dijawab : Panji menang. Sang Putri datang kepada Panji. Panji berkasih-kasihan. Sadulumur hendak berkasih-kasihan pula seperti Panji, dipanggilnya seorang emban dan hendak diperkosanya.

Esok paginya Panji bersiap-siap hendak pulang ke Jenggala Manik. Bersama isterinya ia pamitan dengan raja. Serombongan besar rakyat jelata bergerak ke jurusan Jenggala Manik, di mana raja sudah duduk menunggu di luar, di kelilingi oleh para pembesar. Setelah mendengar berita bahwa panji sedang dalam perjalanan, sang raja berangkat menyongsongnya.

Setelah bertemu, mereka kembali kepaseban dan masuk ke dalam keraton. Seri ratu menyambut puterinya dengan isterinya. Kilisuci pun hadir. Apabila raja beserta keluarga duduk dibagian lain keraton, isteri patih datang membawa persembahan kepada Pangeran. Sekrang raja berpendapat, bahwa Prasanta pun harus kawin pula. Bukankah Panji saat ini sudah beristeri? Pilihannya jatuh pada anak angkat isteri patih (Kanistren).

Pada suatu hari, tatkala raja sedang duduk pula diluar, diperintahkannya Panji pergi ke kakeknya, raja Keling. Untuk itu banyak kapal disediakan. Setelah selesai semua, sang raja mengantarkan putranya beserta anak buah ke pelabuhan, Panji naik kapal beserta isterinya. Setelah sampai dilaut luas, kapal diserang badai. Para penumpang kacau balau. Kapal-kapal cerai berai, bahkan terpisah. Tandrakirana terdampar di pulau Bali, sedangkan Panji hanyut ke tanah Dayak.

Di Jenggala Manik tersiar kabar, bahwa Panji beserta anak buah tenggelam ke dalam laut. Orang berduka cita di Jenggala Manik. Narada datang kepada Panji dan menghiburnya. Orang suci itu menyuruh Panji memakai nama lain, yaitu Jakakusuma dan mengabdikan diri pada raja Urawan, ia harus mengatakan ia orang dayak. Narada menghilang.

Panji memberi nama Jayaleksana kepada Punta, Jaya-sentika kepada Kartala dan Judapati kepada Pamade. Kebetulan ketiga saudaranya itu tidak terpisah dari Panji. Atas usul Jayasantika mereka mula-mula akan menaklukkan kerajaan Cemara Rencana itu mereka laksanakan.

Raja Cemara sedang duduk dipaseban, dikelilingi oleh para pembesar. Sekonyong-konyong datang orang mengamuk. Setelah bertengkar mulut, mulailah perkelahian. Raja Cemara menyerah kepada Panji. Seorang saudaranya perempuan (atau anaknya) diserahkannya kepada Panji. Putri itu bernama Sureng-rana. Malam hari Panji berkasih-kasihan dengna isterinya yang baru.

 

Andhe-andhe Lumut, laras slendro pathet nem

Putraku si Andhe-andhe Lumut,

Tumuruna ana putri nggah-unggahi

Putrine sing ayu rupane,

Kleting Biru kang dadi asmane

Bu sibu kula boten purun,

Bu sibu kula boten mudhun

Nadyan ayu sisane si yuyu kangkang

 

Putraku si Andhe-Andhe Lumut,

tumuruna ana putri kang ngunggah-¬unggahi,

putrine sing ayu rupane,

Kleting Abang iku kang dadi asmane.

Bu sibu kulu mboten purun,

bu sibu kula mboten mudhun,

nadyan ayu sisane Si Yuyu Kangkang.

 

Putraku Si Andhe-Andhe Lumut,

tumuruna ana putri kang ngunggah-¬unggahi,

putrine sing ayu rupane,

Kleting Ireng iku kang dadi asmane.

Bu sibu kulu mboten purun,

bu sibu kula mboten mudhun,

nadyan ayu sisane Si Yuyu Kangkang.

 

Putraku Si Andhe-Andhe Lumut,

tumuruna ana putri kang ngunggah-¬unggahi,

putrine sing ayu rupane,

Kleting Ungu iku kang dadi asmane.

Bu sibu kulu mboten purun,

bu sibu kula mboten mudhun,

nadyan ayu sisane Si Yuyu Kangkang.

 

Putraku Si Andhe-Andhe Lumut,

tumuruna ana putri kang ngunggah¬-unggahi,

putrine sing ala rupane,

kleting kuning iku kang dadi asmane.

Bu sibu kula inggih purun,

bu sibu kula inggih mudhun,

nadyan ala nanging pribadine sae.

 

Tembang Andhe-andhe Lumut memberi pelajaran agar manusia, terutama kaum perempuan selalu menjaga kepribadiannya. Jangan sampai mudah tergoda oleh bujuk rayu yang tidak jelas asal-usul dan tujuannya. Sebaiknya bertingkah laku yang sederhana dan apa adanya.

Pada akhirnya kejujuran mendapat imbalan kemuliaan. Pengajar Sastra Jawa yang tangguh, unik, sepuh, adalah pembina yang mengkaji Serat Suluk Wujil. Dalam sehari-hari kita berusaha untuk mengamalkan ilmu makrifat warisan Sunan Bonang. Andhe-andhe Lumut mengandung ajaran tentang kesucian.

Ludruk dengan iringan Jula juli menambah suasana semakin hidup. Iringan gamelan kebanyakan disajikan dalam bentuk laras slendro. Tiap adegan menggunakan iringan khas. Misalnya ludruk Pancamarga di Nganjuk, ludruk Sari Murni Jombang dan ludruk Karya Bakti Mojokerto. Seni ludruk ini telah berhasil menampilkan kesenian rakyat yang bermutu.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *