Tapa ngeli dan tapa kungkum di Alas Ketonggo dilakukan pada bulan Suro dengan ubarampe yang jangkep, genep, genah. Para abdi dalem Mataram yang terhimpun dalam lembaga Purwa Kinanthi menyediakan sesaji dan ubarampe upacara. Pendherek tapa brata ini juga terlebih dahulu melakukan upacara wilujengan.
Kinanthi
Kukusing dupa kumelun
Ngeningken tyas sang apekik
Kang kawengku sagung jajahan
Nanging sanget angikibi
Sang Resi Kanekaputra
Kang anjok saking wiyati
Abdi dalem Purwa Kinanthi yang mengurusi tatacara wilujengan di Alas Ketonggo kelak juga dipekerjakan sebagai petugas adat di kadipaten Ngawi. Pada masa pemerintahan Bupati Tumenggung Kertonegoro tahun 1834 giat melakukan pelatihan kuliner di daerah Delanggu. Ibu-ibu dari wilayah Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo dikirim untuk belajar masak memasak.
Makanan kecil berupa: putu tegal, carabikang, mendhut, koci, semar mendhem dibungkus telur dadar, dikocok santan kental. Sambal goreng kering jangan ketinggalan, campurlah udang dengan hati, rambak, kulit ayam, petis yang telah dibumbui, nasi lemas, nasi pulen, nasi liwet, ayam jantan yang dikebiri. Minuman dari daun belimbing wuluh rendamlah dalam air, makanan kecil: ceriping ketela, ceriping lingik, pisang goreng dengan gula, karang gurih.
Tahun 1835 berikutnya giliran daerah Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan. Ibu-ibu belajar di kawasan kuliner Baki Sukoharjo. Meng-hidangkan nasi bucu pulen punuk lunak putih berada di atas piring besar. Ikan, pecel, ayam, sayur bening segar, sayur padhamara dhara ayam betina yang hampir bertelur terlihat berminyak kuahnya, opor itik, betutu ayam utuh tanpa tulang, dendeng gepuk goreng, kathik sebangsa derkuku hijau goreng, burung gulathik goreng, daging empal besar lunak, dendeng irisan, sujen age, rempah daging cacah dibulatkan dibungkus daun dan diasapi, kerupuk, sayur besengek atam, kacang, sambal goreng, sambal kacang, cabai pedas serta petis; lalaban, kacang, kecipir, kecemeh sejenis slada, terong, mentimun, bawang merah, tempe merah, toge kacang hijau, gudhe, kemangi, semua lauk pauk ini di atas piring agak besar, telah ditata di depan. Hidangan teh didepannya, tenongan berisi makanan manis-manis, dan makanan untuk pagi hari, seperti juadah, ledre, serabi, gem-blong, lempeng, wajik, jenang, carabikang dan puthu.
Sedangkan ibu-ibu yang berasal dari daerah Man-tingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron dan Pitu belejar teori memasak di daerah Mojosongo Boyolali. Adakan selamatan pada waktu mendirikan tarub, sebanyak dua ambeng nasi lulut nasi dicampur ketan dengan kunyit dan dua ambeng nasi wuduk nasi gurih bersantan, enam ambeng nasi asahan, nasi golong dua puluh pasang, jajan pasar macam-macam makanan dari pasar, dhawet, rujak beserta tempatnya, pecel ayam, sayur menir bening, ma-sakan atau bumbu lembaran masakan bersantan ayam jago putih, jenang merah putih bening, serta jenang baro-baro jenang putih tengah di beri jenang merah serta dicampur gula kelapa.
Jongkong inthil, pisang ayu, makan nasi pulan, pang-gang pudhak, sayur menir, pecel ayam betina yang masih muda, dendeng rusa lunak, dan lalap seledri, kecambah dan kemangi, makanan carabikang, koci, mendut dan timus. Buras berpikir tentang nasi gaga, ikan teri asin putih, pecel iso, semanggi, dan dendeng pendhul sapi. Berbagai masakan yang enak-enak seperti randha keli, rara mendut, pipis tuban, pipis kopyor, lemet, pasung, gantal lemper, semar tinandu, plered, gempol, tidak lupa juga kopyor rujak kawis, clorot, jenang pathi sagu, jadah dan jenang dodol. Semua sudah tersaji dan ditempatkan dalam berbagai piring.
Program berikutnya dilakukan pada tahun 1836. Bidang masak-memasak dipelajari oleh ibu-ibu dari Sine, Walikukun, Widodaren. Mereka dikirim ke daerah Colomadu Karanganyar. Nasi tumpeng diletakkan di depan nasi liwet, ikan tambra goreng, sayur pindang sungsum, kare, brongkos sambel goreng mangut, besengek ayam dan opor. Pepesan tambra palung, besengek angsaran, bontot goreng, kathik goreng, glathik goreng, jerohan derkuku, cuwiyun, gangsir, emprit peking bondhol, age betutu, telur asin, babad galeng, rempela ati, kerupuk terung, srundeng daging empal, abon, sate daging, kuah, lalapan terung, mentimun, sambal lethok lombok, petis, belut, kecemeh, pare, belut, dan kacang panjang. Hidangan minuman temulawak, dan jahe dengan gula kelapa, makanan wajik otek, jepen, jagung, jali, juwawut atau sekoi, cantle.
Untuk program kuliner umum, pelatihan dilakukan oleh perwakilan Kabupaten Ngawi. Tujuannya untuk meningkatkan ketrampilan industri rumah tangga. Di surau hidangan segera diatur, nasi putih ditempatkan dipiring besar berprada berhias, sayur kluwih, sayur asem pedes, betutu, besengek ayam, dendeng gepuk goreng, empal agi, dendeng age, dendeng panjen serta sate, babad galeng seregan, opor bebek, pepes ikan laut, palung rempah belut, bothok jambal, burung dara goreng, burung gelatik goreng, lidah hati, limpa goreng, masakan brongkos, sambal goreng kemiri dan kacang, gadhon, telur mata sapi, telur dadar, abon, kerupuk terung, lombok kenceng, petis banyar, lalap kacang dan krai, terong, kecipir, dan kara, kunci lempuyang, dan umbi poh.
Pengetahuan tentang minuman tradisional perlu dijadikan bahan pelatihan. Hingga kini hasil pelatihan kuliner itu masih diwariskan pada generasi penerus. Pengusaha kuliner dari kabupaten Ngawi tersebar di seluruh kepulauan nusatara. Teh, kopi, gemblong, lempeng, kolak ketan, jenang, ledre isen, bikang, pithu, pisang mayang cangkir, glali sutera, jenang caca, surabi, kupat mujid, pisang kuning bakar, dan dendeng gepuk bakar, semuanya sudah ditata di depan. Pasugatan kang edi mirasa.
C. Keris Kyai Joko Pituruh dan Tombak Kyai Tambangprono
Keris Kyai Joko Pituruh dan Tombak Kyai Tambangprono merupakan pusaka sipat kandel Kanjeng Ratu Retno Dumilah. Putri Pangeran Timur bupati Madiun ini adalah permaisuri Panembahan Senapati Raja Mataram. Pada awalnya kedua insan ini berselisih paham. Tetapi akhirnya menjadi pasangan suami istri.
Pusaka lain yang dimiliki oleh Retno Dumilah adalah Tombak Kyai Tundung Mediun. Panembahan Senapati sempat mengalami kuwalahan. Dia tidak mampu menundukkan kesaktian Retno Dumilah. Atas saran Ki Jurumartani lantas Panembahan Senapati menakhlukkan Retno Dumilah dengan pusaka Asmara Turida.
Penakhlukan Panembahan Senapati kepada Retno Dumilah dengan jemparing Asmara Turida ini bertempat di Walikukun, Widodaren, Ngawi. Keduanya lantas menikah dan melakukan kegiatan-kegiatan spiritual di Alas Ketonggo. Trahing kusumo rembesing madu wijining atapa tedhake handana warih.
Kadipaten Ngawi selalu mengadakan upacara wilujengan di Alas Ketonggo. Hal ini merupakan tatacara yang telah diwariskan oleh Kanjeng Ratu Retno Dumilah yang menjadi permaisuri Panembahan Senapati. Para bupati Ngawi memang mendapat warisan wulang wuruk dari kerajaan Mataram.
1. Raden Tumenggung Sumowidigdo, 1830 – 1832, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
2. Tumenggung Malang Nugroho, 1832 – 1834, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
3. Tumenggung Kertonegoro, 1834 – 1837, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
4. Adipati Yudodiningrat, 1837 – 1869, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
5. Adipati Sumaningrat, 1869 – 1877, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
6. Adipati Brotodiningrat, 1877 – 1885, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
7. Tumenggung Sosroadiningrat, 1885 – 1887, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
8. Adipati Purwodiprojo, 1887 – 1902, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
9. Adipati Otoyo, 1902 – 1905, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
10. Tumenggung Sasra Busana, 1905 – 1943, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
11. Adipati Suryoadicokro, 1943 – 1944, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
12. Raden tumenggung Sidarto, 1944 – 1947, Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
13. Mudayat, 1947 – 1950, Dilantik pada masa pemerintah-an Presiden Soekarno.
14. Ahmad Sapardi, 1950 – 1958, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
15. Suherman, 1958 – 1965, Dilantik pada masa peme-rintahan Presiden Soekarno.
16. Bambang Subiantoro, 1965 – 1967, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
17. Suwoyo, 1967 – 1973, Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soekarno.
18. Panuju, 1973 – 1983, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
19. Sularjo, 1983 – 1988, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
20. Sudarno Harjo Prawiro, 1988 – 1993, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
21. Sudibyo, 1993 – 1994, Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soeharto.
22. Subagyo, 1994 – 1999, Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soeharto.
23. dr. Harsono, 1999 – 2010, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Habibie.
24. Ir. Budi Sulistyo, 2010 – 2020, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Alas Mantingan Ngawi sudah misuwur. Mantingan merupakan kota kecamatan yang berada di kabupaten Ngawi. Tempatnya dekat dengan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota Mantingan selalu tampil indah permai, ijo royo-royo dan sedap bila dipandang mata. Tanduran tumbuh subur, kiri kanan jalan terdapat taman yang asri. Kesenian berkembang, pertanian maju, dan tata kota terlihat rapi. Pengembangan pariwisata di kota Mantingan akan meningkatkan kualitas wisata di kabupaten Ngawi.
Pengaruh karaton Surakarta Hadiningrat atas budaya Ngawi begitu besar. Busana, petungan, mantenan, gamelan, karawitan, adat istiadat, gendhing umumnya menggunakan gagrag Surakarta. Kebudayaan menjadi penyeimbang rokhani masyarakat Ngawi. Keselarasan hidup dapat dicapai dengan menjernihkan sumber seni edi peni budaya adi luhung. Kabupaten Ngawi menjadi pendukung budaya Kawi. Yakni keselarasan cipta rasa karsa.
Kawasan Alas Ketonggo bagi masyarakat Ngawi dianggap sakral. Sebagaimana wulang wuruk Ratu Retno Dumilah, putri Pangeran Timur bupati Madiun yang selalu berjasa pada masyarakat Ngawi. Terutama abdi dalem Mataram yang berasal dari Gendingan, Ngrambe, Walikukun, Mantingan, Paron dan Widodaren. Mereka adalah pengikut setia Kanjeng Ratu Retno Dumilah.
Dari Alas Ketonggo ini pula Ratu Retno Dumilah mendapat pusaka keris Kyai Tundung Mediun. Pasukan makhluk halus di Alas Ketonggo merasuk pada diri prameswari Mataram. Putri bupati Madiun ini juga mendapat daya linuwih dari tugu manik kumolo. Retno Dumilah juga mendapat sebutan sebagai Dyah Ratu Mekarsari.
Lelaku tapa brata yang dijalankan oleh Retno Dumilah di tugu manik kumolo diiringi segenap pembesar kadipaten Madiun. Lantas dilanjutkan ke daerah Simo yang terletak 12 km sebelah utara kota Magetan. Di lereng timur Gunung Lawu ini Ratu Retno Dumilah mendapat keris Kyai Naga Pituruh.
Kesaktian Retno Dumilah permaisuri Panembahan Senapati ini memang hebat mengagumkan. Retno Dumilah atau Dyah Ratu Mekarsari juga mendapat anugrah di tugu manik kumolo Alas Ketonggo. Yakni tombak Kyai Tambangprono. Begitulah Alas Ketonggo yang menjadi sarana tapa brata Panembahan Senapati beserta garwa prameswari.
(LM-01)
