Bupati Lumajang tahun 1941 dilantik oleh Sinuwun Paku Buwono XI. Raden Abu Bakar menjabat Bupati Lumajang tahun 1941 – 1948. Kabupaten Lumajang semakin ayem tentrem, murah sandang pangan papan.
Masyarakat Lumajang yang tinggal di sekitar Gunung Bromo terbiasa lelaku. Mahas ing ngasepi, sedhakep saluku tunggal. Mereka mengheningkan cipta berdoa demi kelestarian semesta.
C. Tata Cara Warisan Prabu Hayamwuruk.
Adat Istiadat yang bersumber dari sejarah tetap rahayu lestari. Para Bupati Lumajang berjasa pada nusa bangsa. Pemimpin ini mendapat teladan dari Prabu Hayamwuruk raja Majapahit.
1. Adipati Kertodirojo 1928 – 1941
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
2. Raden Abu Bakar 1941 – 1948
Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.
3. Raden Sastrodikoro 1048 – 1959
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
4. Raden Sukardjono 1949 – 1966
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
5. Subowo 1966 – 1973
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
6. Suwandi Rustam 1973 – 1983
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
7. Karsid 1983 – 1988
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
8. Samsi Ridwan 1988 – 1993
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
9. Tarmin Haryadi 1993 – 1998
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
10. Achmad Fauzi 1998 – 2008
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
11. Sjahrazad Masdar 2008 – 2015
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
12. As’at Malik 2015 – 2018
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
13. Thoriqul Haq 2018 – 2023
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Dhandhanggula Sholawat Rukun Islam
Rukun Islam kang lima puniki.
Katindakna mring para sasama.
Aja padha ditinggalke.
Rukun lima puniku.
Sahadate kang angka siji.
Kang angka loro sholat.
Dene kang katelu.
Rhomadhon nindakna pasa.
Kapat zakat ping lima ngibadah haji.
Rukun Islam sampurna.
Yen wancine tansah dielingke.
Yen wancine padha nindakake.
Adzan wus ngumandhang. wayahe sembahyang
Netepi wajib dhawuhe Pangeran.
Sholat dadi cagake agama.
Limang wektu kudu tansah dijaga.
Kanthi istiqomah lan sing tumakninah.
Luwih sempurna yen berjamaah.
Subuh luhur lan ashar.
Sholat sayekti ngedohke tindak mungkar.
Magrib lan isyak jangkepe.
Prayogane ditambah sholat sunate.
Jo sembrana iku prentah agama.
Ngelingana neng donya mung sadela.
Sabar lan tawakal pasrah sing kuwasa.
Yen kepareng besuk munggah suwarga.
Masyarakat Lumajang yang berada di bawah kaki Gunung Bromo selalu melakukan kegiatan yang menuju pada keselarasan hidup.
Aspek jasmani dan rohani dilaksanakan dengan penuh keseimbangan. Dhandhanggula ini cocok untuk dakwah Islamiyah. Rukun Islam menjadi saka guru yang utama.
Prabu Hayamwuruk raja Majapahit kerap melakukan meditasi di Gunung Bromo. Leluhur raja Majapahit berasal dari Lumajang. Perlu diperhatikan tiap hari. Syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji sedapat-dapatnya dilaksanakan dengan tertib.
Pada jaman Demak tahun 1483 Lumajang makin maju. Sekitar daerah Gunung Bromo pun terdapat toleransi keyakinan. Rukun Islam itu menuju keselamatan dunia akhirat.
Dengan berbekal ajaran yang luhur, masyarakat Lumajang sekitar Gunung Bromo senantiasa mendapatkan ketentaman lahir batin sepanjang masa. Lumajang benar benar melu majune jangkah kang panjang.
Gunung Bromo juga disebut sebagai argo dahono. Dalam sejarahnya untuk menghormati jasa Bathara Brama. Karena berhasil menata tanah Jawa dari Negeri Hindustan. Jadilah Pulau Jawa yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.
Aman damai guyub rukun ayem tentrem diusahakan warga Tengger. Secara periodik warga Tengger melakukan upacara Yadnya Kasada. Mereka hadir dari wilayah Gunung Bromo bagian Lumajang, Pasuruan, Malang dan Probolinggo.
Mandala utama, mandala madya dan mandala nistha punya makna filosofis dalam upacara Yadnya Kasada. Awalnya pimpinan upacara dilakukan oleh pasangan bangsawan Majapahit. Yakni Rara Anteng dan Joko Seger.
Untuk menghormati pasangan suami pembesar Kraton Majapahit itu semua sepakat. Rara Tengger dan Joko Seger dilestarikan. Dengan singkatan Tengger.
Turun tumurun warga Tengger melakukan upacara Yadnya Kasada di kawah Gunung Bromo. Dengan ketinggian 2329 m Kawah Gunung Bromo mendapat sesaji. Dengan japa mantra berkumandang. Demi dunia yang selaras serasi dan seimbang, Ayu hayu rahayu.
(LM-01)
