Sejarah Gunung Kendheng Tempat Semedi Sultan Agung

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara, LOKANTARA. Hp. 087864404347)

A. Gunung Kendheng Sebagai Sarana Tolak Balak.

Upacara tolak balak dilakukan oleh Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Raja Mataram tahun 1613-1645 ini rutin mengadakan wilujengan. Dengan panitia oleh abdi dalem purwa kinanthi.

Leluhur Sultan Agung bernama Ki Ageng Penjawi yang menjadi pendiri Pati. Kawasan Gunung Kendheng oleh Trah Mataram digunakan sebagai sarana tolak balak. Dengan harapan masyarakat ayem tentrem bagya mulya lahir batin.

Adanya upacara tolak balak ini diturunkan sejak jaman Kraton Demak Bintara tahun 1478. Ki Ageng Tarub mendidik putranya untuk melestarikan adat Istiadat Kejawen. Agar tanah Jawa rahayu lestari. Nir baya, nir bita, nir sambikala.

Ki Ageng Ngerang menerapkan ajaran Ki Ageng Tarub di gunung Kendheng. Tonggak sejarah Pati dimulai berkat jasa Ki Ageng Penjawi. Beliau menjadi pahlawan besar saat terjadi krisis politik di Kerajaan Pajang pada tahun 1560. Pemberontakan Arya Penang-sang, Adipati Jipang Panolan cukup menguras energi. Gerakan sparatis ini harus dihadapi dengan strategi yang tepat. Mengi-ngat Arya Penangsang terkenal sebagai Adipati yang sakti mandraguna.

Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang bertahta sejak tanvgal 1 Juli 1546 segera bertindak cepat tepat. Sahabat seperguruan yang terpercaya diajak bicara masalah kenegaraan. Datanglah Ki Ageng Penjawi, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani. Ki Ageng Penjawi ahli tata praja yang memiliki jaringan umara dan ulama kawasan pesisir.

Kehadiran mereka mulai dari Lamongan, Gresik, Tuban, Bojonagoro, Rembang, Pati, Jepara, Demak, Semarang, Kendal, Tegal dan Banyumas. Mereka terdiri dari alumni muri Sunan Kalijaga di Kadilangu. Sebagian juga siswa Syekh Siti Jenar di Padepokan Lemah Bang.

Ki Ageng Pemanahan merupakan penasihat utama Sultan Pajang. Beliau mewarisi ajaran Ki Ageng Enis, Ki Ageng Sela, Getas Pendhawa dan Ki Ageng Tarub. Bila ditelusuri lebih lanjut, Ki Ageng Pemanahan masih trah Bupati Tuban, yakni Dewi Rasa Wulan. Seorang putri Adipati Wilwatikta yang menikah dengan Syekh Magribi. Adapun Juru Martani ahli siasat perang, pakar pemerintahan dan mumpuni dalam mengatur psikologi massa. Singkat kata Arya Penangsang yang mempunyai pusaka Brongot Setan Kober bisa ditaklukkan dengan sukses gemilang..

Tiap menjalankan tugas kenegaraan, Ki Ageng Penjawi selalu lelaku di lereng gunung Kendheng. Para pendherek mengikuti upacara wilujengan.

Pertempuran besar meletus di Kali Bengawan Sore. Arya Jipang naik kuda Gagak Rimang. Berhadapan dengan Danang Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar. Dia naik kuda Sri Bombok. Gagak Rimang adalah kuda jantan. Sri Bombok adalah kuda betina. Begitu menatap kuda Sri Bombok, seketika kuda Gagak Rimang muncul birahi. Arya Penangsang tak mampu mengendalikan Gagak Rimang.

Kali Bengawan Sore yang banjir meluap itu diseberangi kuda Gagak Rimang. Padahal menurut paugeran, siapa yang menyeberangi kali Bengawan Sore pada hari Kamis Paing, dirinya akan apes. Betul sekali, dalam peperangan itu Arya Penangsang binasa oleh Danang Sutawijaya yang membawa pusaka Tombak Kyai Pleret.

Atas jasa yang besar itu Ki Ageng Penjawi mendapat hadiah bumi Pati. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan diberi ganjaran Alas Mentaok. Adapun Ki Ageng Juru Martani mendapat imbalan Tanah Kedu. Hanya saja tanah Kedu itu diberikan kepada Ki Ageng Karotangan yang berpusat di Paremono, Muntilan, Magelang. Tiga serangkai itu pasti pentas dalam peradaban Mataram secara turun temurun. Ki Ageng Penjawi bertapa di gunung Kendheng.

Konsolidasi politik Ki Ageng Penjawi melalui jalur keke-rabatan bupati dan perkawinan dengan pusat kekuasaan. Anak Ki Ageng Penjawi bernama Ratu Waskitha Jawi menikah dengan Panembahan Senopati, raja pertama Mataram. Posisi trah Pati sangat penting dan strategis. Sebagai garwa prameswari, anak Ratu Waskitha Jawi berhak penuh atas tahta kerajaan Mataram. Cucu Ki Ageng Penjawi atau yang bernama Raden Mas Jolang ditetapkan sebagai raja Mataram. Beliau menggantikan Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati Raja Mataram keturunan Pati ini bergelar Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati yang memerintah dengan bijaksana tahun 1601-1613.

Kabupaten Pati menjadi daerah yang sangat istimewa di mata Kerajaan Mataram. Kebijakan negeri Mataram banyak yang berasal dari para sarjana Pati. Misalnya Adipati Pragola yang ahli militer, Arya Jepara yang ahli ukir-ukiran dan Arya Pangiri yang pintar mengatur pelabuhan, pelayaran serta perdagangan. Tentu saja peran strategis ini tidak lepas dari arahan Ki Ageng Penjawi selaku Bupati Pati pertama. Posisi Ratu Waskitha Jawi sebagai the first lady Mataram juga amat dominan terhadap nasib seja-rah Kabupaten Pati.

Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati menjadi menantu Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya Pajang. Beliau menikah dengan Kanjeng Ratu Banuwati. Putri Pajang ini cantik jelita, cerdas, trampil, aktif dan berwawasan luas.

Kanjeng Ratu Banuwati pernah diasuh oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat di Jepara. Pernikahan Prabu Hadi Hanyakrawati ini memperkuat posisi trah Pati di Kerajaan Mataram. Karena Ratu Banuwati mewakili trah Pajang dan Demak. Dari pernikahan ini lahir Raden Mas Jatmika. Pada tahun 1613 Raden Jatmika menjadi raja Mataram dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Hubungan dengan kabupaten Pati bertambah kokoh. Penasihat utama Sultan Agung adalah Syekh Jangkung Saridin. Malah Syekh Jangkung dinikahkan dengan kakak Sultan Agung yang bernama Retno Jinoli. Kedua insan ini dimakamkan di desa Landoh, Kayen, Pati. Perjalanan sejarah Kabupaten Pati penuh dengan kebajikan, keteladanan, kepahlawanan, keluhuran dan keutamaan.

Pertapan Gunung Kendheng oleh digunakan Sultan Agung untuk meditasi. Dari sini muncul kitab Sastra gendhing, serat Pangracutan dan serat nitipraja.

B. Pewaris Ngelmu Tata Praja di Padepokan gunung Kendheng.

Sistem pewarisan ngelmu tata praja berada di padepokan gunung Kendheng. Daftar Bupati Pati ini menjadi pewaris ajaran Ki Ageng Penjawi. Lewat putrinya, yakni Ratu Waskitha Jawi, orang Pati mendapat kawruh tata praja di Negeri Mataram.

1. Ki Ageng Penjawi 1568-1576. Dilantik pada masa kerajaan Pajang. Rajanya bernama Joko Tingkir atau Sultan Hadi-wijaya

2. Raden Sidik, bergelar Djajakoesoema I 1577-1601. Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Panem-bahan Senapati.

3. Djajakoesoema II, Ki Arya Pagedongan 1601-1628. Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Prabu Hadi Hanyakrawati.

4. Tumenggung Djajakoesoema III 1628-1640. Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sultan Agung Hanyakrakusuma

5. Tumenggung Djajakoesoema IV 1640-1650
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sultan Agung Hanyakrakusuma

6. Tumenggung Djajakoesoema V 1650-1670
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum

7. Lepek, Mangun Oneng I 1670-1678
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum

8. Widjo, Mangun Oneng II 1678-1682
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Tegal Arum

9. Widjo, Mangun Oneng III 1682-1690
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Amral

10. Tumenggung Tirtono 1690-1703
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Amral

11. Abroenoto, Mangoen Oneng III 1703-1708
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Mas

12. Soemodipoero 1708-1719
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono I

13. Pangeran Koming, Pamegat Sari I, 1719-1830
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Jawi

14. Pangeran Kuning, Pamegat Sari II 1730-1740
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono II

15. Raden Wiratmodjo II, Pamegat Sari III 1740-1755
Dilantik pada masa kerajaan Mataram, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono II

16. Pangeran Arya Megatsari III 1755-1773
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono III

17. Pangeran Arya Megatsari IV 1773-1807
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono III

18. Sosrodiningrat Mangunkusumo 1807-1808
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono IV

19. Kiai Adipati Tjonronegoro 1808-1812
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono IV

20. Kandjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegeoro I 1812-1820
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono IV

21. Kandjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegeoro II 1820-1825
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono V

22. Kandjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegeoro III 1825-1834
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono VI

23. Kandjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegeoro IV 1834-1850
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono VII

24. Kandjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegeoro V 1850-1864
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono IX

25. Kandjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegeoro VI 1864-1896
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono IX

26. Raden Adipati Ario Tjondro Adinegoro VII 1896-1904
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono X

27. Raden Toemenggong Prawiro Werdojo 1904-1934
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono X

28. Raden Adipati Ario Soewondo 1907-1934
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono X

29. K.G.P. Dipokoesoemo 1934-1935
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono X

30. R.T.A Milono 1935-1945
Dilantik pada masa kerajaan Surakarta Hadiningrat, Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwono X

31. M. Moerjono Djojodigdo 1945-1948
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno

32. Raden Soebijanto 1950-1952
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno

33. Soekardji Mangoen Koesoemo 1952-1954
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno

34. Palal al Pranoto 1954-1957
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno

35. M. Soermardi Soero Prawiro 1957-1959
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno

36. M. Soetjipto 1959-1967
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno

37. A.K.B.P Raden Soehargo 1967-1971
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto

38. Kol. Inf. Panudju Widajat 1971-1973
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto

39. Kol. Pol.Drs. Edy Rustam Santiko 1973-1979
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto

40. Drs. Soeparto Soewondo 1979-1981
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *