Sejarah Gunung Kendheng Tempat Semedi Sultan Agung

41. Kol. Art. Saoedji 6 1981-1991
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto

42. Kol. Kav. Sunardji 1991-1996
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto

43. Kol. Art. H. Yusuf Muhammad 1996-2001
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto

44. H. Tasiman, SH wakil Drs. Kotot Kusmanto 2001-2006
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati

45. H. Tasiman, SH wakil Kartika Sukawati, SE. MM 2006-2010
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono

46. H. Haryanto, SH, MM, M.Si. wakil Budiono 2012-2017
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono

47. H. Haryanto, SH, MM, M.Si. wakil H. Saiful Arifin 2017-
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Para pemimpin Pati senantiasa memetri seni edi peni. Kanjeng Sultan Agung amat perhatian dengan leluhur Pati. Tambah dekat lagi setelah Syekh Jangkung berjodoh dengan Retno Jinoli.

C. Peguron Ngelmu Kejawen Gunung Kandha.

Dalam serat pustaka raja diulas keberadaan gunung Kendheng atau gunung Kandha. Sultan Agung membantu Syekh Jangkung untuk menyebarkan kawruh sangkan paraning dumadi.

Tokoh Pati pelestari seni budaya membuat kegiatan sistem belajar. Ilmu warisan Sultan Agung berkembang pesat. Termasuk dalam bebtuk sanggit pedalangan.

Wayang merupakan seni adi luhung peninggalan nenek moyang yang perlu dilestarikan. Kesenian wayang mengandung unsur pendidikan yang dapat digunakan untuk membentuk kepribadian dikalangan generasi muda. Keberadaan wayang mencakup berbagai unsur yang perlu pengkajian dan penelitian sehingga memudahkan sekalian warga bangsa untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran pewayangan.

Ajaran wayang purwa dalam masyarakat ternyata beragam bentuk dan penyajiannya. Penelitian wayang diharapkan dapat mengungkapkan aspek tatanan, tuntunan, dan tontonan. Penelitian pertama yaitu untuk pementasan wayang. Ada rumah joglo Jawa klasik.

Tempatnya di desa Sambirejo, Kecamatan Gebus, Kabupaten Pati. Rumah joglo ini tampak indah. Daerah Pati banyak rumah joglo kuna. Maklum di sekitar gunung Kendeng banyak tumbuh pohon jati. Kayu jati kualitas bagus tumbuh di pegunungan kapur. Wilayah ini banyak tumbuh kesenian Jawa seperti wayang, tari, gamelan, kethoprak dan kerawitan.

Seni pewayangan perlu diteliti dari segi kesejarahan. Dari perspektif historis perkembangan wayang di Kabupaten Pati terkait dengan masa sejarah kraton Jawa. Tiap-tiap raja Jawa yang berkuasa memiliki hubungan struktural dengan Kabupaten Pati. Oleh karena itu dalam menganalisa seni pedalangan pun akan lebih lengkap manakala dikaitkan dengan kerajaan yang pernah berkuasa ditengah Jawa. Misalnya kerajaan Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram.

Kerajaan Mataram pada masa awal dibangun dengan sistem akulturasi budaya. Panembahan Senapati mementaskan wayang purwa dengan lakon Babad Wanamarta. Hal ini bertujuan untuk memberi legitimasi atas berdirinya kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sinuwun Prabu Hanyakrawati dipen-taskan lakon Mbangun Candi Saptaharga. Lakon ini bertujuan untuk menghormati leluhur darah Barata. Dalam hal ini Kabupaten Pati memang istimewa karena putri Ki Ageng Penjawi menjadi permaisuri Panembahan Senapati. Dengan demikian raja Mataram memang masih keturunan daerah Pati.

Unsur Hindu Budha Islam dalam pewayangan disempurnakan oleh Sultan Agung. Pemerintahan Amangkurat Agung kerap dipentaskan Lakon Dewaruci. Ketika Mataram pindah ke Kartasura wayang tambah semarak. Industri wayang berkembang pesat. Dalang -dalang dari Pati banyak belajar pedalangan di Kartasura. Masa Kraton Surakarta malah banyak seniman Pati yang belajar dan mengabdi di kota Bengawan. Sampai sekarang pewayangan gagrag Pati banyak dipengaruhi oleh pedalangan gaya Surakarta. Namun demikian pengaruh lingkungan dan teknologi tetap memperkaya kesenian wayang gaya Pati.

Dalam lintasan sejarah pendiri Pati adalah Ki Ageng Penjawi yang gemar nanggap wayang. Beliau hidup pada masa Kesultanan Pajang dan awal Kerajaan Mataram. Secara berurut-an wayang gaya Pati mengikuti pola estetika Mataram Kota Gedhe, Kartasura, dan Surakarta. Sampai saat ini pedalangan Pati selalu berkiblat dengan gaya Surakarta. Namun saat jaya Pati mengalami perkembangan yang dinamis.

Kerajaan Mataram pada masa awal dibangun dengan sistem akulturasi budaya. Panembahan Senapati mementaskan wayang purwa dengan lakon Babad Wanamarta. Hal ini bertuju-an untuk memberi legitimasi atas berdirinya kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sinuwun Prabu Hanyakrawati dipentaskan lakon Mbangun Candi Saptaharga. Lakon ini bertujuan untuk menghormati leluhur darah Barata.

Unsur Hindu Budha Islam dalam pewayangan disempur-nakan oleh Sultan Agung. Pemerintahan Amangkurat Agung kerap dipentaskan Lakon Dewaruci. Ketika Mataram pindah ke Kartasura wayang tambah semarak. Industri wayang berkembang pesat. Dalang-dalang dari Pati banyak belajar pedalangan di Kartasura. Masa Kraton Surakarta malah banyak seniman Pati yang belajar dan mengabdi di kota Bengawan. Sampai sekarang pewayangan gagrag Pati banyak dipengaruhi oleh pedalangan gaya Surakarta. Namun demikian pengaruh lingkungan dan teknologi tetap memperkaya kesenian wayang gaya Pati.

Menurut Bapak Hadi pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pati ada dua dalang Pati yang amat kreatif. Beliau adalah Ki Kartopel dan Tri Linuwih. Kedua dalang ini mampu kreatif yang memadukan antara unsur tradisi dan modern. Teknologi lighting dan humor kontemporer dikemas dalam bentuk seni pedalangan. Dalam hal ini pentas pewayangan sudah mulai terpengaruh ciri ciri pakeliran komersial.

Desa Trimulyo Kecamatan Kayen kabupaten Pati terdapat dalang Ki Kartubi. Dalang sepuh ini memiliki keturunan seniman. Bapak dan kakeknya juga seorang dalang. Ada lagi dalang Pati yang bernama Ki Muharso. Juga Wiwin Nusantara menjadi dalang terkenal. Ki Wiwin Nusantara lebih yunior. Rumah dekat dengan Ki Kartubi. Ki Bowo juga dalang. Rumah dekat Syekh Jangkung. mereka selalu mengembangkan seni budaya adi luhung. Ki Wiwin masih keponakan dalang Enthus Tegal.

Ki Kartubi atau Kartopel ramah tamah. Pernah Ki Kartubi pentas di Pontianak Kalimantan Barat. Istri Ki Kartubi adalah seorang guru SD. Namanya Mujiati. Putrinya bernama Dian Puji Meirani, alumn STIE Widya Wiwaha Hp. 081225806555. Dengan dicantumkan kontak person ini memudahkan peneliti untuk mengadakan wawancara serta menggali sumber data.

Wawancara dilanjutkan dengan Ki Bowo. Tahun 1982 Transmigrasi di Pekanbaru Riau. Selama lima tahun berada di Pulau Sumatra. Dua anaknya bekerja di pelayaran. Dulu sekitar tahun 1980-1990an rata-rata bisa dapat tanggapan 10-15 kali. Muncul sebagai dalang yang laris. Saat ini sedang ada hajatan sedekah bumi. Di Pati selalu pentas wayang.

Menurut Ki Bowo pedalangan Pati lebih banyak berkiblat pada gaya Surakarta. Lakon dalang Pati pernah dipentaskan oleh Aji Serat. Cerita pra Sinta. Narasi dan sumber umumnya dari folklor, seperti contoh yang diberikan pada anak dari ayahnya. Berkembang atas dasar cerita lesan.

Ki Bobot Wibowo desa Landoh, Kecamatan Kayen, Pati. Pengamatan beliau selaku Ketua Pepadi gaya pedalangan Pati banyak dipengaruhi oleh seni populer. Sebagai anak carik desa Brati, Kayen Pati juga bekerja di sawah, angon dan ngarit. Lahir tahun 1959. Beliau selalu laku prihatin. Kerap tapa atau menjalankan spiritual.

Pakeliran masih utuh, sempurna, jangkep, lengkap. Siang malam pentas. Belum menggunakan speaker. Embahnya punya gamelan lengkap. Maka dalang Bowo pintar main gambang. Cengkok gambang Solo. Laku dalang bermula dari bapaknya wafat. Pak Carik meninggal di RS Semarang. Lantas kerja di bank thithil, bank plecit, koperasi. Dari sinilah ki Bowo berkarir. Bermodal jual beli keberuntungan.

Sihing Kridha Murti atau SKM wadah pedalangan. Tiap Jumat gladhen wayang. Ki Bowo pun belajar. Belajar cekelan wayang, sabetan, dhodhogan. Meniru adegan Ki Anom Suroto atau Ki Nartosabdo. Dialek Pati pun tidak begitu menonjol dalam pakeliran.

Ki Bobot Wibowo pintar hidup bermasyarakat, bergaul, dan berinteraksi. Terbukti rekan-rekan sesama dalang dari luar selalu mampir ke rumah tiap kali mau pentas wayang di Pati. Sebut saja Ki Cahyo Pamungkas, Ki Warseno Slenk, Ki Purbo Asmoro.

Ilmu Kejawen bermakna luhur. Dasar-dasar seni pedalangan hendaknya dipelajari oleh para pemula. Pementasan untuk anak-anak yang mau belajar pe-dalangan sebaiknya dimulai dengan tahap-tahap sesuai dengan pakem.

Dimulai dari gending patalon, sabetan, cepengan, dhodhogan dan antawacana. Juga perlu belajar suluk, ada ada, gendhing. Dasar dasar seni pedalangan itu menurut Ki Bobot Wibowo memperkuat kualitas pedalangan. Contoh yang diberikan untuk mengiringi pentas pewayangan di Pati dengan menampilkan gending Singa Nebak laras slendro.

Lancaran Singa Nebak itu digunakan untuk mengiringi lagu budhalan. Para prajurit dan komandannya akan tampak anggun bila lagu Singa Nebak itu digarap dengan serasi. Keserasian antara kerawitan dengan tari, gerak dengan bunyi akan menimbulkan suasana semangat, meriah dan gembira. Penonton wayang memang menunggu saat saat episode budhalan ini.

Dalang memang mempunyai posisi sentral dalam pakeliran wayang purwa. Pengalaman Ki Bobot Wibowo dalam bi-dang kesenian pantas untuk dijadikan rujukan bagi dalangdalang muda. Beliau punya 1 kotak wayang yang dibeli dari Masaran Wonogiri.

Serat Kandha memberi kisah gunung Kandha atau gunung Kendheng. Belajar kendang tersedia di rumahnya. Kebetulan sekali rumahnya berjarak 200 m dari Makam Syekh Jangkung atau Syekh Saridin. Tempatnya di Nglandoh Kayen Pati. Jelas sekali pengaruh Mataram jaman Sultan Agung. Kakak Sultan Agung yang bernama Retno Jinoli adalah istri Syekh Saridin. Boyongan Retno Jinoli dihormati dengan pentas wayang purwa.

Kawasan Gunung Kendheng kabupaten Pati memiliki beragam kesenian yang dapat dijadikan sebagai objek penelitian. Bila dikaji dari perspektif etnolinguistik wayang gaya Pati karena pengaruh dialek bahasa setempat. Masyarakat Rembang, Jepara, Pati, Kudus, Blora, memiliki dialek khusus sehingga unsur-unsur logat setempat berpengaruh pada bahasa pedalangan Pati. Adanya unsur dialek itu tentu memperkaya perbendaharaan dunia pewayangan.

Pengkajian atas seni budaya Pati berguna untuk menyusun langkah langkah strategi kebudayaan. Ada penemuan yang bermakna atas penelitian wayang di Pati. Baik dalang Kartubi dan dalang Bobot Wibowo belum melakukan regenerasi seni. Kedua dalang itu tak mempunyai anak yang dapat main wayang.

Dalang dekat dengan ilmu Kejawen. Di sini profesi seorang dalang tak mesti dapat diwariskan pada anak-anaknya. Kejadian ini mesti mendapat perhatian dari masyarakat Pati. Padahal kebanyakan dalang itu adalah profesi keturunan. Faktor gen dalang itu lebih mudah untuk menjadi seorang dalang. Daerah Pati pun begitu. Dulu bapaknya dalang, maka anak anaknya pun memilih profesi dalang.

Pelaku budaya Pati selalu mengutamakan ngelmu laku. Guru Kejawen sepanjang gunung Kendheng atau gunung Kandha ibarat pepundhen.

D. Guru Kejawen Kawasan Gunung Kendheng.

Makam Syekh Jangkung di desa Landoh Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Rombongan Kraton Surakarta melakukan ziarah spiritual dipimpin oleh GKR Galuh Kencono dan GKR Retno Dumilah, pada hari Sabtu 17 Maret 2018. Bertepatan dengan hari Nyepi.

Ribuan peziarah datang berduyun duyun tiap hari. Syekh Jangkung dikenal sebagai tokoh mumpuni. Beliau sakti mandraguna. Makamnya selalu ramai pengunjung dari kalangan kejawen. Makamnya didampingi dua garwa, yaitu Pandhanarum dari Kerajaan Cirebon. Kedua Retno Jinoli dari Kerajaan Mataram. Retno Jinoli adalah mbakyu Sultan Agung, raja Mataram. Asal usul Syekh Jangkung berasal dari desa Miyono. Dulu dikenal dengan nama Saridin.

Alam Gunung Kendheng atau gunung Kandha menawarkan aura spiritual tinggi. Rombongan Kraton Surakarta lantas menghadiri upacara di makam Bagus Kuncung. Tokoh spiritual ini cukup berpengaruh di kawasan Gunung Kendheng. Begitu datang langsung diambil dengan bunyian drumb band Madrasah Aliyah Kayen Pati. Aparat Pemkab Pati dipimpin oleh Bupati Pati. Adat istiadat di sekitar pegunungan Kendheng memang mengakar kuat.

Masyarakat berkumpul. Mereka begitu bersemangat. Tradisi menjadi darah daging, ibu-ibu beserta anak-anaknya berdiri sepanjang jalan. Mereka berjalan kaki sepanjang 1 km. Wajah bersinar-sinar untuk menuju makam Bagus Kuncung. Rombongan Kraton Surakarta segera mengadakan tahlilan Bagus Kuncung atau H Mataram.

Sepanjang gunung Kendheng atau Gunung Kandha, terdapat guru yang sakti mandraguna. Dalam sejarahnya Bagus Kuncung adalah keturunan Ki Penjawi, pendiri Kraton Mataram. Makam di Jabung Jatiroto, Kayen Pati. Kepala Desa Jatiroto hadir dan paring suguhan. Dari Kraton Surakarta telah rawuh GKR Galuh Kencono, pengageng Keputren dan GKR Retno Dumilah, pengageng Pasiten.

Kaitannya dengan keraton Surakarta, Bagus Kuncung menjadi tim penulis Serat Centhini. Semasa Sinuwun Paku Buwana V, Ki Bagus Kuncung pernah dikirim ke Mekkah untuk beribadah dan memperdalam ilmu agama Islam. Serat Centhini sebagai tim ahli kerajaan, khusus dalam bidang agama. Setelah pulang ke Jawa bergelar menjadi Haji Mataram. Gelar ini langsung diberikan oleh Sunan Paku Buwana V.

Makam Bagus Kuncung berada di tengah alam yang amat indah. Gleges atau kembang tebu tumbuh pating trucuk seperti jamur barat.

Pohon aren besar berjajaran dengan pohon kepoh. Kompleks makam memancarkan kewibawaan. Tanggal 17 Maret 2018 atau Rojab 1439 menjadi ajang silturahmi historis dan kebudayaan.

Tiap kali melewati daerah Pati, lantas ingat tokoh-tokoh besar : Ki Penjawi, Ki Ageng Ngerang, Nyi Ageng Ngerang, Sunan Prawoto. Beliau tokoh Pati yang amat terhormat.

Priyayi luhur itu menurunkan raja besar Mataram. Yakni Kanjeng Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Dengan Ratu Batang lahir Sri Susuhunan Amangkurat Agung yang memerintah tahun 1645 – 1677.

Pegunungan Kendheng yang menjadi perbatasan Pati dan Grobogan menjadi kawasan penting dengan lika-liku segala permasalahan. Mulai penambangan kapur, isu pabrik semen, kayu jati ternyata memerlukan perhatian serius. Agar suasana ayem.

Lagu Becak Pati laras pelog pathet nem.

Becak Pati mlakune alon prasaja.
Sing nyetir sopan santun tata krama.
Genjotane kathik manteb ora nggersula.
Tumpakane ra nyuwara enak dirasa.

Becak Pati rina wengi datan kemba.
Wira wiri golek penumpang ngupaya upa.
Ora ninggal peraturan kang wus ana.
Becak Pati nyata ra gawe kuciwa.

Becak becak kula terke teng terminal.
Terminale niku wonten sisih pundi mbak ayu.
Kae ketok melok-melok terminale.
Pancen Asri rerenggane kutha Pati.

Becak becak kula numpak bola bali.
Napa purun kula bayar namung niki.
Purun mawon angger kula boten rugi.
Sopir becak wira wiri pados rejeki.

Lagu Becak Pati ini mengajarkan tentang keteladanan seorang sopir becak yang bersikap ramah dan hati hati. Pada saat berada di jalan raya sopir becak berjalan dengan mentaati peraturan lalu lintas. Kepada penumpang sopir becak bertindak halus, ramah dan sopan.

Penumpang dan sopir becak Pati saling menghormati. Tampak sangat akrab. Kedua belah pihak merasa beruntung dan nyaman.

Jiwa kerakyatan Sultan Agung persis dengan lagu Becak Pati. Syekh Jangkung diambil ipar. Dinikahkan dengan Retno Jinoli, putri sulung Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati raja Mataram tahun 1602-1613.

Gunung Kendheng tempat semedi Sultan Agung. Tapa brata bersama Syekh Jangkung dan Retno Jinoli. Masyarakat Pati tiap hari ngalap berkah.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *