Sejarah Ki Ageng Pandhanaran Membangun Kabupaten Semarang

33. Drs. Sardjono 1985-1987. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pertanian, perkebunan dan peternakan berkembang pesat.

34. Drs. Hartomo 1987-1992. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kesejahteraan rakyat menjadi program utama.

35. Drs. Sudijatno 1992-1999. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kepemimpinan periode ini mengalami masa transisi reformasi.

36. H. Bambang Guritno, S.E., M.M. 1999-2006. Dilantik didampingi pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Didampingi Wakil Bupati Ir HM Tamzil (2000-2003) dan Wakil Bupati Hj. Siti Ambar Fathonah (2005-2006). Kekompakan ditunjukkan dengan kerja keras.

37. Hj. Siti Ambar Fathonah, S.PdI 2006-2010. Dilantik didampingi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pimpinan daerah senantiasa membawa kesejukan dan kedamaian.

38. Dr. H. Mundjirin ES, Sp.OG 2010-2015. Dilantik didampingi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Didampingi Wakil Bupati Ir. Warnadi, MM. Pimpinan pada periode ini selalu berpihak pada rakyat agar sejahtera lahir batin.

39. Dr. H. Mundjirin ES, Sp.OG 2015-2020. Dilantik didampingi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Didampingi Wakil Bupati Ngesti Nugraha, SH. Kepemimpinan periode ini cukup banyak bermanfaat bagi rakyat.

40. Ngesti Nugraha dan Basari 2021 – 2024, terpilih pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo

Daftar bupati Semarang sebelum tahun 1945 tertulis secara jelas dalam kitab Jawa Kuna yang tersimpan dalam perpustakaan Reksa Pustaka Kraton Surakarta Hadiningrat. Buku-buku literatur kuna tersebut tertulis dalam bahasa Jawa Kawi. Literatur warisan nenek moyang tersebut perlu dibaca, dikaji dan dihayati demi pengembangan ilmu pengetahuan. Kabupaten Semarang menjadi pusat pengkajian kawruh kasampurnan.

C. Pengembangan Seni Budaya Semarangan
Kabupaten Semarang mengembangkan seni budaya Jawa secara kreatif. Maka muncul gagrag Semarangan. Pelaku seni budaya Semarang mengembangkan kebudayaan tetap berpedoman pada pakem yang telah diwariskan oleh para leluhur.

1. Simpang Lima

Simpang Lima Riya lapangan Pancasila
Semarang ngumandhang pranyata serbaguna
Swasana rame rakyat gedhe atine
Ing Jawa Tengah kabeh padha ambangun

Jroning kutha tekan desa ngadesa,
saben dina minulya
Simpang Lima piguna upacara keperluan umum
Simpang Lima Riya ing kutha Semarang

Keindahan kota Semarang dibuat lelagon dengan begitu indah dan memikat. Unsur seni dan sosial berpadu dengan cukup selaras. Kawasan simpang lima menjadi topik sentral. Banyak tokoh yang turut serta menjaga keindahan kota Semarang. Kota Semarang dipimpin pertama kali oleh Ki Ageng Pandhanaran, trah Kratoh Demak Bintoro. Kemegahan kota Semarang dibangun pada masa Sinuwun Paku Buwono I. Beliau lahir di Semarang dengan nama Gusti Raden Mas Drajat.

2. Goyang Semarang

Klintong-klintong numpak andhong
Ngebel klingkong-klingkong
Grayah-grayah sake kothong kanthong bolong-bolong
Akhike ngadhang adhendhang goyang Semarang
Iringane bonang kendhang rebab gambang
Ilang samar atiku ora sumelang
Ora cemplang ngumandhang goyang Semarang

Lagu populer di Semarang ini menggambarkan suasana perkotaan dengan sentuhan andhong tradisional. Ternyata kehidupan modern dapat beriringan dengan situasi yang berbau klasik. Dengan demikian modernitas tetap hidup berdampingan dengan tradisi. Ki Narto Sabdo telah melambungkan nama Semarang. Banyak tokoh yang aktif, memajukan wilayah Semarang.

3. Identitas Jawa Tengah
Mungguh sumbere, e wawasan nusantara
dadi paugeran raharjane bangsa
tri gatra panca gatra kang ginayuh
trus binudi supaya lestari jejeg santosa
mujudake tata tentrem kerta raharja ing Jawa Tengah
sumbere budaya agung mrih lestarining bangsa
strategi wawasan identitas Jawa Tengah
Bab panca gatra, Ideologi Pancasila
nindakake demokrasi Pancasila
ekonomi ngleksanakake pasal
telung puluh telu UUD empat puluh lima
sosial budaya tansah angleluri kapribaden bangsa
katentremaning bebrayan rancaking pembangunan
strategi wawasan identitas Jawa Tengah

Kota Semarang sebagai kiblat pemerintahan propinsi Jawa Tengah seyogyanya merasa bangga mempunyai tokoh budaya Jawa yang bernama Ki Nartosabdo. Beliau telah mewariskan rumusan luhur yang berkaitan dengan cara pandang rakyat Jawa Tengah dalam mengungkapkan jati dirinya. Ketika Ki Narto Sabdo wafat, Gubernur Supardjo Rustam memerintahkan menyanyikan lagu Identitas Jawa Tengah. Bukti untuk menghormati. Perlu diusulkan untuk menjadi pahlawan budaya.

D. Lingkungan Pegunungan Semarang
1. Gunung Merbabu

Di antra kaki Gunung Merbabu dan kaki Gunung Merapi yang berdiri berjajar, ada gunung kecil yang disebut dukuh Candhi. Jalannya menanjak hingga tiba di puncak. Disitu mereka melihat kuburan tanpa cungkup, hanya diteduhi pohon cempaka.

Kuning putih bunganya bertaburan semerbak harum mewangi. Kuburan itu bercahaya menyinari alam sekitar. Menurut cerita orang-orang tua, itu makam raja Majapahit, Sang Prabu Brawijaya III.

Di sebelah utara, terlihat air Rawa Pening luas, di tengah telaga terlihat pulau mengapung menurut tiupan angin, ke timur, barat, ke tengah ke utara serta ke selatan. Tidak ada tumbuh pohon kayu yang besar. Yang terlihat hanyalah rumput katang yang berwarna hijau menarik hati.

2. Gunung Telamaya

Jaka Tingkir pernah bertapa di Gunung Telamaya, bermimpi kejatuhan bulan, bersamaan dengan bergetarnya gunung, bergemuruh suaranya sehingga aku kaget. Mimpi itu sangat baik, itulah raja mimpi. Ki Ageng Sela menyuruhnya untuk mengabdi pada Kanjeng Sultan Demak, disitulah tabir mimpi akan terkuak. Ki Ageng Sela meminta agar keturunannya besok diperbolehkan meneruskan wahyu.

Jaka Tingkir kemudian pergi ke Demak. Saat itu yang memerintah negara Demak adalah Putra Raden Trenggana, bernama Kanjeng Kanjeng Sultan Jimbun Pameksa. Jaka Tingkir telah lama mengabdi disana, dikasihi oleh raja serta diserahi tugas sebagai lurah tamtama. Jaka Tingkir diambil sebagi anak oleh raja serta diperbolehkan masuk istana.

Raja berkehendak menambah perwira tamtama, tapi harus melalui pendadaran dengan menempeleng kepala kerbau hingga remuk. Ada seorang dari Kedu Pingit, bernama Dadungawuk. Wajahnya kaku, jelek dan dia sering menyombongkan kesaktiannya. Dia hendak mengabdi ke Demak sebagai tamtama. Dia sudah melapor kepada lurah Tamtama.
Dadungawuk ditanya, apakah dia sangup dicoba untuk ditusuk. Dia menyanggupinya. Jaka Tingkir mendekatinya serta memasukkan sadak di dada Dadungawuk dada pecah dan mati. Perwira tamtama yang ada di depan diperintahkan menusuknya dengan keris.
Mayat Dadungawuk luka berat disekujur tubuhnya. Hal itu didengar oleh raja. Beliau marah sekali. Jaka Tingkir diusir dari negara Demak. Jaka Tingkir sangat kecewa mengingat kelakuannya sendiri. Di Gunung Kendeng, Jaka Tingkir bertemu dengan Ki Ageng Butuh.

3. Gunung Ungaran
Letak gunung Ungaran berdekatan dengan kota Ungaran sebagai ibukota kabupaten Semarang. Terlihat dari kejauhan begitu indah, megah, gagah, segar, bugar. Para pengendara dari Yogyakarta menuju kota Semarang, akan melihat gunung Ungaran yang berdiri dengan kokoh.

Hawa di sekitar pegunungan Ungaran ini sangat sejuk dan bersih. Cocok buat pemukiman para sesepuh lansia yang memerlukan lingkungan sehat. Perlu pengembangan wisata gunung agar Ungaran semakin menarik di mata para wisatawan baik yang berasal dari domestik maupun mancanegara.

Wilayah sekitar gunung Ungaran terdapat situs peninggalan kerajaan Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram. Benda purbakala yang tersimpan bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran.

4. Gunung Kendhalisada

Gunung Kedhalisada terletak di kabupaten Semarang yang menawarkan keindahan alam permai. Mata akan sedap memandang. Hati pun akan merasa tentram dengan berwisata dilingkungan gunung Kendhalisada. Karena di sana terdapat kawasan historis purbakala yang mengandung nilai etis filosofis.

Kisah gunung Kendhalisada berkaitan dengan tokoh pewayangan yang bernama begawan Anoman. Dalam kisah Ramayana Anoman pada masa mudanya menjadi Panglima Perang Negeri pancawati. Berkat kesaktiannya Anoman dapat mengalahkan Prabu Dasamuka raja Negeri Ngalengka. Anoman mempersembahkan kembali dewi Sinta kehadapan Prabu Ramawijaya.

Pada masa tuanya Anoman menjadi brahmana di pertapan Kendhalisada. Anoman mengalami hidup yang sempurna setelah menikahkan wareng Arjuna. Mereka adalah para putra Prabu Jayapurusa atau Jayabaya raja Mamenang Kediri.

Ketiga putra raja Mamenang itu adalah Raden Jaya Amijaya menikah dengan dewi Pramesthi. Kelak dia menjadi raja di negeri Jenggala. Raden Jaya Amisena menikah dengan Dewi Pramoni. Dia menjadi raja di negeri Pengging. Raden Jaya Aminoto menikah dengan Dewi Sesanti. Kelak menjadi raja di negeri Daha.

5. Gunung Kendheng
Deretan gunung Kendheng juga melampaui daerah Semarang bagian selatan dan timur. Mulai daerah Tengaran, Susukan dan Suruh. Pegunungan Kendheng wilayah Semarang mengikuti arus aliran kali Serang.

Gunung Kendheng adalah pegunungan yang berjajar-jajar dari Semarang sampai ke daerah barat Surabaya. Konon ceritanya, Gunung Kendheng ini merupakan ceceran dari Gunung Mahameru atau Gunung Semeru. Gunung Semeru dipindah dari tanah Hindustan menuju pulau Jawa. Yang memboyong adalah para dewa.

Di tengah jalan banyak yang cuwil dan tercecer. Ada yang menjadi gunung Salak, Tangkubanprahu, Galunggung, Slamet, Sundara, Sumbing, Telamaya, Merbabu, Merapi, Pandhan, Wilis, Kelut, Brama, dan Anjasmara. Selebihnya menjadi deretan pengunungan Kendheng.

Dari wilayah utara Kabupaten Nganjuk, Gunung Kendheng tampak membujur dari barat ke timur. Tepat membelah wilayah Nganjuk dengan Kabupaten Bojonegoro. Seolah-olah benteng kokoh yang memberi rasa aman. Warna biru dari kejauhan semakin tampak asri dan sedap bila mata memandang.
“Harapan para orang tua, jangan sampai ada halangan apa pun yang turun ke wilayah Nganjuk. Semua penyakit cukuplah berhenti di Gunung Kendheng.”
Kata Mbah Dardjo saat memimpin slametan di sumur gedhe. Ketika mata memandang ke utara, iklim Nganjuk mudah terbaca. Apakah sedang musim hujan atau musim kemarau. Ini juga banyak dialami oleh warga Nganjuk bagian utara.
Kayu-kayuan di sekitar Gunung Kendheng banyak ragamnya. Ada kayu jati, kayu sono, kayu meranti dan kayu-kayu rajek yang bisa digunakan untuk pagar. Gunung Kendheng sungguh banyak nilai mistik.
Alam pegunungan Kendheng di kabupaten Semarang amat menarik perhatian para seniman untuk melakukan kreatifitas. Lukisan tentang geografi tradisional kerap dibuat sinopsis dalam bentuk tembang yang selalu diajarkan pada saya sewaktu kecil.

Cepu Bojonegoro
Lor Rembang Kidul Blora
Mengetan Tuban Babat lan Lamongan
Gresik Surabaya

Kemampuan orang Gunung Kendheng yang perlu dicatat adalah ngelur gaplek. Ngelur gaplek yaitu merendam gaplek untuk dijadikan gathot dan thiwul. Gaplek yang direndam beberapa hari itu akan menjadi gaplek dan thiwul yang baik. Alat rendaman yang digunakan yaitu bul atau jambangan. Bul adalah semacam bejana yang terbuat dari tanah liat.

Kepedulian sosial masyarakat Semarang memang tinggi. ada ungkapan yang berwujud tembang parikan. Semarang kaline banjir, aja sumelang ora dipikir. Kendal kaline wungu, ajar kenal mumpung ketemu.

Kabupaten Semarang yang dibangun oleh Ki Ageng Pandhanaran berkembang maju pesat dan makmur. Ki Ageng Pandhanaran lantas menjadi pemimpin kabupaten Semarang. Sekian lama menjabat bupati lantas lengser keprabon madeg pandhita. Makam beliau di Bayat Klaten. Di gunung Jabalkat Bayat Klaten. Ki Ageng Pandhanaran juga mendapat gelar sebagai Sunan Bayat.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *