Sejarah Tari Gandrung Mendatangkan Kemakmuran

C. Kendang Kempul Iringan Tari Gandrung.

Bagian sejarah penting bahwa kendang kempul dan tari gandrung mewarnai berdirinya sebuah kabupaten. Resmi sudah status Kabupaten Banyuwangi. Pemimpin dan rakyat wilujengan di alas Purwo.

Tanda wujud syukur dengan lek lekan. Padha gulangen ing kalbu. Ing sasmita amrih lantip. Segenap sesepuh melakukan tirakatan.

Kabupaten Banyuwangi secara resmi berdiri pada tanggal 18 Desember 1771. Peresmian dilakukan oleh Kanjeng Sinuwun Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat. Pemekaran kabupaten Banyuwangi terjadi atas wasiat Gusti Kanjeng Ratu Mas, putri Bupati Lamongan, Pangeran Purboyo. Sebetulnya Bupati Lamongan masih keturunan penguasa Blambangan, Prabu Tawang Alun.

Pejabat Bupati Banyuwangi diserahkan kepada seorang tokoh yang bijak bestari, dermawan, kaya raya, luhur budi, cakap, trampil dan menguasai bidang tata pemerintahan. Beliau bernama Raden Mas Alit, keturunan Prabu Tawang Alun yang pernah berguru kepada Pangeran Kadilangu di Demak Bintara. Setelah menjabat Bupati Banyuwangi sejak tahun 1773, Raden Mas Alit bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Adipati Wiroguno I.

Alas Purwo digunakan untuk upacara adat. Terlebih dulu para sesepuh tirakatan. Mereka cegah dhahar lawan guling.

Pada tahun 1818 Adipati Surenggono selaku Bupati Banyuwangi membangun pelabuhan Ketapang. Dulunya pelabuhan Ketapang masih sederhana, lantas dilengkapi dengan penginapan dan fasilitas perbelanjaan. Hubungan Banyuwangi dengan pulau Bali semakin mudah dan murah. Kedua daerah ini bekerja sama dalam bidang seni budaya, terutama musik kendang kempul dan tari gandrung.

Peresmian pelabuhan Ketapang dilangsungkan pentas seni. Lelagon banyuwangen berkumandang. Tari gandrung tampil lincah. Kendang kempul terdengar sigrak gumyak.

Pentas tari gandrung pertama disajikan oleh seniman dari daerah Pesanggaran, Bangorejo, Purwokarjo, Muncar. Pentas tari gandrung malam kedua giliran seniman dari daerah Tegaldlimo, Cluring, Gambiran, Srono, Genteng, Glenmore, Kalibaru. Pentas tari gandrung malam ketiga giliran seniman dari daerah Singojuruh, Rogojampi, Kabat, Glagah, Giri. Pentas malam keempat giliran seniman dari daerah Wongsorejo, Songgon, Sempu, Kalipuro. Malam kelima diserahkan pada seniman dari daerah Silir Agung, Tegalsari, Licin, Blimbingsari.

Tiap tahun diselenggarakan upacara adat di alas Purwo. Dengan menampilkan seni budaya tari gandrung Banyuwangen.

Danyang yang menempati Alas Purwo tiap tahun ingin diberi persembahan. Seni tari gandrung gagrag Banyuwangen bentuk persembahan yang disukai oleh para mahluk halus. Terutama iringan kendang kempul.

Lelagon Banyuwangen diyakini sebagai sarana keselarasan alam. Lantunan suara yang mengiringi tari gandrung terasa magis estetis. Iringan kendang kempul membuat mahluk halus tidak mau mengganggu kehidupan masyarakat.

Pementasan seni budaya Banyuwangi selalu tampil meriah, megah, mwah, indah, gagah dan lincah. Syair-syair lelagon Banyuwangi bersifat natural, artinya dekat dengan alam. Laut, gunung, sawah dan tanaman menjadi inspirasi untuk kreasi kesenian tari gandrung. Pembinaan para pemimpin Banyuwangi menambah bobot kualitas seni tari gandrung.

Kabupaten Banyuwangi cukup sukses menampilkan atraksi seni budaya. Terutama tari gandrung, dengan iringan kendang kempul. Wisatawan lokal, domestik dan internasional berbondong bondong ke Banyuwangi. Dari sana berbagi rasa bahagia.

Alam Alas Purwo sungguh indah, seindah namanya. Banyuwangi yang menghadirkan suasana wangi. Untuk menuju Banyuwangi sejak dulu amat mudah. Stasiun kereta api sudah beroperasi dengan teratur. Juga ada perjalanan lewat udara. Banyuwangi sungguh bikin senang. Bahkan sekalian mahluk halus di alas Purwo pun bisa menikmati. Malah sama ikut menari dan menyanyi.

D. Tari Gandrung Persembahan Buat Danyang Alas Purwo.

Lelagon Banyuwangen dipercaya sangat magis. Para mahluk halus di Alas Purwo merasa bahagia saat gendhing gagrag Banyuwangen berkumandang merdu.

Padhang Bulan Banyuwangi

Padhang bulan ing pesisir Banyuwangi.
Padhang bulan ing pesisir Banyuwangi.

Kinclong kingclong segarane kaya kaca.
Kinclong kingclong segarane kaya kaca.

Lanang wadon bebarengan suka-suka.
Eling-eling ya padha elinga.

Perjuangan kanggo nusa bangsa.
Pancasila dasar negara kita.

Pesisir Banyuwangi sungguh indah dilukiskan dalam bentuk nyanyian. Lagu padhang bulan ini memberi penjelasan tentang obyek wisata di pesisir pantai kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Tempatnya indah dan cocok untuk melepas lelah. Tua muda pria wanita datang untuk bersenang-senang. Meskipun demikian mereka tetap menjaga etika. Siang malam selalu eling lan waspada. Tidak lupa berjuang untuk nusa dan bangsa, dengan falsafah negara Pancasila. Itulah perwujudan hidup yang ayem tentrem damai sejahtera.

Sambel Kemangi

Enake jangan asem kecut, sambel kemangi.
Mangane bubar nyambut gawe.
Sanadyan lawuhe tempe, ning sehat awake.

Segere ngombe banyu kendhi, rokok nglinting dhewe.
Nadyan mung manggon ana desa
Nyatane ayem tentrem, seneng sakluwarga.

Aku trima watone pokok seger waras.
Kayaku klumpukna kanggo ngragati sawah.
Uga tuku bibit lan rabuke, mangan saben dinane, sega sambel kemangi.

Enak apa wong urip ing alam donya.
Yen wegah rekasa uripe ora bisa mulya.
Kudangane rama lan ibune, sregepa nyambut gawe, aja lali Gustine.

Masyarakat Banyuwangi gemar dengan lagu Sambel Kemangi yang melukiskan suasana pedesaan.

Sambel kemangi mudah membuatnya dan murah harganya. Cocok untuk lauk pauk sega liwet yang masih hangat. Banyak pesinden yang kerap melantunkan lagu sambel kemangi. Hama dari segala penjuru akan menyingkir begitu lagu Banyuwangen berkumandang. Makhluk halus juga punya hati dan perasaan.

Langit Biru

Langit katon biru, nana mega nana mendhung.
Lintang kelap kelip, Candra dewi mesem ayu.

Angin silir-silir, Wong turu nana kang nglilir.
Padhange kumencar, Sesawangan nyenengna ati.

Langit katon biru, Nana mega nana mendhung.
Lintang kelap kelip, Candra dewi mesem ayu.

Angin silir-silir, Wong turu nana kang nglilir
Padhange kumencar, Sesawangan nyenengna ati.
Langit biru wulane ayu, Adheme banyu, Nggeget nong untu

Yakin sekali bahwa lelagon Banyuwangen bisa untuk tolak balak. Penyanyi Banyuwangi gemar melantunkan lagu Langit Biru. Angkasa raya berhamparan warna biru.

Bintang bintang yang bertebaran pun menjadi perhiasan yang menarik. Air gemericik mengalir terasa sejuk dan dingin. Mata yang memandang dan telinga yang mendengarkan merasa nyaman. Banyak penyanyi Banyuwangi sungguh trampil membawakan lagu. Saking harunya, banyak orang yang meneteskan air mata. Tanda puncak bahagia.

Wulan Andhung-andhung

Wulan andhung-andhung.
Ya rama tuwa
Saben wulan saben tahun.
Sinare candra dewi
Alamak kapilu madhang.
Mendem gadhung bakalan wurung.
Wulan andhung-andhung
Ana padhang ana mendhung.
Alamak tangise wong lanang.
Kang keduhung
Yung yung klapa dhoyong.
Awakku ya keloyong-loyong.

Bulan andung-andung
Datang datanglah
Saat kangen saat rindu.
Indahnya bulan purnama, aduh kangmas.
Sinarmu yang terang
Tiba-tiba ketutup awan.
Hatiku pun sedih
Bunga layu alam sendu, aduh kangmas.
Menunggu sinarmu yang terang.
Tak terasa berlinang
Air mataku berlinang-linang

Bulan tertutup mendung.
Di mana cahyamu
Yang bersinar indah dulu.
Bulan berganti tahun, aduh kangmas.
Menanti kekasih
Janji pergi akan kembali.
Hatiku pun sedih
Bunga layu alam sendu, aduh kangmas.
Mengharap kekasih kembali.
Tak terasa berlinang
Air mataku berlinang-linang.

Bulan andung-andung
Datang datanglah
Saat kangen saat rindu.
Indahnya bulan purnama, aduh kangmas.
Sinarmu yang terang
Tiba-tiba ketutup awan.
Hatiku pun sedih
Bunga layu alam sendu, aduh kangmas.
Menunggu sinarmu yang terang.
Tak terasa berlinang
Air mataku berlinang-linang.

Bulan tertutup mendung.
Di mana cahyamu
Yang bersinar indah dulu.
Bulan berganti tahun, aduh kangmas.
Menanti kekasih
Janji pergi akan kembali.
Hatiku pun sedih
Bunga layu alam sendu, aduh kangmas.
Mengharap kekasih kembali.
Tak terasa berlinang
Air mataku berlinang-linang.

Nyanyian yang berjudul Andhung andhung ini begitu populer di kalangan masyarakat Banyuwangi. Lagu gagrag Banyuwangen ini populer di kalangan rakyat. Lagi pula mahluk halus di alas Purwo suka pada lelagon Banyuwangen.

Cocok untuk membuat suasana yang meriah dan bersuasana alami. Mbak Sumiati dan Nini Karlina adalah penyanyi yang mengangkat tema daerah Banyuwangi. Semoga tetap berharga. Cendekiawan meneliti dengan tekun seluk beluk kesenian yang berkembang di daerah Banyuwangi. Kita berharap Banyuwangi tetap menjadi pusat seni budaya.

Angon Bebek

Mak bapak ingsun arep mlaku, Angon bebek turut pinggire banyu.
Bebeke sing lagi gebyur-gebyuran, Angon bebek tengah sawahan.
Ra perduli panas lan udan, Bebek ilang ora karuwan.
Ngrasakna awak sar-saran.

Sedina-dina neng tengah sawah, Angon bebek seneng gebyur-gebyuran.
Sing angon atine bungah lan susah, Mikirna semak sing ana omah.
Mikirna sing arep diolah, Urip urip sing ora betah.
Ngupayaa urip kang genah.

Mak bapak ingsun arep mlaku, Angon bebek turut pinggire banyu.
Bebeke sing lagi gebyur gebyuran, Mikirna simak sing ana omah.
Mikirna sing arep diolah, Urip urip sing ora betah.
Ngupayaa urip kang genah.

Mahluk halus di alas Purwo juga punya darah seni. Kesadaran masyarakat kabupaten Banyuwangi untuk beternak sangat tinggi. untuk memenuhi gizi keluarga mereka melakukan aktivitas peternakan unggas. Angon Bebek dilakukan di tengah sawah dengan penuh kerelaan dan kedamaian.

Hampir semua percaya bahwa seni berhubungan dengan tata cara pemujaan. Berkumandangnya lelagon Banyuwangen sebetulnya digemari oleh mahluk halus yang menunggu Alas Purwo. Lagu ini memberi gambaran tentang seseorang yang sedang angon bebek. Dia rajin bekerja dalam keadaan panas dan hujan. Tanggung jawab dalam mencukupi keluarga. Masyarakat Banyuwangi suka bekerja secara mandiri dan berdikari.

Untuk perhelatan tari gandrung pentas di Alas Purwo, yang dianggap hutan tertua di Pulau Jawa. Wajar jika alas Purwo punya suasana gawat kaliwat liwat, angker kepati pati.

Pentas tari gandrung dalam rangka tata cara. Untuk itu perlu syarat sarana, agar tawa tawar. Artinya Alas Purwo harus diperlakukan dengan penuh kehormatan. Yakni bertingkah laku sesuai dengan paugeran.

Tari gandrung Banyuwangi merupakan seni edi peni. Edi berari linuwih, indah, apik. Peni berarti mengharukan. Keindahan tari gandrung menggerakkan hati. Agar orang hidup selalu eling purwa duksina.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *