oleh

Sejarah Transmigrasi Dari Jawa ke Sumatera

Oleh: Dr. Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA Hp 087864404347)

A. Orang Jawa Merantau ke Pulau Sumatera.

Pada tanggal 6 Pebruari 1819 diselenggarakan pertemuan Kraton Nusantara. Bertempat di kota Tamasek Singapura.

Hadir perwakilan kerajaan dari Ternate, Tidore, Goa, Tallo, Buton, Banjar, Cirebon, Surakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Paku Alaman, Langkat, Deli, Serdang, Mangkunegaran. Mereka diundang dalam rangka peresmian Singapura sebagai sentral bisnis.

Wakil dari Karaton Surakarta Hadiningrat dipimpin oleh GKR Kencono Wungu. Beliau adalah garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana IV yang memerintah tahun 1788-1820. Delegasi Surakarta berjumlah 67 orang.

Utusan ini terdiri dari unsur kepatihan, mandra budaya, purwa kinanthi, pengrawit dan penari. Rombongan berangkat dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang menuju Tamasek.

Diskusi antar raja menghasilkan beberapa informasi penting. Kasultanan Serdang, Deli dan Langkat membuka perkebunan kelapa sawit, karet, coklat, tembakau. Dibutuhkan tenaga dari Pulau Jawa, setelah diadakan pelatihan.

Tenaga dari Jawa meliputi administrasi, transportasi, koki, tukang kayu, seniman. Sebagian tenaga manual yang bisa bekerja di sawah dan kebun.

Ahli yang datang berasal dari Blitar, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Wonogiri, Boyolali, Blora, Pati, Banyumas, Purworejo. Program transmigrasi berjalan lancar gancar.

Tempat yang dituju yaitu Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, Galang yang menjadi wilayah kekuasaan Sultan Deli. Lantas daerah Tebing Tinggi, Perbaungan dan Sei Rampah. Daerah ini dalam ranah kekuasaan Sultan Serdang.

Liputan JUGA  Syeikh Siti Jenar Mbabar Kawruh Kasampurnaan

Kordinasi dilakukan dengan teliti cermat tepat. Sultan Langkat juga menyediakan tempat serta fasilitas yang sangat layak. Pendatang dari Jawa bisa bekerja dengan aman nyaman.

Transmigrasi pada awalnya memang jasa diplomasi GKR Kencono Wungu atau Raden Ajeng Sukaptinah. Beliau bisa meyakinkan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat.

Warga transmigrasi betah tinggal di tanah Sumatera. Mereka hidup makmur sejahtera bahagia lahir batin. Kehormatan dan keberuntungan diwariskan secara turun tumurun.

Cemerlang sekali prestasi warga transmigrasi. Pada tahun 1870 tenaga ahli dari Salatiga datang. Atas bantuan Sinuwun Paku Buwana IX yang memerintah tahun 1861-1893.

Pendatang dari Jawa terjadi lagi pada tahun 1915 atas bantuan Sinuwun Paku Buwana X. Beliau malah mengantar sampai tanah Sumatera. Raja Deli, Serdang dan Langkat menyambut dengan penuh rasa hormat.

Tahun 1958 transmigrasi dilakukan dengan beda tempat. Umumnya tertuju daerah Metro Lampung.

Daerah Jambi dijadikan tujuan transmigrasi tahun 1974. Mereka berasal dari Boyolali, Purwodadi dan Sragen.

Bengkulu jadi tujuan transmigrasi tahun 1981. Mereka datang di daerah Muko Muko.

Untuk kawasan Sumatera Utara terjadi kemajuan pola pikir. Transmigrasi dilakukan dengan swakarsa. Datang transmigrasi dengan kemampuan ketrampilan dan jaringan yang luas.

B. Transmigrasi didukung oleh Sulltan Deli, Serdang dan Langkat.

Kemurahan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat bagi warga transmigrasi dicatat dengan tinta emas. Hutang budi ini dikenang sepanjang masa.

Liputan JUGA  Sejarah Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara

Kerajaan Serdang Darul Arif membangun peradaban berdasarkan keutamaan. Bagi warga transmigrasi, Sultan Serdang berbudi luhur yang mengagumkan.

Peradaban besar dilakukan oleh Kerajaan masa silam. Sejarah berdirinya kerajaan Serdang berhubungan erat dengan Kesultanan Deli dan Kesultanan Langkat. Warga transmigrasi mengenang prestasi gemilang yang diukir dengan penuh pesona.

Transmigrasi berhasil dengan gemilang. Berturut turut raja yang memerintah Kesultanan Deli, yaitu:
1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, tahun 1632-1668.

2. Tuanku Panglima Parungit, tahun 1668-1698.

3. Tuanku Panglima Padrap, tahun 1698-1728.

4. Tuanku Panglima Pasutan tahun, 1728-1761.

5. Tuanku Panglima Gandar Wahid, tahun 1761-1805.

6. Sultan Awaluddin Mangendar, tahun 1805-1850.

7. Sultan Osman Alam Shah, tahun 1850-1858.

8. Sultan Mahmud Al Rasyid, tahun 1858-1873.

9. Sultan Makmun Al Rasyid, tahun 1873-1824.

10. Sultan Osman Al Sani, tahun 1924-1945.

11. Sultan Perkasa Alam Shah, tahun 1945-1967.

12. Sultan Azmy Perkasa Alam Al Haj, tahun 1967-1998.

13. Sultan Osmab Perkasa Alam, tahun 1998-2005.

14. Sultan Mahmud Lamanjiji Perkara Alam, tahun 2005-2020.

Dalam kekerabatan Kesultanan Melayu, para raja masih ada hubungan famili. Antara sultan Serdang dengan Para Sultan Langkat pun berhubungan erat. Warga transmigrasi peduli istana. Adapun para Sultan Langkat yakni:
1. Panglima Dewa Shahdan, tahun 1568-1580.

2. Panglima Dewa Sakti, tahun 1580-1612.

Liputan JUGA  Sejarah Wangsa Sanjaya Pendiri Mataram Kuno

3. Raja Kahar, tahun 1612-1673.

4. Bendahara Raja Badiuzzaman, tahun 1673-1754.

5. Raja Kejuruhan Hitam, tahun 1754-1818.

6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, tahun 1818-1840.

7. Tuanku Sultan Musa Al Khalid Al Mahadiah Muazzam Shah, tahun 1840-1893.

8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1893-1927.

9. Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1927-1948.

10. Tengku Athaar, tahun 1948-1990.
11. Tengku Mustafa Kamal Pasha, tahun 1990-1999.

12. Tengku Herman Shah, tahun 1999-2001.

13. Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2001-2003.

14. Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2003-2020.

Program transmigrasi sukses selalu berhubungan dengan jasa kerajaan. Penulisan urutan raja berguna untuk memahami sistem kerajaan. Pewarisan nilai pun mudah dipetakan.

Keluarga transmigrasi senang hati pada istana. Sedangkan para raja kasultanan Serdang Darul Arif yakni:
1. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1723-1767.

2. Sultan Amab Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1767-1817.

3. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah 1817-1850.

4. Sultan Basyaruddin Syariful Alam Shah, tahun 1850-1879.

5. Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah, tahun 1879-1946.
6. Tuanku Rajih Anwar, tahun 1946-1960.

7. Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifaullah Alam Shah Al Haj, tahun 1960-2001.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.