Liputan68.com | Di tengah harga sedang melonjak batu bara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil keputusan untuk menaikkan target produksi batu bara nasional untuk tahun ini.
Target produksi batu bara pada 2021 ini dinaikkan sebesar 75 juta ton, 13,6% dari target semula 550 juta ton menjadi 625 juta ton.
Menanggapi hal dinaikkannya target produksi batu bara nasional, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia berpandangan bahwa kenaikan target produksi ini juga dengan mempertimbangkan outlook harga yang bagus.
“Sehingga, dari sisi pemerintah bisa menambah penerimaan negara,” ungkapnya, Rabu (14/04/2021).
Capaian produksi pada 2020 mencapai lebih dari 565 juta ton, di atas target yang ditetapkan sebesar 550 juta ton.

“Tahun ini kondisi perekonomiannya lebih baik, sehingga akan mendorong penguatan demand, baik ekspor dan domestik,” ujarnya.
Menurutnya, dari beberapa informasi yang didapat, sebagian perusahaan telah mengajukan proposal revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) ke pemerintah untuk menaikkan produksi batu bara. Tapi, ada juga yang belum memutuskan untuk melakukan revisi.
“Hal ini dimungkinkan karena pemerintah memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk mengajukan proposal revisi RKAB, diajukan paling cepat di awal kuartal II,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa perusahaan tertarik memanfaatkan peluang tersebut karena didorong oleh harga komoditas yang semakin menarik dan membaik.
Berdasarkan pantauan Tim Riset CNBC Indonesia, harga batu bara termal ICE Newcastle berjangka bersiap kembali tembus level psikologis US$ 90/ton. Pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (13/04/2021), harga batu bara melesat 3,25% dari US$ 86,2/ton menjadi US$ 89/ton.
