Liputan KOLOM

Keris Sebagai Pusaka Bangsa

Ditulis oleh Liputan68 pada 27 April 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum. 

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp 087864404347)

A. Pusaka Bumi Nusantara.

Ahli keris harus kerap tirakat. Lelaku tapa brata. KRT Bambang Hadipuro adalah pelestari budaya warisan bangsa. Melakukan perjalanan di seluruh kawasan Nusantara. Keberagaman adat istiadat merupakan kekayaan yang harus dihormati. Seusai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat ini dilantik sebagai ketua Paguyuban Kawula Karaton Surakarta atau Pakasa cabang Jepara. Dihadiri oleh pengageng Sasana Wilapa dan ketua Lembaga Dewan Adat, GKR Dra Koes Mutiyah Wandansari M.Pd. Juga pangageng pasiten GKR Retno Dumilah SH MH. Kegiatan wisudan itu pada tanggal 17 Nopember 2019.

Sehari hari KRT Bambang Hadipuro sibuk dengan soal tosan aji. Beralamat di Sukodono Tahunan Jepara. Bidang lain yang dilakukan yakni memetri pusaka keris.

Wong Jawa gemar benda pusaka. Membicarakan kebudayaan tanah Jawa, sulit sekali dilepaskan dari pembahasan soal kepercayaan akan sipat kandel berupa keris. Orientasi hidup material spiritual budaya Jawa adalah amengku wisma, amengku wanita, amengku turangga, amengku kukila, andarbeni pusaka.

Asma kinarya japa. Maksudnya adalah memiliki rumah tinggal sehingga merdeka, membangun keluarga sehingga bisa memiliki keturunan, memiliki kendaraan untuk mobilitas tinggi, memiliki kukila sebagai hiburan sehingga bisa membahagiakan keluarga. Wong Jawa memiliki pusaka sebagai sipat kandel yang bisa meningkatkan rasa percaya diri. Bagya mulya nir ing rubeda.

Pusaka dalam arti sipat kandel, terutama adalah sebilah keris. Pusaka dianggap memiliki kekuatan supra natural tinggi.

Urip prasaja. Konsep tersebut sangat mempengaruhi pola dan gaya hidup orang Jawa. Dalam berbagai kesempatan KRT Bambang Hadipuro mengupas tentang sejarah keris, fungsi dan kegunaan. Keris punya beberapa hal mengenai dapur dan pamor.

Pada jaman Mataram dipimpin oleh wangsa Syaelendra keris tertua dibuat di Pulau Jawa. Terjadi abad ke-6. Di kalangan penggemar keris buatan masa itu disebut keris Buda. Sesuai dengan kedudukannya sebagai sebuah karya awal sebuah budaya, bentuknya masih sederhana. Tapi wibawa amat tinggi.

Bacaan KRT Bambang Hadipuro cukup luas. Menurut Serat Pustaka Raja Purwa, pusaka atau senjata orang Jawa sebelum keris berupa jemparing, tomara, dadali, nenggala, sali, druwasa, trisula, candrasa, ardacandra, candrapurnama, martajiwa, limpung, tuhuk, parasu, duduk, boji, musala, musara, lori, bajra, gandi, palu, piling, putu, calum, sadaka, baradi, gada, bindi, badama, denda, kretala, alu-alu, alugora, sarampang, busur, gayur, salukun, cacap, calimprit, berang, rajang, tamsir, kanjar, karsula, salemuka, lohita muka, barandang, kalawahi, taladak, karantang, luyang.

Jenis jenis pusaka tersebut menurut KRT Bambang Hadipuro masih bisa dikenal. Kecintaan orang Jawa jatuh pada keris yang artistik, mengandung daya tuah yang tinggi dan praktis cara membawanya. Para empu pembuat keris kemudian membuat bentuk bentuk keris. Misalnya keris jalak, keris surengpati dan keris curiga. Muncul istilah curiga manjing warangka.

Wayang menurut KRT Bambang Hadipuro berhubungan dengan tosan aji. Cerita wayang lebih hidup dan terasa wingit magis.

Keris Buda memiliki pamor khusus. Seandainya ada pamor pada bilah keris itu, maka pamor itu selalu tergolong pamor tiban, yaitu pamor yang bentuk gambarannya tidak direncanakan oleh Ki Empu. Karena proses nenuwun.

Nenek moyang Jawa tangguh ampuh wanuh seouh. Candi di Pulau Jawa ditemui adanya relief yang memberi gambaran adanya senjata yang berbentuk keris. Pada pemandian Candi Cetha, di lereng Gunung Lawu, terdapat sebuah patung yang menggambarkan seorang pria Jawa memakai pakaian Jawa lengkap dengan keris diselipkan di pinggang atau nyengklit keris.

Gagah megah mewah indah. Busana kejawen berhias duwung.

B. Peninggalan Pusaka Keris.

Keris pusaka yang diakui dunia. Joglo Hadipuran di Sukodono Tahunan Jepara sangat asri. Ada banyak koleksi keris yang bermutu tinggi.

Bahkan joglo Hadipuran pernah dikunjungi oleh Sultan Abdul Gani dan Ratu Bhida dari Kasultanan Kacirebonan. Warisan agung perlu dilestarikan.

Itulah pendapat KRT Bambang Hadipuro ahli keris sejak kecil. Candi Cetha tersebut, merupakan peninggalan jaman Majapahit.

Kitab Mahabarata dan Ramayana yang ditulis pujangga selalu menyertai hebatnya pusaka keris. Jenis senjata yang ada dalam buku epos itu adalah gendewa, gada, pedang, tombak, kunta, limpung, nenggala dan cakra. Keris dijumpai dalam cerita wayang. Misalnya, Arjuna memiliki keris yang bernama Keris Kyai Pulanggeni dan Kyai Pasopati.

Jimat Kalimasada milik Prabu Puntadewa pun oleh sebagian dalang sering ditampilkan berupa sebilah keris yang bertuliskan kalimat syahadat.

Gambarannya, pamor juga dimaksudkan menunjuk pengertian mengenai bahan pembuat pamor itu. Ada empat macam bahan pamor yang acapkali digunakan dalam pembuatan keris, dan tosan aji lainnya. Dari yang empat itu, tiga di antaranya adalah bahan alami.

Bahan pamor yang keempat adalah unsur logam nikel yang telah dimurnikan oleh pabrik. Bahan pamor yang tertua adalah bahan keris dari dua atau beberapa senyawa besi yang berbeda. Senyawa besi yang berbeda komposisi unsur unsurnya itu. Tentunya didapat dari daerah yang berbeda pula. Dari bahan ini, hasilnya dinamakan pamor sanak.

Bahan pamor lainnya adalah batu bintang atau batu meteor. Penggunaan bahan meteorit untuk bahan pamor bukan dilakukan oleh para empu di Pulau Jawa. Jenis bahan pamor yang terakhir adalah nikel. Untuk nikel lebih sering dijumpai sudah bercampur dengan unsur logam lainnya, biasanya dengan besi.

Tetapi kini didapat nikel murni . Dari empat macam bahan pamor itu, batu meteor yang terbaik, karena bahan itu mengandung titanium yang banyak memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan pamor.

Teknik pembuatan dikenal adanya dua macam pamor, yakni pamor mlumah dan pamor miring. Dibandingkan dengan pamor miring, pamor mlumah relatif lebih mudah pembuata. Resiko gagalnya lebih kecil. Itulah sebabnya rata-rata nilai mas kawin keris berpamor mlumah lebih rendah dibandingkan keris yang berpamor miring.

BACA JUGAPohon

Macam motif pamor dibagi dalam dua golongan besar, yakni pamor tiban atau pamor jwalana, dan pamor rekan atau pamor anukarta.

Pamor tiban adalah jenis motif atau pola gambaran pamor yang bentuk gambarannya tidak direncanakan dahulu oleh Ki Empu. Gambaran pola pamor yang terjadi karena dianggap sebagai anugerah Kang Maha Kawasa.

Agama ageming aji. KRT Bambang Hadipuro pelopor toleransi kehidupan.

C. Pamor Pusaka Keris.

Pola pamor pusaka Keris di antaranya, Sumsum Buron, Mrutu Sewu, Wos Wutah, Ngulit Semangka, dan Tunggak Semi. Sedangkan pamor rekan adalah pamor yang pola gambaran dibuat Ki Empu. Termasuk jenis ini di antaranya, pamor Blarak Ngirid, Wader Pari, Adeg, Lar Gangsir, Ron Genduru, Tambal, dan Naga Rangsang.

Pengetahuan itu dipelajari oleh KRT Bambang Hadipuro. Tiap tiap motif pamor itu diberi nama. Ada dua cara pemberian nama pamor dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa. Pertama, dengan melihat hasil akhir penampilan pamor yang tampak. Jadi gambar pamor itu mirip dengan kulit semangka, pamor itu disebut Ngulit Semangka.

Niat Empu bikin pusaka keris. Misalnya, jika Ki Empu diperkirakan berniat akan membuat pamor Wader Pari, ternyata jadinya mirip dengan gambaran pamor Mayang Mekar, maka pamor itu tetap dinamakan pamor Wader Pari. Karena nama pamor sehingga menjadi Wader Pari Wurung. Tetapi penamaan cara yang kedua ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar benar memahami teknik pembuatan pamor.
Beragam adanya perpedaan penyebutan nama pamor.

Contohnya pamor Lawe Setukel, ada yang menyebut Benang Satukel atau Lawe Saukel, atau Benang Saukel. Ada lagi, Blarak Sinered, Blarak Ginered, atau Blarak Ngirid. Ada lagi, Melati Rinonce atau Melati Rinenteng atau Melati Sator. Pamor Sada Saler atau Adeg Siji.

Namanya beda, tapi pola pamornya lain. Perbedaan nama ini makin jauh lagi, karena nama Sada Saeler disalahucapkan menjadi Sada Jaler, dan kemudian menjadi Sada Lanang.

Asal asul nama Sada Saeler ditulis oleh orang Belanda dengan ejaan Sadasakler, kemudian nama itu diterjemahkan menjadi sadasa kleur yang artinya sepuluh warna. Ini karena kata kleur yang berasal dari bahasa manca memang berarti warna.

Jelas nenek moyang mewariskan perbendaharaan ragam besi sebagai bahan pembuatan pusaka. Ada sejumlah besi yang mempunyai ciri dan watak berbeda, sedangkan watak watak besi tersebut merupakan. bahan pertimbangan dasar pada waktu hendak menggarap pusaka.

Empu empu Jawa sudah sanggup menemukan dan membedakan barang barang metal, yang pada hakikatnya merupakan prestasi mengagumkan yang langka. Gawe ngungun lan gumun.

C. Ragam Bahan Wesi Pusaka Keris.

Sarasehan budaya dilakukan di joglo Hadipuran. Baik Karaton Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Kacirebonan pernah rawuh.

1. Wesi Mangangkang.

Berwarna hitam agak ungu. Halus dan lumer. Bila untuk perang menakutkan musuh. Banyak orang mencintainya. Mendatangkan rejeki.

2. Wesi Malela Kendaga.

Berwarna agak kuning Banyak orang mencintai.

3. Wesi Purosani

Dapat menimbulkan keselamalan dan kesentausaan. Banyak mendatangkan rejeki. Cocok bagi para pejabat. Menolak kekuatan buruk, kejahatan.

6. Wesi Karang Kijang.
Besinya mempunyai serat-serat halus. Daya vibrasinya Ampuh. Mendatangkan perbawa yang besar. Menimbulkan watak sabar dan bijaksana.

6. wesi Welangi. Berwarna kuning semu kehijauan. Apabila dipukul dengan benda keras. Murah rejcki Banyak kawan dekat

6. Wesi Kamboja: Bersuara panjang. Berwarna putih. Konon asalnya memang dari negeri Kamboja.

7. wesi Walulin. Besinya mempunyai serai padat. Ampuh. Jika mengenai kulit, panas sekali terasa.

Beragam jenis besi itulah yang sempat terekam dalam buku pustaka Jawa Kuna. Sumbangan pendapat dari mana pun pasti berguna bagi pustaka metalurgi di Indonesia.

Adapun ragam besi lainnya antara lain:
1. Besi Windu Aji
2. Besi Karindu Aji
3. Besi Kenur
4. Besi Teratai
5. Besi Tumpuk
6. Besi Malela Rujun
7. Besi Amral
8. dan lain-lain.

Para pametri keris seperti KRT Bambang Hadipuro belajar terus. Para empu dalam membuat deskripsi besi yang menyangkut ciri perlu segera ditempuh penelitian. Misalnya mengenai masalah metalurgi, khususnya pusaka dari adonan besi, baja, meteor, nikel.

Nyata bangsa Indonesia punya kekayaan budaya dari nenek moyangnya. Ketrampilan bikin keris sudah diwariskan turun temurun.

D. Empu Pembuat Keris Kerajaan.

Babad Kabupaten ditulis guna mengetahui sejarah masa silam. KRT Bambang Hadipuro belajar bersama. Mengingat jaman kerajaan.

1. Jaman Karaton Widarba.

Prabu Jayapurusa punya abdi pujangga yang bernama Empu
Ramadi.

2. Jaman Karaton Bojonegoro.

Prabu Anglingdarma punya pujangga empu yang bernama
Empu Siwandata dan
Ki Sakahadi.

3. Jaman Karaton Ngatasangin.

Raja Ngatasangin punya abdi pujangga yang bernama Empu Tulyanto dan Empu Sukmahadi.

4. Jaman Karaton Medhang Kamulan

Prabu Ajisaka memiliki pujangga empu yang bernama
Ki Bramakedali dan
Ki Windudibya.

5. Jaman Karaton Gilingwesi.

Raja Gilingwesi terkenal sebagai pewaris pusaka kerid. Empu yang mengabdi yaitu
Ki Saptagati

6. Jaman Karaton Purwacarita.

Raja Sri Mahapunggung punya Empu kinasih yang bernama
Ki Pujagati,
Ki Sanggagati,
Ki Dewasaya

7. Jaman Kadipaten Jepara.

Empu yang mengabdi pada Kanjeng Ratu Kalinyamat bernama
Ki Dewasaya

8. Jaman Karaton Mamenang.

Prabu Jayabaya narendra yang Waskitha ngerti sakdurunge winarah. Punyai penadihat Empu yang bernama
Ki Sarpadewa dan
Ki Ramayadi

9. Jaman Karaton Yawastina.

Prabu Gendrayana sangat hormat pada Empu yang bernama
Ki Gandawisesa

10. Jaman Karaton Kahuripan.

Prabu Airlangga raja Kahuripan. Punya seorang Empu yang bernama Ki Kandangdewa

11. Jaman Karaton Daha

Prabu Jayakatong memerintah dengan penuh kebijaksanaan. Empu berdarma bakti buat istana yaitu Ki Windusarpa

12. Jaman Karaton Pengging Witaradya.

Prabu Kusuma Wicitra memerintah negeri Pengging. Empu bertugas sebagai pujangga kerajaan.

Ki Wareng dan
Ki Gandawijaya

13. Jaman Karaton Pajajaran.

Prabu Siliwangi raja Pajajaran yang bijak bestari. Para empu bekerja dengan segenap jiwa raga.

Ki Kanaka,
Ki Welang,
Ki Chindheamoh,
Ki Dewayani,
Ki Anjani,
Ki Maja dan Nyi Omayi,
Ki Marcukundha,
Ki Kelengan,
Ki Bayuaji,
Ki Damarjati.

14. Jaman Karaton Jenggala.

Raden Putra adalah anak raja Jenggala. Kelak bergelar Prabu Kameswara. Para Empu berbakti sepenuh hati.

Ki Sutapasana,
Ki Demang,
Ki Dewaraga.

15. Jaman Karaton Majapahit.

Prabu Brawijaya V raja yang sakti mandraguna. Selalu hormat pada Empu.

Ki Domas,
Ki Suradriya,
Ki Pujadewa,
Ki Pujasekti,
Ki Supadriya,
Ki Sapangrani,
Ki Sapahadi.

16. Jaman Kadipaten Tuban.

Adipati Wilwatikta punya 2 putra. Yakni Raden Sahid atau Sunan Kalijaga dan Dewi Rasawulan. Empu yang mengabdi.

Ki Puthu Galuh,
Ki Demangan dan Ki Dewasarajati,
Ki Kuwung,
Ki Salahita,
Ki Bekeljati,

17. Jaman Kadipaten Madura.

Arya wiraraja memimpin Madura bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit tahun 1293. Para Empu yang tenar yaitu.

Ki Sriloka,
Ki Kaloka,
Ki Kisa dan Ki Akasa
Ki Paniti,
Ki Malang,

18. Jaman Kadipaten Blambangan.

Empu dari kadipaten Blambangan bernama
Ki Kakap/Ki Dadali,
Ki Bramakedali,
Ki Luwuk,
Ki Lunglungan,
Ki Kebolungan,
Ki Pitranggeni,
Ki Jakasura.

19. Jaman Karaton Pajang.

Raja Pajang bernama Joko Tingkir atau Mas Karebet. Bergelar Sultan Hadiwijaya Kamidil Panetep Panatagama. Memimpin Karaton Pajang sejak tanggal 24 Juli 1546.

BACA JUGABABAD BLORA

Lembaga Kapujanggan dipimpin oleh Pangeran Karanggayam. Membuat Serat Nitisruti.

Ki Humyang,
Ki Lobang,
Ki Canthoka,
Ki Loning.
Ki Japan,
Ki Tepas.

20. Jaman Mataram Plered.
Pada tahun 1645 sampai 1677 Mataram beribukota di Plered. Raja bernama Amangkurat I. Empunya yaitu

Ki Tunggulmaya,
Ki Manisjiwa,
Ki Kalibanjir,
Ki Tepasana,
Ki Sendhang,
Ki Anoraga,
Ki Tambra,
Ki Setrabanyu,
Ki Kithing,

21. Jaman Mataram Kartasura.

Sejak tahun 1677 ibukota Mataram pindah ke Kartasura. Para empu yang berdarma bakti yaitu.

Ki Luyung,
Ki Kasub.

22. Jaman Karaton Surakarta Hadiningrat.

Pelestari tosan aji sadar sekali. KRT Bambang Hadipuro abdi dalem karaton Surakarta Hadiningrat. Wajar bila aktif dalam dunia tosan aji.

Kerap belajar kehidupan empu keris yang lelaku kejawen. Para empu berdarma bakti pada kerajaan.

Ki Brajakarya,
Ki Brajaguna,
Ki Tirtadangsa,
Ki Sutawangsa,
Ki Japan,
Ki Singawijaya,
Ki Japamantra,
Ki Jayasukadga,
Ki Mantrawijaya,
Ki Karyasukadga,
Ki Wirasukadga,
Ki Prajadahana.

Empu keris memiliki daya kesaktian. Mereka gemar lakj tapa brata. Dengan cegah dhahar lawan guling.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian