3. Universitas Saras Wati,
4. Universitas Tjokroaminoto.
5. SMEA Negeri 1, 6. Kursus BI Negeri.
Darma bakti dalam bidang pendidikan layak dikenang. Setelah menderita sakit beberapa lama, Drs. KRM. Adipati Sosrodiningrat wafat pada hari Rabu Legi tanggal 28 Sawal tahun Djumakir 1898 Wuku Kurantil Windu Sancoyo atau tanggal 8 Februari 1967 jam 13.30 WIB di rumah sakit RSUP Mangkubumen Solo.
Sosrodiningrat mencapai usia 74 tahun 4 bulan 11 hari menurut perhitungan tahun Jawa atau 74 tahun 2 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun masehi.
Pemakaman dilangsungkan pada hari Jumat Pon tanggal 1 Dulkangidah tahun Jimakir 1898 atu tanggal 10 Februari 1967, berangkat jam 9.00 pagi dari rumah beliau di Jalan Sraten 53 Solo menuju ke Astana Imogiri, Yogyakarta. Dengan perhormatan yang layak.
Makam Patih Sosrodiningrat satu kompleks dengan Sinuwun Paku Buwana X, Paku Buwana XI dan Paku Buwana XII.
Dedikasi Patih Sosrodiningrat mengingatkan pada keagungan estetika pewayangan. Saat paseban Jawi terdapat suluk hasta kuswala yang begini indah.
Hastakuswala Alit
Mundur rekyana patih, ondhang mring pra wadya sawega,
Umyung suaraning bendhe beri, gubar gurnang kalawan,
Puksur tambur myang suling, pepandhen daludag,
Bandera miwah kakandha mawarna warna,
Pindha jaladhian, asri kawuryan.
Greg greg, handemak ning kang kuda ngrik magalak,
Gantya manitih, pamekakira risang o o o,
sudarsana dahat, kendhali rangah manjing o o o,
lak lakaning kuda, ngrik mijil rah,
kadya tuk sumarambah,
mung jer mung jer mung mung jer.
Yaksa temahan o o o,
krura sru manahut, prayitna sang narpatmaja o o o.
Dengan mengkaji keutamaan Patih Karaton Surakarta Hadiningrat, seseorang akan mendapat keteladanan. Baik dalam bergaul maupun bekerja, agar selalu jaya utama dan sejahtera. Tatanan bebrayan yang penuh ketertiban.
D. Keteladanan Patih Pringgalaya.
Arsitek perpindahan ibukota Mataram adalah Patih Pringgalaya. Jabatan pepatih dalem kerajaan Mataram memiliki posisi strategis. Dalam tata pemerintahan modern sama dengan jabatan Perdana Menteri. Pepatih dalem karaton Surakarta Hadiningrat menjalankan sistem pemerintahan sehari-hari.
Tugas eksekutif meliputi roda birokrasi, anggaran, finansial, administrasi dan pembinaan teritorial. Dalam menjalankan tugasnya Patih mendapat bantuan tenaga tata usaha, staf administrasi dan keamanan. Kantor Kepatihan terpisah dengan komplek istana kraton. Orang Jawa menyebut lembaga kepatihan dengan warangka dalem.
Proses pemilihan, pengangkatan dan penetapan jabatan Patih menggunakan aturan yang baku. Calon patih dianjurkan Bebadan Kraton. Anggota Bebadan Kraton terdiri dari perwakilan sentana, sesepuh dan pejabat daerah. Kalau sekarang mirip dengan lembaga parlemen. Bebadan kraton dipimpin oleh Pangeran senior yang berpengetahuan dan berpengalaman.
Misalnya saja KGPH Hangabehi memimpin Bebadan Kraton para tahun 1905. Bebadan Kraton ini pula yang mengatur anggaran dan belanja kegiatan. Kedudukan patih termasuk kuat, karena mendapat legitimasi politik. Di samping itu pula, patih juga memiliki hubungan dekat dengan raja yang memerintah. Patih Soeradiningrat adalah menantu Sinuwun Paku Buwono X.
Kerajaan Mataram selalu mengangkat patih dari keturunan Ki Ageng Karotangan Muntilan Magelang. Patih Mandaraka mengemban tugas eksekutif Mataram mendampingi Panembahan Senapati, Prabu Hadi Hanyokrowati. Patih Mandaraka berhasil menata birokrasi Mataram.
Konsolidasi pemerintahan berjalan lancar atas ide, gagasan dan pengabdian sang perdana menteri. Ketrampilan, pengalaman dan pengetahuan tentang tata praja berkat didikan Ki Juru Martani. Beliau pendiri utama kerajaan Mataram. Tetapi tidak pernah pegang kekuasaan apa pun. Namun sangat dihormati sebagai penasihat raja.
Kiprah kepatihan terasa penting dan besar gunanya. Patih Sindureja berperan besar dalam proses pindah ibukota kerajaan. Misalnya proses pindahnya ibukota kerajaan Mataram dari Plered ke Kartasura. Beliau bertindak sebagai ketua panitia. Pekerjaan besar ini sukses gemilang.
Persiapan dilakukan dengan sangat teliti. Mulai dari pilihan lokasi, pembiayaan, perencanaan, pelaksanaan dan peresmian diatur sebaik-baiknya. Ahli dan pakar dikumpulkan untuk diajak musyawarah. Konsultasi publik berlangsung di berbagai daerah, agar mendapat masukan yang tepat dan cepat.
Kecakapan patih Pringgalaya dalam bidang pemerintahan memang pantas dihandalkan. Hal ini terkait dengan aspek pendidikan yang cukup, pengalaman lapangan yang memadai, dan pergaulan dari berbagai lapisan sosial. Ketepatan, kecepatan, kecakapan, kerja ditunjukkan oleh Patih Pringgalaya. Beliau mempunyai jaringan yang sangat luas.
Sebagai pejabat senior, KRA Pringgalaya biasa kontak dengan raja Melayu, Cirebon, Banjar, Goa, Talo, Bali, Nusa Tenggara, Ternate, Tidore. Sudah berkali-kali Patih Pringgalaya berkunjung ke Tamasek Singapura. Beliau juga pernah datang ke India, Tiongkok, Mesir, Bagdad, dan Turki. Studi banding ini untuk menambah wawasan kenegaraan. Suatu saat bekal pengetahuan ini penting untuk diterapkan di tanah air.
Patih Pringgalaya secara khusus pernah belajar di Universitas Teknik Istambul pada tahun 1738. Beliau belajar selama setahun. Waktu itu Kasultanan Turki dipimpin oleh Wazin Agung Damad Ibrahim Pasya. Kecerdasan, kelincahan dan ketrampilan Pringgalaya sangat populer di Turki kasultanan Ustmaniah Turki mengenal sosok Pringgalaya.
Sewaktu belajar di Turki, Patih Pringgalaya kerap pentas seni tari. Peringatan ulang tahun raja, Pringgalaya menyumbangkan tari gagahan kiprah. Diiringi dengan gendhing bendrong. Sultan dan punggawa begitu berkenan. Peserta didik dari utusan Mataram itu betul-betul memikat. Terjalinlah persahabatan erat antara Mataram dengan Kasultanan Ustmaniah Turki.
Popularitas Pringgalaya di tanah air sangat tinggi. tahun 1742 dinobatkan sebagai pepatih dalem oleh Sinuwun Paku Buwono II di Kartasura. Ide untuk pindah ibukota dari Patih Pringgalaya. Ilmu yang ditimba dari Universitas Teknik Istambul diterapkan. Kesempatan yang baik untuk memberi sumbangan pikiran pada kerajaan Mataram.
D. Diplomasi Kenegaraan.
Lancarnya pemerintahan Mataram didukung oleh diplomasi kenegaraan. Lagi pula Pringgalaya memiliki hubungan yang akrab dengan Wazir Agung Damad Ibrahim Pasya. Penguasa Kasultanan Ustmaniah Turki ini seorang raja kaya raya. Istana serba berlapis emas. Sementara Pringgalaya dianggap sebagai saudara sendiri. Maka ketika Pringgalaya mendapat posisi patih, dukungan penuh berasal dari Wazir Agung Damad Ibrahim Pasya.
Sumbangan finansial dari Turki pun mengalir deras. Tenaga ahli dari Universitas Teknik Istambul dikirim ke Mataram. Mereka membawa karpet, emas, perak, intan, ragam kerajinan. Tujuannya supaya kerja Pringgalaya sukses gemilang.
Patih Sosrodiningrat belajar hubungan diplomasi kenegaraan yang dicontohkan oleh Pringgalaya. Hubungan itu tak terbatas pada soal kerja, istri Pringgalaya berasal dari bangsawan Kasultanan Turki. Namanya Rubingah Pasya. Sinuwun Paku Buwono II memberi ganjaran nama Rubingah Pasya dengan sebutan Sekar Moncowati.
Kedatangannya di istana Mataram menambah kokohnya diplomasi dengan dunia internasional. Rubingah Pasya atau Sekar Moncowati berpengaruh di Kepatihan. Beliau istri patih yang cerdas, humanis, ramah, kaya raya, bermartabat dan pemurah.
Perpindahan ibuktoa Mataram dari Kartasura ke Surakarta terjadi pada tahun 1745. Kerja keras Patih Pringgalaya berhasil memuaskan. Istana kraton Surakarta Hadiningrat berdiri kokoh, megah, indah sampai sekarang. Jasa besar Patih Pringgalaya pantas dikenang dan dihargai.
Trah Mataram mengenang dan menulis perjuangan Patih Pringgalaya dengan tinta emas. Anak cucu Patih Pringgalaya selanjutnya memiliki bakat untuk memimpin pemerintahan. Sampai masa kini keturunan Pringgalaya tersebar di kawasan nusantara dengan berbagai jabatan dan peran.
Semangat kosmopolit Patih Pringgalaya menarik investor dunia untuk usaha di kawasan Surakarta. Maka muncullah pemukiman di Pasar Kliwon, Pasar Gedhe dan Pasar Paing. Kegiatan usaha dunia mempercepat kemajuan Surakarta sebagai pusat transaksi barang dan jasa. Peran inilah yang telah mewujudkan kemakmuran.
Perjuangan para pendahulu menjadi landasan kebijakan Patih Sosrodiningrat. Adapun daftar Patih Dalem Kraton Surakarta secara berurutan dapat disebutkan dengan urut patut.
Sesungguhnya kerajaan Jawa sejak dulu sudah menganut sistem monarki parlementer. Ada pemisahan kewenangan dalam bidang kebudayaan sosial dan kekuasaan politik. Jabatan kebudayaan sosial seni sepenuhnya dipegang oleh raja.
Sehari-hari raja tidak pernah mengurusi teknis-teknis birokrasi, pemerintahan, dan keuangan. Sedangkan kekuasaan politik ekonomi diurus oleh patih selaku Perdana Menteri. Anggaran, keuangan, belanja dan politik birokrasi dilakukan perdana menteri atau patih yang bermusyawarah dengan Bebadan Kraton.
Dalam hal ini Bebadan Kraton beranggotakan wakil sentana, wakil abdi dalem, dan wakil pejabat daerah. Bebadan Kraton fungsinya mirip dengan Parlemen. Selama lebih dari 2 abad kerajaan Jawa menerapkan monarki parlementer.
Patih Sosrodiningrat pejabat eksekutif Karaton Surakarta Hadiningrat termasuk tokoh utama sejarah yang mewariskan karya besar. Tenaga terampil handal profesional melahirkan peradaban bermutu tinggi. Peradaban Jawa disangga unsur bibit bebet bobot, trahing kusuma rembesing madu, wijiling amaratapa, tedhaking andana warih.
(LM-01)
