oleh

Paku Buwana II Pelopor Industrialisasi Jawa

Oleh: Dr Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Kajian Olahraga Nusantara – Lokantara)

A. Kesadaran Produksi

Industri merupakan pangkal pokok untuk produksi, demi peningkatan mutu ekonomi. Pada tanggal 14 Juni 1728 Sinuwun Paku Buwana II meresmikan industri padat karya di desa Gribig Gebog Kudus. Kegiatan ini sebetulnya sudah dimulai oleh Sinuwun Amangkurat Jawi yang memerintah tahun 1719 – 1726.

Garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Jawi berasal dari Kudus. Putri KRT Tirtokusumo Bupati Kudus. GKR Kencono adalah ibunda Sinuwun Paku Buwana II yang memiliki industri skala menengah dan besar. Industri yang dikelola meliputi tekstil, benang, lawe, kain, seng, logam, besi, baja. Perkakas rumah tangga yang terbuat dari logam dibuat di sentra industri Kudus. GKR Kencono punya saham perusahaan.

Persahabatan Sinuwun Paku Buwana II dengan John Kay pada tahun 1733 memperlancar program industrialisasi Kudus. Flying Shuttle atau kumparan terbang mempercepat proses pemintalan benang. Jadilah Kudus mengalami revolusi industri. Bersamaan dengan revolusi industri yang terjadi di negeri Inggris.

Pengaruh industrialisasi Kudus berdampak pada kehidupan sosial politik di Mataram yang beribukota di Kartasura. Buruh pabrik di Kudus membuat serikat pekerja, solidaritas perkumpulan karyawan dan organisasi buruh. Pelan-pelan orang Jawa mulai mengenal paham sosialisme. Pada tahun 1740 buruh pabrik sebagian ikut demonstrasi bersama Raden Mas Garendi. Meletus geger Pacina yang bersuasana anarkhi sosialisme.

Liputan JUGA  Anggota Satlantas Dan Satsabhara Polres Pacitan, Borong Cilok Dan Batagor

Gerakan sosial keagamaan juga pernah meletus pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana II. Abdul Qahar merasa terhina karena namanya digunakan untuk menyebut hewan piaraan Syekh Ahmad Mutamakin dituntut di pengadilan Kartasura. Bertindak sebagai hakim agung yaitu Demang Ngurawan. Gerakan keagamaan ini bikin ketegangan.

Dalam keputusan ini raja Paku Buwana II memberi solusi yang sangat adil. Toleransi harus dijunjung tinggi. Namun demikian ajaran agama yang liberal pun juga dicegah. Tidak boleh berkembang aliran sesat. Paku Buwana II menjadi pelindung ulama dan agama yang berwibawa.

Kawasan industri Kudus yang didirikan oleh Sinuwun Paku Buwana II berkembang pesat. Muncul pengusaha sukses yang berlimpah ruah. Kekayaan mereka telah menghidupi pekerja profesional baik lokal, nasional, regional maupun internasional. Industri tekstil logam dan kayu menghasilkan devisa yang memberi keuntungan. Negara Mataram tampil semakin makmur.

Liputan JUGA  Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Raih Penghargaan Paramakarya, Berhasil Bina Usaha Kecil Dan Menengah

Investor dari asing berdatangan ke Kudus untuk menanamkan modal. Ijin usaha diperoleh dengan mudah murah. Paku Buwana II memberi suasana kondusif buat iklim usaha. Perdagangan lancar, perniagaan juga gancar. Lapangan usaha terbuka dengan luas. Para pemuda Mataram mudah menyalurkan bakat dan minat. Lapangan pekerjaan yang terbuka luas itu menciptakan kondisi yang aman damai. Industri Kudus menjadi idola bagi investor dari beragam negara seperti dari Timur Tengah, Eropa, Asia Selatan, Asia Tengah dan Asia Tenggara.

Wawasan niaga Sinuwun Paku Buwana II berhasil atas didikan Kanjeng Ratu Kencono. Sang ibu memang lahir dari keluarga pengusaha yang sukses. Saudara KRT Tirtokusumo Bupati Kudus giat dalam usaha mebel, minyak dan hasil bumi. Bupati Tirtokusumo Kudus terkenal kaya raya. Tidak mengherankan apabila Paku Buwana sebagai cucu terpengaruh oleh bakat dan didikan keluarga besar sang kakek. Dari Kudus inilah ketrampilan bisnis Paku Buwana II terasah tajam.

Industri tekstil Kudus milik Kanjeng Ratu Kencono ini kelak dikembangkan di ibukota Mataram Kartasura. Sejak menikah dengan Sinuwun Amangkurat IV atau Amangkurat Jawi sejak tahun 1710 Ratu Kencono telah menjadi pelopor industri tekstil batik di kota Kartasura. Usaha ini berkembang dan mendapat dukungan dari pengusaha India.

Liputan JUGA  Sejarah Transmigrasi Dari Jawa ke Sumatera

Ketika Raden Mas Gusti Prabasuyasa dinobatkan menjadi Sinuwun Paku Buwana II tahun 1726 usaha industri tekstil malah bertambah meriah. Daerah Sukoharjo menjadi tempat persemaian industri tekstil. Dalam hal ini berkembang pula kerajinan batik. Malah dikembangkan di daerah Laweyan sejak tahun 1745. Saat itu Laweyan menjadi sentra kerajinan batik di ibukota Mataram Surakarta. Sebagian karyawan industri batik Laweyan ini mengerjakan pesanan di daerah Bayat Klaten.

Dengan demikian industri batik di Surakarta sebetulnya dibina oleh Ratu Kencono garwa permaisuri Sinuwun Amangkurat IV atau ibunda Paku Buwana II. Putri Bupati Kudus ini berjasa atas pengembangan kawasan industri di daerah Surakarta.

Sudah menjadi kewajaran tiap pengembangan industri selalu ada ekses sosial. Misalnya masalah lingkungan, pencemaran, kesenjangan dan kependudukan. Sukses industri di Kudus juga berdampak pada munculnya gerakan geger pacina yang sempat membuat gaduh di ibukota Kartasura. Namun kekacauan ini dengan mudah bisa diatasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.