Dalam bidang literasi teks keagamaan juga muncul pergolakan di sekitar Kudus saat Syekh Ketib Anom Kudus mengalami konflik syariat dengan Syekh Mutamakin dari Pati. Syekh Ketib Anom Kudus bersama Syekh Ketib Anom Batang mengadukan perkara syariat ini kepada Sinuwun Paku Buwana II. Untunglah dengan tampilnya Demang Urawan permasalahan bisa diatasi dengan baik.
B. Pembacaan Kitab Mistik di Panti Kudus
Bersama dengan para ahli literasi alumni Panti Kudus, Sinuwun Paku Buwana II mempelajari isi teks klasik. Misalnya Serat Dewaruci yang digunakan sebagai panduan untuk mengatasi problematika-problematika sosial keagamaan. Kegiatan spiritual ini didukung pula oleh ahli kitab klasik dari Kadilangu Demak Bintoro.
Pemahaman atas teks klasik yang mengajarkan syariat, tarikat, makrifat, hakikat dihayati benar. Sinuwun Paku Buwana II mengundang para ulama Kudus, Demak, Semarang, Kendal dan Pati untuk berpartisipasi dalam bidang tata praja. Lakon Dewaruci berhubungan dengan nilainilai yang dikandung dalam ajaran Islam. Beliau membuat ringkasan cerita per-episode dengan diberi komentar tafsirnya. Secara ringkas analisisnya dapat diungkap sebagai berikut:
Werkudara berguru kepada Resi Drona. Artinya orang yang ingin mendalami ilmu agama, dia harus berguru kepada orang yang berilmu. Meskipun kadang-kadang ada orang berilmu yang bertabiat kurang terpuji. Dalam mencari ilmu seseorang harus selalu berbaik sangka (khusnudz dzan) terhadap guru, sebagai-mana yang telah dicontohkan oleh Werkudara terhadap gurunya, Resi Drona. Supaya tujuannya dapat tercapai, Drona menganjurkan Werkudara untuk membongkar gunung Reksamuka, artinya orang yang mendalami ilmu tarikat harus melakukan hal-hal yang berat, seberat membongkar sebuah gunung. Misalnya dia harus menghilangkan sifat keduniaannya.
Werkudara bertemu dua raksasa besar, Rukmuka dan Rukmakala sewaktu Werkudara membongkar gunung Reksamuka. Kedua Raksasa itu berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh Bima. Artinya orang yang berusaha mensucikan diri harus mampu mengurangi semua godaan duniawi. Sedang Rukmuka melambangkan nafsu pancaindera yang selalu membawa manusia menuju kesesatan. Sedang Rukmakala melambangkan akal pikiran yang sering lepas kendali (kebablasen) sampai membahayakan bagi keselamatannya sendiri. Kedua rintangan besar itu mampu diatasi oleh Werkudara meskipun dengan perjuangan berat. Sesudah dibunuh oleh Bima, kedua raksasa itu berubah menjadi dua dewa. Karena keduanya telah ditolong dapat kembali berwujud dewa, Werkudara diberi anugerah Sabuk Cindhe Wilis dengan Bara Kembar dan dapat dipakai di paha kanan kiri. Artinya sudah menjadi kebiasaaan bila seseorang yang hendak menyucikan diri itu harus mau menutup mata dan telinga terhadap ejekan orang lain. Lama-kelamaan ejekan yang menjadi beban itu akan lenyap juga. Mereka yang mengejek akhirnya mengakui kebenarannya. Sedang hadiah (Sabuk Bara dengan Cindhe Kembar) melukiskan orang yang berpetualang mencari ilmu dengan tekad kuat laksana ikat pinggang (cindhe).
Bara di kanan menunjukkan perilaku yang harus melepaskan diri dari sifat yang memegang teguh ajaran guru. Dua dewa menyuruh Werkudara kembali kepada Resi Drona untuk menanyakan tempat sesungguhnya Tirta Prawita Sari, sebab di Gunung Reksamuka tidak ada. Artinya bila mentaati perintah guru, si murid akan semakin banyak pengalaman yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Benar atau tidak, perintah guru kalau dilaksanakan akan tetap bermanfaat. Werkudara menghadap gurunya, dan Drona memberi wejangan tentang keharusan berbakti kepada Dzat yang harus disembah. Kemudian Werkudara disuruh mencari Tirta Prawita Sari di dasar lautan.
Artinya seseorang yang sudah mendapat ilmu tarikat. Semakin kuat orang menuju hakikat agama, maka hal-hal yang menjadi penghambatnya semakin besar. Adapun tempat Tirta Prawita Sari di dasar laut memberi makna bahwa untuk sampai pada tingkat makrifatullah memang sukar, jauh dan dalam. Maka dia harus terjun dan menyelam dalam lautan. Ini berarti bahwa orang itu itu harus menyucikan sifat-sifat Allah SWT sebagaimana tersurat dalam Asmaul Husna. Mendengar niat Werkudara pergi ke lautan, ibunya dan para Pendawa menangis dan berusaha mencegahnya. Tetapi tekad Werkudara tidak bisa dikendurkan. Artinya seseorang yang sudah terpikat dengan makrifatullah, dia mesti mau melepaskan diri dari segala hal yang paling dicintainya.
Dalam perjalanan Werkudara bertemu dengan empat saudaranya tunggal Bayu. Mereka hendak mencegah kenekadan Bima, tetapi dia lari meninggalkan mereka. Keempatnya tetap membantu Werkudara dengan cara me-nyatukan diri dengan berwujud Gajah Situbanda. Artinya seseorang yang hendak mencapai suatu tujuan mulia tetap mendapat godaan dari keempat nafsu (amarah, lawamah, sufiah dan muthmainah) yang ada pada dirinya. Bila berhasil, dia harus mampu menga-tasinya. Werkudara heran karena di lautan dia tetap terapung. Baru setelah Gajah Situbanda yang menjaganya melepas, Werkudara tenggelam dalam arus samudera. Artinya seseorang yang telah berhasil melepaskan nafsunya, orang tersebut akan terbuka pintu makri-fatullahnya. Ketika Werkudara hanyut, tiba-tiba ada ular besar yang menggigit tubuh dan pahanya. Dengan cekatan naga itu ditusuk dengan Kuku Pancanaka dan mati seketika. Anehnya Werkudara ikut mati juga. Artinya naga menurut ilmu hakikat menggambarkan utusan Tuhan yang berwujud malaikat. Malaikat menolong orang yang tidak tahu tentang nasibnya, agar tidak terlalu sama menderita. Peristiwa ini mirip dengan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhamad Saw.
Werkudara tidak menyadari bahwa dirinya sudah berupa suksma. Dia duduk bersimpuh ketika berhadapan dengan Dewaruci. Dia mengatakan bahwa dirinya hendak mencari Tirta Prawita Sari. Kemudian Werkudara disuruh masuk ke dalam tubuh Dewaruci. Artinya orang yang mencari tingkatan makrifat kalimat syahadat yang mula-mula. Untuk mencapai anugerah Tuhan harus dengan jalan sesuai dengan lahir batinnya. Karena Dewaruci kecil tubuhnya. Werkudara bingung untuk masuk. Lalu diberi petunjuk untuk masuk lewat telinga. Dalam tubuh Dewaruci dia linglung tidak tahu arah kiblat. Biar tenang, dia disuruh semedi sebentar. Artinya meskipun berwujud ruh, dia tetap punya pe-rasaan dan akal budi. Sudah wajar orang yang berada di alam baru itu terkejut seperti bayi lahir. Dengan dzikir kepada Allah SWT jiwa akan tenang damai.
Werkudara menjawab pertanyaan Dewaruci bahwa dirinya merasa berada di dalam alam agung lengkap dengan segala isinya. Setelah itu disuruh semedi dan dia melihat lima macam cahaya yang saling bersaing. Artinya orang yang sudah pada tingkat hakikat agama, maka jiwanya telah makrifat kepada hakikat alam kabir (besar) dan saghir (kecil). Sedang kelima cahaya itu melambangkan panca indera yang cenderung ingin memuaskan hawa nafsu. Werkudara disuruh semedi lagi dan dia melihat wujud gana berbentuk emas. Dia merasa di alam indah permai, mulia dan wangi baunya, dia berniat tidak pulang ke dunia.
Artinya menggambarkan ruh yang telah berada di surga maya (surga nafi isbat). Meskipun sudah mera-sa puas dan ingin menetap di sana, tetapi niat itu tidak mungkin karena tugasnya di dunia belum sele-sai. Kisah ini juga sangat mirip dengan kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Tafsir di atas jelas sekali sesuai dengan pemahaman mistik dan tasawuf Islam. Seseorang yang hendak mencapai tingkat makrifatullah atau insan kamil, maka tahap-tahap yang harus dilalui harus seperti yang dijalankan oleh Werkudara dalam lakon Dewaruci. Di sinilah antara mistik Jawa Hindu dan Islam dapat bertemu.
Kabupaten Kudus telah menjadi sentra pembacaan literatur klasik. Lewat keluarga KRT Tirtokusumo telah terjadi keselarasan sosial keagamaan. GKR Kencono selaku garwa prameswari Sinuwun Amangkurat telah berhasil mendidik Raden Mas Gusti Prabasuyasa. Nanti bergelar Sinuwun Paku Buwana II Raja Mataram sejak tahun 1726.
Berbekal kekayaan yang berlimpah ruah, usaha mebel, migas, dan hasil bumi yang menguntungkan Paku Buwana II tampil sebagai raja legendaris. Pada tanggal 17 Suro 1745 Sinuwun Paku Buwana II sukses membangun ibukota Mataram Surakarta Hadiningrat. Dalam dirinya terdapat kemampuan luar biasa dalam bidang kenegaraan, kemasyarakatan dan kebudayaan.
(LM-01)

