8. G.P.H. Ronggosatoto.
9. G.P.H. Panular.
10. G.R.Ay.Adip. Sindurejo.
11. G.R.Ay. Kletingkuning
12. G.R.Ay. Mangkuyudo.
13. G.R.Ay.Adip. Mangkuprojo.
14. G.P.H. Mataram.
15. G.R.Ay. Danurejo.
16. G.R.Ay. Wiromenggolo.
Banyumas wilayah penting. Kabupaten Tegal merupakan pendukung utama kepemimpinan Sunan Amangkurat Agung. Di Kabupaten Tegal terdapat handai taulan, kerabat jaringan yang sangat setia pada Amangkurat Agung yang bertahta di Mataram. Amangkurat Banyumas atau Amangkurat Agung berhubungan erat dengan para pejabat, seniman, cendekiawan, budayawan, pengusaha di wilayah pesisir utara dan barat Mataram.
Mulai dari Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo, Temanggung, Magelang selalu berhubungan manis. Diplomasi juga dengan daerah Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Kendal, Batang, Semarang, Jepara, Pati, Rembang, Tuban, dan Lamongan yang merupakan kawasan pesisir utara bersahabat erat dengan Sunan Amangkurat Banyumas atau Amangkurat Agung. Sunan Amangkurat Agung terlampau populer. Amangkurat Banyumas begitu luhur misuwur.
2. Istana Kedhaton Pamase Banyumas.
Mataram punya pusat pemerintahan yang berada di Lesmana Ajibarang Banyumas. Istana Mataram ini bernama Kedhaton Pamase. Amangkurat Banyumas adalah sebutan untuk Amangkurat I. Karena lama tinggal di Banyumas.
Kraton Mataram semakin terkenal, arum kuncara nganti jaban rangkah. Rakyat hidup makmur. Sandang pangan berlimpah ruah. Kesenian mengagumkan sampai manca negara. Pendidikan maju. Semua anak Jawa dapat membaca aksara Jawa.
Istana dibangun megah nan indah. Kerajinan perak Kotagedhe, batik Pekalongan, tekstil Laweyan dan ukir ukiran Jepara dibina. Sri Amangkurat Agung atau Amangkurat Banyumas menjadi sosok hebat, kuat, berbakat, bersahabat, bermartabat, berderajat, berpangkat dan memikat.
Popularitas Amangkurat Agung membuat cemburu, panas hati dan iri di kalangan pengusaha dan penguasa di wilayah bang wetan, yang dipimpin oleh Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Persaingan politik dan bisnis antara pesisir utara dan bang wetan memang cukup sengit. Sri Amangkurat difitnah, namanya dijelek jelekkan, reputasinya dirusak.
Tetapi Allah Swt tidak sare. Tuhan Maha Tahu. Allah Maha Adil. Sing becik bakal ketitik, sing ala bakal ketara. Hukum alam pasti berbicara. Sing nandur bakal ngundhuh. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Sinar keagungan Sri Amangkurat selamanya tetap memancar ke seluruh penjuru jagat raya, marbabak bang sumirat, keneng soroting surya, mega lan gunung gunung.
Agenda Kerajaan Mataram mempunyai tradisi untuk tedhak, yaitu berkunjung ke daerah seluruh kabupaten di tanah Jawa. Sri Amangkurat rajin menyapa kawula alit, rakyat jelata di pesisir dan manca negara. Terjalin hubungan batin yang mendalam. Semua kayungyun marang pepoyaning kautaman. Sing cedhak mangklung, sing adoh mentiyung. Sami pasok blondhong pengareng-areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi.
Raja Amangkurat Banyumas atau Amangkurat Agung mempunyai jadwal kunjungan kerja ke wilayah barat dan pesisir utara. Rute perjalanan yang ditempuh mulai tanggal 28 Juni 1677 berangkat dari Plered. Kunjungan kerja pada tanggal 1 Juli 1677 berada di daerah Bocor Kedu. Tanggal 2 Juli 1677 rombongan Amangkurat Agung melakukan bawa rasa dengan Bupati Kebumen. Kunjungan selanjutnya terjadi pada tanggal 5 Juli 1677 di Kabupaten Cilacap. Sunan Amangkurat Agung karena fisiknya sudah tua dan merasa mendapat firasat bahwa usianya tidak panjang lagi, maka beliau beristirahat di desa Lesmana Ajibarang Banyumas, antara tanggal 6 – 10 Juli 1677.
Selama empat hari tersebut Sunan Amangkurat Agung memberi wejangan luhur kepada rombongan dan pengikutnya. Sampai saat ini satu satunya kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mendapat kehormatan untuk pemakaman raja adalah kabupaten Tegal. Masyarakat Tegal beserta aparatnya pantas berbangga dan berbesar hati. Semua Bupati Tegal menghormati Sunan Amangkurat Agung sebagai tokoh yang pantas diteladani.
Wasiat terakhir dari Sri Susuhunan Amangkurat Agung adalah bila beliau wafat atau surud ing kasidan jati supaya dikebumikan di Desa Pakuncen, Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Upacara pemakaman Sri Amangkurat Agung dipimpin langsung oleh KRT Martoloyo, Bupati Tegal dengan penuh kebesaran. Prosesi pemakaman pada tanggal 13 Juli 1677. Karena sumare di Tegal, maka disebut Sri Susuhunan Amangkurat Tegalarum.
3. Masa Kemakmuran Mataram.
Mataram tampil sebagai negara yang berwibawa. Sri Susuhunan Amangkurat memerintah Kraton Mataram tahun 1645-1677. Saat menjadi raja, Sri Amangkurat berhasil menjadikan Kerajaan Mataram sebagai negara yang makmur, aman damai.
Sandang pangan tercukupi, sehingga kehidupan rakyat guyub rukun. Sawah, irigasi, bendungan dibangun dan dipelihara dengan baik. Tanaman padi, ketela dan jagung tumbuh ijo royo royo.
Tata kelola air sungguh menjadi perhatian yang utama bagi Sri Amangkurat.
Kali Opak, Kali Oya, Kali Winanga, Kali Serayu, Kali Progo, Kali Gung, Kali Brantas, Umbul Pengging dan Umbul Cakra dijaga dan diatur. Gunung, hutan rimbun dengan aneka hewani dan nabati. Gunung Kendheng, Gunung Lawu, Gunung Sundara, Sumbing dan Slamet dijadikan sebagai kawasan yang berfungsi untuk menjaga kelestarian alam.
Kunjungan Sri Amangkurat ke berbagai daerah ditujukan untuk mempererat hubungan pemimpin rakyat atau manunggaling kawula Gusti.
Daerah kunjungan Sri Amangkurat yaitu: Malang, Tulungagung, Ponorogo, Tuban, Rembang, Jepara, Semarang, Batang, Pekalongan, Cilacap dan Tegal. Setiap kali berkunjung ke pelosok, segenap rakyat selalu menyambut dengan gegap gempita. Sri Amangkurat memang raja agung binathara, mbahu dhendha nyakrawati.
Bidang rohani dan pendidikan budi pekerti mendapat prioritas utama. Masjid, mushala dan surau dibangun dengan kayu jati terpilih.
Sanggar sanggar seni diberi bantuan. Kerawitan, pedalang-an, tari dan teater berkembang pesat. Kerajaan Mataram betul betul ideal. Sri Amangkurat berprinsip pada ajaran, amemangun karyenak tyasing sesama.
Setiap hari Kamis Sri Amangkurat memberi jatah makan kepada fakir miskin, kaum dhuafa, janda dan anak yatim. Nasib mereka menjadi tanggungan raja Mataram. Tidak boleh rakyatnya kelaparan. Sebagai seorang raja, nyata nyata Sri Amangkurat punya tanggung jawab penuh.
Sri Amangkurat Banyumas paring banyu marang wong kasatan, paring payung marang wong kudanan, paring teken marang wong kalunyon, paring obor marang wong kepetengen.
Selama menjadi raja Mataram, memang Sri Amangkurat Banyumas menjalin hubungan diplomasi dan bisnis dengan negara sahabat. India, Cina, Arab, Afrika dan Eropa pernah diajak kerjasama yang saling menguntungkan. Kraton Mataram terkenal sebagai penghasil beras, palawija, kayu jati, batu permata, kerajinan perak, kain batik, gamelan dan wayang.
Karya warga Mataram itu sungguh telah mendatangkan kemakmuran. Interaksi sosial Sri Amangkurat berdasar-kan ajaran Rahmatan lil alamin, memayu hayuning bawana, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berkeadilan.
Kraton Mataram mengalami masa kejayaan, keemasan, cemerlang, gemilang. Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Sri Susuhunan Amangkurat Banyumas atau Agung menjadi negara besar dan kuat, gedhe obore, padhang jagade, jero tancepe, adoh kuncarane, ampuh kawibawane.
Sudah selayaknya jika Bupati Tegal, Ki Enthus Susmono memberi nama pusat pemerintahan Kabupaten Tegal dengan nama kebesaran Pendopo Amangkurat Tegalarum atau Amangkurat Banyumas.
Nama Amangkurat Agung atau Amangkurat Banyumas atau Amangkurat Tegalarum atau Amangkurat I betul betul agung. Wangi semerbak ke kanan dan ke kiri. Raja Amangkurat Mataram sejak tahun 1645 memerintah Kraton Mataram dengan bijak bestari.
Narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, Ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.
Amangkurat Banyumas memang mengalirkan peradaban emas.
(LM-01)

