Namun setelah Jepang hengkang dari Indonesia, akibat kekalahan perang melawan sekutu, pada awal tahun 1946 Belanda mencoba masuk untuk menguasai tanah air kembali. Kedatangan Belanda ini membuat para kaum pergerakan terutama para pemuda rakyat melakukan perlawanan. Perlawanan kaum pemuda ini semakin gencar, sehingga apapun yang berbau Belanda disikat. Kesultanan Langkat adalah salah satu sasarannya.
Para pemuda Rakyat ini menaruh dendam kesumat kepada keluarga Sultan yang mereka anggap telah berkolaborasi dengan Belanda. Puncaknya pada 20 Maret 1946, para aktivist Pemuda Rakyat menculik keluarga sultan, tak terkecuali Amir Hamzah. Sedangkan Tengku Kamiliah dan anak Amir Tengku Tahura berhasil lolos dan selamat.
Tak lama dari waktu penculikan itu, hanya 2 minggu berselang terkabar bahwa Amir Hamzah telah dipancung oleh seorang mandor bernama Iyang Wijaya yang tak lain pernah menjadi abdi dalemnya di Kesultanan Langkat.
Oleh para penculik, Amir dipaksa untuk membuat lubang kuburnya sendiri, sebelum akhirnya dipancung dan dikuburkan secara massal di perkebunan Kwala Begumit tak jauh dari Binjai.
Sungguh tragis memang kisah Amir Hamzah. Sang Pujangga hebat, Sang Nasionalis, Sang Asisten Residen, Sang Sultan Langkat Hulu, telah menjadi korban dari “keganasan” revolusi di Sumatera Timur itu.
Revolusi telah memakan korban anak bangsa sendiri, begitu ada adagium politik mengatakan. Setelah kuburan massal di Kwala Begumit ini digali pada tahun 1949, jasad Amir Hamzah kemudian dimakamkan kembali di dekat Mesjid Azizi Tanjung Pura, Langkat. Kini kita dapat melihat pusara Amir Hamzah di mesjid itu.
(LM-01)

