Jejak Amir Hamzah
Oleh: Agus Marwan, S.IP, M.SP
(Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonnesia)
Di penghujung weekend ini “menapaki jejak” Amir Hamzah melalui buku Menafsir Kembali Amir Hamzah karya sastrawan Sumut Damiri Mahmud. Membaca buku ini, seakan kita merasakan bagaimana konflik batin dan ironi hidup yang dialami oleh Amir Hamzah.
Lahir dari keluarga Sultan Langkat, dibesarkan dari keluarga kesultanan. Amir seorang anak yang cerdas, menempuh hidup dan sekolah dasar di Tanjung Pura dan Medan, melanjutkan sekolah menengah atas ke Solo, hingga ke Jakarta untuk masuk ke Sekolah Tinggi Hukum.
Semasa di Solo semangat patriotik Amir menggelora bersama kaum muda pergerakan nasional lainnya. Bahkan Amir menjadi sekretaris pergerakan Indonesia Muda untuk wilayah Solo. Selain aktivis pergerakan, Amir adalah seorang pujangga hebat pada zamannya (Pujangga Baru). Syair-syairnya tampak menggelegar mewakili ironi kehidupannya.
Sajak “Padamu Jua” yang berkisah konflik batin Amir dalam menghadapi pilihan-pilihan hidupnya yang kontradiktif dan sangat dramatik. Sajak padamu Jua hampir sama menggelegarnya dengan sajak “Aku” karya Chairil Anwar.
Kisah cintanya yang begitu mendalam dengan putri Solo bernama Liliek Sundari harus kandas karena tidak sanggup menolak titah Sultan Langkat yang tak lain adalah pamannya sendiri, untuk dinikahkan dengan Tengku Kamaliah yang tak lain adalah putri dari Sultan Langkat.
Sekalipun memilih menikah dengan anak Sultan Langkat, cintanya yang begitu mendalam dengan Liliek Sundari tidak pernah padam. Dan itu diketahui betul oleh Tengku Kamaliah sang istri. Bahkan, Tengku Kamaliah sebelum wafatnya sempat berpesan dengan anaknya Tengku Tahura agar mencari Liliek Sundari untuk menjalin silaturahmi.
Setelah menikah dengan putri Sultan, Amir diberi kekuasaan atas wilayah Langkat Hulu yang berkedudukan di Binjai. Selain berkuasa di Langkat Hulu, Amir juga mendapatkan jabatan baru sebagai Asisten Residen dari pemerintahan republik Indonesia untuk wilayah Langkat.
Namun setelah Jepang hengkang dari Indonesia, akibat kekalahan perang melawan sekutu, pada awal tahun 1946 Belanda mencoba masuk untuk menguasai tanah air kembali. Kedatangan Belanda ini membuat para kaum pergerakan terutama para pemuda rakyat melakukan perlawanan. Perlawanan kaum pemuda ini semakin gencar, sehingga apapun yang berbau Belanda disikat. Kesultanan Langkat adalah salah satu sasarannya.
Para pemuda Rakyat ini menaruh dendam kesumat kepada keluarga Sultan yang mereka anggap telah berkolaborasi dengan Belanda. Puncaknya pada 20 Maret 1946, para aktivist Pemuda Rakyat menculik keluarga sultan, tak terkecuali Amir Hamzah. Sedangkan Tengku Kamiliah dan anak Amir Tengku Tahura berhasil lolos dan selamat.
Tak lama dari waktu penculikan itu, hanya 2 minggu berselang terkabar bahwa Amir Hamzah telah dipancung oleh seorang mandor bernama Iyang Wijaya yang tak lain pernah menjadi abdi dalemnya di Kesultanan Langkat.
Oleh para penculik, Amir dipaksa untuk membuat lubang kuburnya sendiri, sebelum akhirnya dipancung dan dikuburkan secara massal di perkebunan Kwala Begumit tak jauh dari Binjai.
Sungguh tragis memang kisah Amir Hamzah. Sang Pujangga hebat, Sang Nasionalis, Sang Asisten Residen, Sang Sultan Langkat Hulu, telah menjadi korban dari “keganasan” revolusi di Sumatera Timur itu.
Revolusi telah memakan korban anak bangsa sendiri, begitu ada adagium politik mengatakan. Setelah kuburan massal di Kwala Begumit ini digali pada tahun 1949, jasad Amir Hamzah kemudian dimakamkan kembali di dekat Mesjid Azizi Tanjung Pura, Langkat. Kini kita dapat melihat pusara Amir Hamzah di mesjid itu.
(LM-01)

Tinggalkan Balasan