MEDAN — LIPUTAN68.COM — Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, kembali membuka cerita tentang karakter dirinya. Bahwa karakter keras yang ada padanya sampai jadi gubernur, adalah pendidikan mental yang diberikan ayahandanya sejak kecil.
Demikian disampaikannya saat memberi sambutan pada pelantikan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Sumut, Rabu (29/12), di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Jenderal Sudirman Medan.
“Tak mungkin gara-gara saya jadi gubernur, kalian suruh saya baik-baik (lembut, Red),” ujar Edy.
Ihwal agar ia merubah karakternya menjadi lemah lembut ini, pernah disampaikan tim suksesnya kala berkontestasi di Pilgub Sumut 2018.
“Pernah saya coba gitu, karena tim sukses saya, ‘pak berubahlah bapak’. Maksud kau? ‘Bapak senyum’. Tiga bulan sakit saya,” ungkap mantan Pangkostrad yang disambut tawa para pengurus dan undangan.
Karena sakit itulah makanya ia tetap tampil dengan karakter keras sampai sekarang.
“Mana kalian pilih, kalian punya gubernur sakit tapi saya begini-begini sehat,” tanya Edy ke audiens.
“Sehat,” sahut beberapa audiens terdengar. “Iya sehat, nah makanya biarkan saya begini. Jangan kau marah-marahi saya. Beginilah ciri khas kita,” tegas Edy.
Ia juga mengatakan belum tentu orang yang tampil halus-halus lebih baik dari orang yang kasar bicaranya.
“Belum tentu. Tetapi diharapkan ngomongnya baik, kelakuan baik, semua baik, diharapkan begitu. Tapi saya minta maaf, saya tak bisa. Biarkan saya begini, setuju?” ungkapnya lagi.
Sebelumnya publik dihebohkan dengan tindakan Gubernur Edy yang mengusir pelatih biliar Sumut, Khairuddin Aritonang (Coki) karena tak ikut bertepuk tangan saat ia memberi sambutan dalam acara pemberian tali asih atlet Sumut berprestasi di PON XX Papua, Senin (27/12) sore.
Bahkan dalam video yang beredar, terlihat Gubernur Edy terlihat menjewer kuping pelatih itu. Oleh gubernur, Coki disebutnya tertidur dan seolah bukan bagian dari olahragawan.
Tindakan gubernur itu pun mengundang reaksi dari berbagai pihak. Coki sendiri turut bereaksi, yang menurutnya tidak seharusnya gubernur memperlakukan pelatih yang telah turut mempersembahkan medali pada PON lalu dihadapan khalayak. (LM-02)
