Memotret Perseteruan Edy Rahmayadi Vs Bobby Nasution di Sepanjang Tahun 2021

Perseteruan kembali terjadi terkait Pendataan Penanganan Covid-19 di Medan. Bobby Nasution menyebutkan pendataan penanganan Covid-19 di Medan masih kacau karena buruknya koordinasi Pemprov Sumut. Pemko Medan selalu kesulitan bila meminta update data Covid-19 dari Pemprov Sumut. Pemko Medan pun harus melakukan pendataan ulang dengan cara manual. Menanggapi protes Bobby ini, Edy menyampaikan bahwa semestinya masalah tersebut harus dikomunikasikan dengan baik, bukan saling menyalahkan. Edy pun di media menyindir Bobby jangan asyik salah sini-situ.

November 2021

Perseteruan terjadi terkait rencana Bobby akan membuka kembali Kesawan City Walk (KCW). Seiring dengan kasus Covid yang terus menurun, dan untuk menggerakkan ekonomi pelaku UMKM Bobby berencana membuka kembali KCW. Menanggapi rencana ini, Edy Rahmayadi mengultimatum Pemko Medan. Edy akan menindak KCW jika tidak mematuhi aturan PPKM Level 2.

Desember 2021

Perseteruan Edy Rahmayadi dengan Bobby Nasution kembali terjadi terkait status PPKM kota Medan. Gubsu Edy menyindir walikota Medan Bobby Nasution yang mengklaim saat ini kota Medan masuk dalam PPKM Level 1. Padahal dalam instruksi Gubernur No 188.54/51/INS/2021 status Kota Medan masih masuk dalam PPKM Level II. Edy sindir Bobby dengan menyebutkan jangan klaim Level I, Level 0 saja. Menanggapi sindiran Edy ini, Bobby menyampaikan bahwa benar Kota Medan baru saja masuk Level I PPKM, karena ada beberapa indikator yang sudah dipenuhi, terutama indikator jumlah vaksinasi yang sudah tinggi di Kota Medan.

Menakar Potensi Konflik

Perseteruan antara Edy Rahmayadi dengan Bobby Nasution tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai konflik biasa, mengingat konfliknya terjadi terus menerus di sepanjang tahun 2021. Ada latar, sebab dan potensi yang membuat perseteruan antara keduanya hingga sekarang masih terus menjadi.

Edy dan Bobby memiliki banyak latar yang berbeda, baik dari pengalaman profesi, tingkat generasi, dan karakter kepemimpinannya. Edy yang dibesarkan di dunia kemiliteran tentu watak dan karakternya sangat dipengaruhi oleh watak militer. Sementara Bobby yang dibesarkan dari dunia sipil dan berprofesi sebagai pengusaha muda, sangat dipengaruhi oleh watak profesinya. Dari sisi generasi, juga tampak kontras sekali perbedaannya, Bobby dilahirkan dan dibesarkan di era generasi milenial, sedangkan Edy dilahirkan dibesarkan pada generasi era 60-an. Dalam memimpin tampak Edy menggunakan model pendekatan antara bapak dan anak, yaitu Edy sebagai bapak dan rakyat itu anaknya. Itu kenapa Edy lebih suka dipanggil ayah oleh anak buahnya. Berbeda dengan Bobby
yang menggunakan model kepemimpinan egaliter dengan berbasis kinerja. Bagi Boby, anak buah dan rakyat adalah partner/mitra, oleh karenanya harus berkolaborasi bersama sesuai jargon politik Bobby.

Edy dan Bobby juga memiliki latar politik yang saling berseberangan. Edy di masa Pilpres merupakan gubernur pendukung Prabowo-Sandi dan bersebrangan dengan Jokowi yang merupakan mertuanya Bobby. Hingga sekarang pun hubungan Edy dengan pemerintah pusat tampak masih belum mesra. Dalam pemilihan Walikota Medan tahun 2020 juga Edy bukan bagian dari sekutu Bobby, dan sebaliknya Edy mendukung lawan politik Boby.

Bisa jadi Edy memandang Bobby sebagai calon potensial yang akan menjadi pesaing dalam pertarungan Pemilihan Gubernur Sumut (Pilgubsu) pada 2024 mendatang. Bila Edy ingin maju pada periode kedua, tentu Bobby menjadi lawan yang tidak bisa dianggap remeh oleh Edy. Konflik-konflik yang selama ini terjadi bisa jadi bagian dari kompetisi terselubung keduanya dalam rangka kontestasi Pilgubsu mendatang. Bila hal ini benar, maka perseteruan antar keduanya sulit akan berakhir, dan akan terus terjadi hingga Tahun 2024 mendatang.

*Sekjend Forum Masyarakat Literasi Indonesia, dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Pembangunan FISIP USU.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *