oleh

Politisi PDI Perjuangan Sebut Sidak Menteri ESDM tak Lebih Sekadar Pencitraan

MEDAN — LIPUTAN68.COM — Kunjungan kerja Menteri Energi Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Arifin Tasrif ke Sumatera Utara, Sabtu (9/4/2022), disebut tidak lebih dari sekadar pencitraan semata.

Pasalnya, saat sang menteri melakukan inspeksi mendadak perihal harga maupun ketersediaan solar bersubsidi pada sejumlah SPBU di Sumut, dinilai tidak menyasar soal substansi permasalahan.

“Masalah terbesar solar subsidi sebenarnya adalah besarnya subsidi yang ditanggung karena program B30,” ketus Anggota DPRD Sumut, Sugianto Makmur kepada wartawan di Medan, Minggu (10/4/2022).

Menurutnya, biodiesel B30 adalah bahan bakar yang berasal dari campuran minyak sawit 30% dan minyak solar 70%.

Ironinya, Indonesia satu-satunya yang B30. Sedangkan di negara-negara lain seperti Argentina, Brazil, hingga Amerika Serikat masing-masing baru memasuki B10, B12, dan B20.

Liputan JUGA  Neo Fortuna Konsolidasikan Korcam dan Kordes Untuk Kemenangan Beriman Trendi, Soekirman Beri Apresiasi

Sejak 2015 sampai 2021 saja, urai politisi PDI Perjuangan ini, subsidi negara untuk B30 itu sudah menghabiskan Rp110 triliun.

“Itu sebelum CPO naik tinggi. Dengan harga CPO yang sangat tinggi sekarang, diperkirakan subsidi pemerintah atas biosolar mencapai sedikitnya Rp.8000/liternya. Ini sebagian besar diakibatkan pemerintah tetap memaksakan program B30,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, bahwa program B30 itu baik ketika keadaan masih normal. Tetapi dalam situasi harga minyak bumi dan CPO yang naik tinggi, maka harus diambil hitungan yang paling meringankan subsidi pemerintah, apakah dengan menghentikan sementara program B30 atau dengan cara lainnya.

  Banner Iklan Sariksa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.