Jakarta — Liputan68.com | Said Didu mengungkapkan informasi mengejutkan mengenai kontestasi pemilihan presiden 2024.
Awalnya, Said Didu menanggapi postingan yang memperlihatkan poster pasangan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri BUMN Erick Thohir yang akan dipasangkan dalam pilpres 2024.
Said Didu kemudian menyebut bahwa dirinya mendapatkan informasi, Presiden Jokowi sudah sepakat dengan pemodal untuk mengusung pasangan itu.
“Infonya, bahwa calon ini yang disepakati Pak Dhe dengan para cukong,” tulis Said Didu dikutip dari Twitter, Senin (23/O5/2022)
Infonya, bhw calon ini yg disepakati Pak Dhe dg para cukong.
Partainya sdh disiapkan yaitu koalisi Partai Golkar, PPP, dan PAN.
Ayo rakyay cerdas. https://t.co/mvhbDvqni0— Muhammad Said Didu (@msaid_didu) May 23, 2022
Ia menambahkan, partai politik pengusung juga sudah disiapkan untuk mengusung pasangan calon tersebut.
Tidak lain adalah partai yang tergabung dalam koalisi Indonesia Bersatu (KIB)
“Partainya sudah disiapkan yaitu koalisi Partai Golkar, PPP, dan PAN. Ayo rakyat cerdas,”imbuhnya
Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin membantah tudingan Istana mengarahkan terbentuknya Koalisi Indonesia Bersatu.
“Tidak ada, yang pasti sekarang Presiden punya konsentrasi full terhadap pembenahan terkait dengan masalah-masalah yang belum selesai, terutama pandemi Covid-19,” ucap Ali.
“Kemudian agenda-agenda strategis nasional untuk sisa waktu yang ada,” kata Ali di Bina Graha, Jakarta, Senin, (23/05/2022).
Pembentukan koalisi menurutnya merupakan hak dan kewenangan partai.
Oleh karena itu, tidak ada yang salah dengan adanya penjajakan ataupun pembentukan koalisi partai menjelang Pemilu 2024.
“Bahwa ketua-ketua umum partai kemudian memainkan peran-peran dengan cara dan teknis yang mereka lakukan, it’s okay, itu partai politik punya kewenangan,” tuturnya.
Yang pasti, kata Ali, di sisa masa jabatannya, Jokowi saat ini sedang fokus dalam menyelesaikan program-program pembangunan yang telah dirancang.
“Untuk Presiden, seperti tadi Bang Ali katakan, bahwa konsentrasi kerja Presiden tetap pada penyelesaian program-program strategis nasional dua tahun terakhir,” jelasnya.
Sebelumnya, pengamat Politik KedaiKopi Hendri Satrio mencurigai pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu diarahkan oleh pihak di lingkaran Istana.
“Pertanyaan apakah ada arahan dari Istana ? Karena ketiganya adalah partai koalisi pemerintah.”
“Satu di ujung tanduk, satu lagi baru ditinggal tokoh sentral, yang satu lagi enggak jelas nih maunya ke arah mana, bahkan ada isu ketumnya mau dilengserkan,” ujar Hensat, sapaan karibnya, dalam salah satu acara dialog, Sabtu (14/05/2022).
Sejak isu tiga periode dan perpanjangan masa jabatan presiden bergulir, Hendri semakin curiga dengan munculnya gerakan maupun koalisi.
“Jadi begitu ada koalisi atau gerakan-gerakan, ini mau ngapain lagi Istana, sih ?” Ucapnya.
Hendri juga melihat Airlangga Hartarto dan Zulkifli Hasan, adalah orang yang pernah menyuarakan soal penundaan Pemilu 2024.
“Kalau mereka bertiga ketemu, bukan otomatis 2024 tetap jalan, walaupun Pak Jokowi berkali-kali mengatakan itu,” ulas Hensat.
Dia menambahkan, tujuan koalisi ketiga partai tersebut masih misterius, karena berkali-kali ditanya jawabannya hanya berada di permukaan.
