Kebijakan Pemerintah Tumpang Tindih, Ray Sukarya Terima Aduan Peternak

Liputan68.com,  Denpasar- Ketahanan pangan nasional akan terpuruk dan terbukanya potensi varians virus baru Covid-19. Ditambah lagi, permasalahan daging jika dibiarkan terus berlarut-larut akan menjadi penyebab inflasi nasional.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua LSM Jarrak Bali, Made Ray Sukarya meminta pemerintah membijaksanai pengiriman hewan ternak, minimal babi yang hingga saat ini, belum terkena PMK, namun kondisinya malah betul-betul menjerit.

Bahkan, Ray Sukarya menyoroti kebijakan pemerintah yang terkesan tumpang tindih, padahal pemerintah pusat sudah mengeluarkan kebijakan yang menyatakan, bahwa Bali sudah masuk Zona Hijau, lantaran hingga kini Bali sudah bebas PMK.

Pada intinya, Ray Sukarya menyuarakan dan menampung aspirasi peternak hidup yang hewan ternaknya, seperti babi dan sapi tidak bisa dikirim keluar Bali.

“Kebijakan itu kayak tumpang tindih, kalau masuk kesini okelah super ketat. Ini kenapa yang hidup ngk boleh, tapi yang beku boleh. Kalau ngk boleh, ya ngk bisa semua,” tegas Ray Sukarya di Denpasar, Senin, 15 Agustus 2022.

Harus diketahui, bahwa ada dua pasar babi, yaitu pasar lokal dan pasar luar Bali. Biasanya pasar luar Bali inilah yang diisi pemain ekoran atau pengiriman hidup.

“Jangan sampai, karena kebijakan yang tumpang tindih mengakibatkan semua pemain babi melemparkan babinya di pasar lokal. Bisa dibayangkan bagaimana nanti hancur leburnya harga babi,” jelas Ray Sukarya.

Perlu diingat juga, bahwa selama ini keberpihakan pemerintah terhadap peternak babi sama sekali tidak ada, terbukti waktu virus ASF melanda Bali.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *