Wayang Timlong Asal Nganjuk Pentas di Kraton Surakarta

Ragam musik wayang Timlong begitu menarik. Gending ngawe awe untuk adegan santai. Maka cocok untuk irama lagu dolanan. Gending grendhel digunakan untuk adegan jejer.

Lakon Sekartaji dibawakan oleh Ki Suyadi dengan penuh penghayatan. Waranggana 2 orang sudah berpengalaman. Wiyaga yang nabuh gamelan sangat menguasai irama gending. Pagelaran kraton Surakarta pun kelihatan meriah megah indah. Penonton benar benar terhibur. Suasana menjadi segar bugar.

Cerita panji mengambil setting Kraton Doho, Jenggolo, Kediri dan Kahuripan. Simpangan wayang Timlong menggunakan filosofi wayang purwa. Simpangan kiri melambangkan sifat negatif. Simpangan kanan melambangkan kebaikan.

Tancapan wayang Timlong menggunakan kayu berlobang. Tidak memakai debog. Kelir dibagi menjadi tiga bagian. Kanan, kiri dan tengah. Bagian tengah dibuat panggung, dengan kelir berhias.

Dengan kepeloporan Pakasa Nganjuk, maka eksistensi wayang Timlong mendapat pengakuan. Nguri uri budaya Jawa, agar tetap tumangkar ngrambaka.

Kehadiran pengurus Pakasa Nganjuk yang didukung oleh KMT Ida Srimurtini Madusari menambah bobot pakeliran. Rum kuncaraning bangsa, dumunung ing luhuring budaya.

Pangarsa Sentana KPH Sangkoyo Mangkukusumo menyerahkan tokoh wayang Panji. Tamu undangan dan penonton menikmati pagelaran. Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu.

Ja lali ja keri kutha Nganjuk nggon seni.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *