Pesan IDI Pacitan Terkait Leptospirosis: “Tidak Perlu Saling Menyalahkan. Sudah Saatnya Bergandengan Tangan, Kendalikan Populasi Tikusnya, Temukan Kasusnya, Hentikan Penyebarannya, Sembuhkan Yang Bergejala”

Masih menurut Johan, gejala utama pada umumnya, yaitu demam akut, diikuti oleh gejala klinis lain seperti flu, sakit kepala, mual, muntah, nyeri perut,
kemerahan pada konjungtiva mata, dan mialgia.

Gejala-gejala ini sering dijumpai pada penyakit infeksi akut lain. Seperti demam dengue/ demam berdarah dengue, demam tifoid, malaria.

Hal inilah yang menyebabkan sulitnya pencatatan jumlah kasus leptospirosis. Pada kasus yang berat (Weil’s syndrome), dengan angka kematian yang lebih tinggi, gejala klinis dapat disertai perubahan kesadaran, gangguan
ginjal akut, gangguan pernapasan, hipotensi, dan aritmia.

“Weil’s syndrome terdiri dari trias perdarahan, jaundice, dan gangguan ginjal akut. Pasien dapat meninggal karena syok sepsis dengan gagal organ
multipel dan atau komplikasi perdarahan yang paling sering terjadi di paru, saluran cerna, tractus, urinarius dan kulit,” jelasnya.

Sementara itu tak lupa, mewakili IDI Pacitan, Johan menekankan perlunya pencegahan penularan leptospirosis. Yaitu:

1. Berperilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga kebersihan diri terutama setelah beraktivitas
di lokasi yang berisiko terpapar leptospirosis.

2. Memberikan sosialisasi pentingnya menggunakan alat pelindung diri bagi pekerja yang bekerja di lingkungan yang berisiko leptospirosis.

3. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, supaya tidak menjadi sarang tikus termasuk tempat penyimpanan air, penanganan sampah supaya tidak menjadi sarang tikus.

4. Sosialisasi ke masyarakat tentang bahaya leptospirosis terutama pada kelompok masyarakat yang memiliki resiko tinggi terpapar leptospirosis.

“Kolaborasi dan sinergitas antara pemerintah daerah dan jajarannya sampai di level kecamatan dan desa, tenaga kesehatan, masyarakat dan rekan-rekan media, sangat penting untuk mengendalikan penyebaran leptospirosis.

Semua harus berperan melalui kemampuan dan kompetensi di masing-masing bidang. Tidak perlu saling menyalahkan. Sudah saatnya bergandengan tangan. Kendalikan populasi tikusnya, temukan kasusnya, hentikan penyebarannya, sembuhkan yang bergejala,” pesan Johan. (Red/yun).

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *