Liputan BERITA

Seperti Lagunya Abah Lala, Mas Aji Ojo Dibanding- Bandingke

Ditulis oleh Liputan68 pada 18 Mei 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan- Lagu karya cipta Abah Lala bejudul “Ojo Di Banding-Bandingke” mungkin sangat tepat dialamatkan kepada Bupati Pacitan Raden Mas Tumenggung Indrata Nur Bayuaji.

Belakangan, seiring berjalannya tahun politik jelang Pileg, Pilpres dan juga Pilbup serentak 2024, lagu tersebut terkesan menjadi semangat sejumlah pihak untuk membandingkan hasil kinerja dari bupati yang oleh wartawan dijuluki sebagai “Bupati 4WD” itu dengan prestasi kinerja para kepala daerah direzim sebelumnya.

Pengamat politik lokal di Pacitan, Hadi Subowo berpendapat, suatu hal yang naif apabila ada pihak-pihak yang demen membanding-bandingkan prestasi kinerja seorang bupati. “Itu cerminan manusia yang luput dari bersyukur. Tidak bisa kita ini membuat perbandingan prestasi kinerja satu rezim pemerintahan dengan pemerintahan sebelumnya,” kata Hadi Subowo memberi pendapat, Kamis (18-05-2023).

Era kepemimpinan Bupati Sutrisno misalnya, tak bisa dibandingkan dengan era pemerintahan Bupati Suyono ataupun Bupati Indartato. Mereka berkuasa dengan kondisi kearifan serta beragam permasalahan, ditengah dinamika regulasi di jamannya masing-masing.

Demikian juga di era kepemimpinan Bupati Indrata Nur Bayuaji saat ini. Jelas tak bisa untuk dibandingkan atau disamakan dengan kepemimpinan bupati sebelumnya. Deregulasi yang menyangkut kebijakan anggaran sempat bergulir. Maka sudah menjadi rahasia umum, bila di era kepemimpinannya, sangat tipis di kantong.

Mas Aji, begitu kata Hadi Subowo, mungkin masih perlu menggenjot pembangunan infrastruktur yang oleh sebagaian pihak dinilai jalan ditempat. Namun disisi lain, kepemimpinan dari anak keponakan Presiden ke enam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga patut diberi apresiasi. Hanya dengan waktu kurang dari empat tahun menjabat di periode pertama ini, namun banyak hal yang mungkin masyarakat kurang pahami.

Salah satu contohnya, dibawah kendali Bupati Aji dan perangkat daerah yang ada, setidaknya sudah bisa meminimalisir kasus kematian akibat terpaan bencana non alam coronavirus yang sempat merenggut jutaan nyawa manusia di dunia.

Ekonomi meski sempat terseok, namun khususnya di Pacitan, laju inflasi masih cukup terkendali. Daya beli masyarakat nasih relatif stabil dan angka kemiskinan perlahan bisa direduksi secara berkala.

“Semua itu tak lepas dari kerja kerasnya Mas Aji, dengan kebijakan dan politik anggaran untuk refocusing maupun infocusing pengendalian dampak pandemi global Covid-19.

Pembangunan fisik konstruksi memang masih lemah, namun setidaknya ratusan nyawa masyarakat Pacitan bisa terselamatkan. Demikian juga melemahnya perekonomian sebagai dampak wabah penyakit coronavirus, saat ini perlahan sudah mulai bergerak. Income perkapita masyarakat sudah mulai menampakan kenaikan,” beber Hadi Subowo.

Masih di kesempatan yang sama, menurut Hadi Subowo, ibarat bertani Mas Aji baru hendak mencangkul namun lahan pertaniannya diterjang banjir. “Mas Aji bisa mengatasi situasi sulit semacam itu. Meski lahannya digenangi banjir akan tetapi dalam kurun waktu singkat banjir surut dan lahan pertanian bisa digarap lagi sekalipun hasil panenannya belum maksimal.

Itu sebuah analogi terkait kinerja Mas Aji, yang tak bisa dibanding-bandingkan dengan kepemimpinan bupati sebelumnya,” pungkasnya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian