Babad Tanah Blambangan

Oleh : Dr Purwadi SS M.Hum.
Ketua LOKANTARA, Lembaga Olah Kajian Nusantara. Hp 087864404347

A. Leluhur Banyuwangi.

Kerajaan Majapahit sebagai negeri gemah ripah loh jinawi. Jaman keemasan nusantara yang terkenang sepanjang masa. Raja Majapahit,
Prabu Brawijaya kagungan garwa prameswari, yaitu : Ratu Cempha, Ratu Dorowati dan Ratu Wandansari.

Ketiga garwa prameswari itu menurunkan narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati. Ratu Cempha.
Menurunkan Raja Demak.
Raden Patah, Pati Unus, Sultan Trenggana, Ratu Cepaka, Pangeran Benawa, Ratu Banuwati, Sultan Agung, Amangkurat. Kelak menurunkan raja Surakarta.

Trah kusuma rembesing madu. Ratu Dorowati
Menurunkan Raja Pajang. Ratu Pembayun, Kebo Kenanga, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Benawa, Banuwati, Sultan Agung, Amangkurat. Kerajaan Pajang berpengaruh di daerah Blambangan.

Adapun Ratu Wandan Kuning atau Wandansari menurunkan raja Mataram.
Bondan Kejawan,
Getas Pendawa,
Ki Ageng Sela, Ki Ageng Enis, Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senapati, Hanyokrowati, Sultan Agung, Amangkurat. Keturunannya menyambung dengan bangsawan Blambangan yang selalu berdarma bakti.

Raja Mataram, Sinuwun Amangkurat Agung memiliki 3 darah prameswari Prabu Brawijaya. Dalam Babad Ila Ila dijelaskan kejayaan Mataram yang dipimpin Sri Susuhunan Amangkurat Tegalarum th 1645 – 1677. Pernah berkantor di istana Kedhaton Pamase, Lesmana Ajibarang Banyumas.
Bangsawan Jawa memiliki guru spiritual. Bernama Ki Ageng RM Djojo Poernomo. Pada awal abad 20 raja dan sentana Kraton Surakarta banyak yang berguru ke Banyuwangi.

Misalnya Paku Buwana X sering ngangsu kawruh. Tanggal 29 Nopember 1931 Ki Ageng RM Djojo Poernomo memberi sesorah kebatinan. Saat itu sedang berdiri paguyuban abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat. Keutamaan hidup sangat dianjurkan, demi mendapatkan hati yang ayem tentrem.

Menurut asal usulnya Ki Ageng RM Djojo Poernomo masih keturunan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Kerajaan Pajang berdiri pada tanggal 24 Juli 1546. Dari jalur ayahnya memang dekat dengan trah Pengging.

Dari jalur ibunya masih keturunan Sunan Ampel. Putri Sunan Ampel adalah Kanjeng Ratu Panggung, yang menjadi garwa prameswari Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Dengan begitu Ki Ageng RM Djojo Poernomo jelas mempunyai hubungan darah dengan kerajaan Demak Bintara.

Raden Ngabehi Ranggawarsita pujangga Kraton Surakarta. Hidup antara tahun 1801 – 1873. Pujangga yang sakti mandraguna, waskitha ngerti sakdurunge winarah.
Dari sinilah Ki Ageng RM Djojo Poernomo berguru mengenai bermacam macam ilmu pengetahuan.

Serat Witaradya, Pustaka Raja, Wirid Hidayat Jati, Cemporet dan Kalatidha dibaca oleh Ki Ageng RM Poernomo. Tuntas dan jelas. Semua ajaran pujangga Ranggawarsita dipahami dengan baik. Malah Pujangga Ranggawarsita kerap datang mengajar buat masyarakat Blambangan.

Ajaran Pujangga Kyai Yasadipura juga menjadi referensi. Serat Rama, Dewaruci, Sasana Sunu, Candrarini, Baratayuda merupakan bahan untuk penggemblengan diri Ki Ageng RM Djojo Poernomo. Tak mengherankan bila memiliki pengetahuan yang luas. Ibarat samudra raya, Ki Ageng RM Djojo Poernomo menjadi tempat bertanya. Unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.
Segala ilmu diajarkan dengan terang gamblang.

Bidang seni budaya pun mendapat perhatian dari Ki Ageng RM Djojo Poernomo. Suatu contoh mengenai ketrampilan joged. Pengajaran beksan guna memperhalus rasa manusia.

Ulasan tari gambyong diajarkan dari perspektif filosofis dan historis. Tari Gandrung Banyuwangi pertama kali dipentaskan saat Prabu Kertanegara ulang tahun pada tanggal 20 Juli 1289. Kerajaan Singasari mengundang penari dari Banyuwangi. Tentu saja busana yang dikenakan serba lincah, indah, mewah, megah, gagah dan penuh dengan cahaya berkah.

Tradisi pentas tari gandrung Banyuwangi dilanjutkan oleh Kerajaan Majapahit. Bangsawan Majapahit banyak yang datang ke Banyuwangi untuk belajar menari. Kepercayaan bahwa tari gandrung bisa mendatangkan kemakmuran.

Perlu diketahui sejarah masa lampau bagi generasi muda. Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293. Pelopor sekaligus pendiri bernama Raden Wijaya. Darah biru yang paling berhak atas tahta Majapahit.

Dengan dibantu oleh Arya Wiraraja dan Adipati Ranggalawe kerajaan Majapahit berkembang pesat. Dalam diri Raden Wijaya mengalir gen agung dari Kraton Medang, Kahuripan, Daha, Jenggala, Kediri dan Singasari.

Penobatan raja Majapahit selalu menampilkan tari Gandrung Banyuwangi. Raden Wijaya, Jayanegara, Tri Buana Tungga Dewi, Hayamwuruk, Ratu Suhita, Kencana Wungu dan Prabu Brawijaya adalah raja gung binathara, mbahu dhendha Nyakrawati. Tiap tingalan jumenengan pasti mementaskan tari Gandrung.

Untuk itu mempelajari tari nilai filosofis tari Gandrung, perlu melacak ekologi budaya tanah Banyuwangi. Agar diperoleh pemahaman utuh. Pada hari Jumat Pon, tanggal 21 Juli 2023 tim LOKANTARA berkunjung ke ujung Jawa Timur. Tepatnya di Alas Purwo Banyuwangi. Terkenal sebagai wana gung liwang liwung, gawat kaliwat liwat.

Penelitian tari gandrung dilakukan demi menggali jatidiri. Tim kunjungan di Alas Purwo terdiri dari 4 orang dipimpin oleh Prof Dr KPH Gunawan Sumodiningrat M.Ec. Wayah buyut Sinuwun Paku Buwana X ini merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Alumni Minesota Amerika Serikat yang pernah bertugas sebagai pejabat tinggi Bappenas. Juga sekretaris asisten Wakil Presiden dirjen depsos dan sekretaris Dewan Guru Besar. Aktif dalam kegiatan SENAWANGI dan PEPADI yang berpusat di TMII. Kajian atas tari gandrung membawa ketentraman.

Penari gandrung kerap melakukan tata cara spiritual. Jarak antara kota Banyuwangi dengan Alas Purwo sekitar 80 KM. Naik kendaraan bisa ditempuh kurang lebih 1,5 jam. Sepanjang jalan tampak pesisir Kidul. Bisa dilalui lewat jalur Situbondo menuju Jember. Jumpa dengan pantai Watudodol, pelabuhan Ketapang, pantai Boom, pantai Muncar dan pantai Pancur. Ki Ageng RM Djojo Poernomo memberi pelajaran dengan materi yang dekat alam.

Gandrung berarti jatuh cinta yang rela legawa lahir batin. Kira kira pukul 14 tiba di Alas Purwo. Baru masuk sudah terasa wibawa alam. Sinuwun Paku Buwana X, raja Kraton Surakarta memerintah tahun 1893 – 1939. Mahas ing ngasepi di Alas Purwo. Lenggah asuku tunggal. Megeng napas mbendung swara. Ana rupa tan den dulu. Ana ganda tan ingambu. Meditasi raja Surakarta terkabul. Wahyu keprabon tumurun. Dalam sejarahnya Paku Buwana X mendapat gelar Sinuwun Ingkang Minulya saha Wicaksana. Tanah Jawa mengalami masa keemasan.

Joged gandrung memang memberi daya tarik. Sukses besar dalam bidang spiritual dilakukan oleh Prof Dr Gunawan Sumodiningrat M.Ec. Segera mangsah semedi ing sanggar pamelengan. Didampingi oleh Ki Ageng Sujarwo, tokoh spiritual Banyuwangi yang bertugas merawat Alas Purwo. Semua juru kunci yang bertugas atas perintah pimpinan. Ki Ageng Sujarwo benar benar tokoh panutan yang disegani.

Lelaku bagi penari gandrung memang sangat penting. Tampak peziarah berduyun duyun. Rombongan dari Singaraja Bali melakukan tata cara semedi. Lengkap dengan ubarampe. Sesaji meliputi kembang melati, dupa, kemenyan, jajan pasar, pisang raja, rokok klobot. Juru kunci berbusana gagrag brahmana.

Kukusing dupa kumelun, ngeningken tyas sang apekik, kawengku sagung jajahan. Juru kunci membaca puja mantra. Terdengar bunyi klinthing. Seolah olah doa diantar menuju kehadirat Tuhan. Makin lama bunyi klinthing makin nyaring.

Lokasi meditasi memang wingit mrebawani. Gapura dibangun layaknya Pura Besakih. Patung Cingkara Bala dan Bala Upata mengawal di depan pintu gerbang. Ganda arum semerbak wangi. Maka penari gandrung mesti memakai minyak wangi.

Sekar melati berasa harum wangi. Sekitar papan pasemeden dilingkupi ragam hewani. Burung, kera, macan, celeng, klabang, kalajengking, naga, kala sundep. Secara fisik cukup menyeramkan. Tapi pasti jinak oleh kekuatan hati yang bersih.

Alas Purwo terkenal sekali. Pada bulan Suro orang ramai berdatangan. Siang malam orang sama melaksanakan lelaku. Ing madyaning wana tumurun nugraha. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Segala harapan berwujud kenyataan. Pepohonan besar yang rindang selalu teduh dan kukuh. Sentosa dalam mengheningkan cipta.

Lebatnya Alas Purwo bagi ahli lelaku dianggap terang benderang. Tenaga spiritual menipiskan benda material. Tampak Alas Purwo sebagai Kayangan Alang Alang Kumitir.

Samudra Selatan yang dijaga Kanjeng Ratu Kidul bergelombang besar. Ombak berdebur debur. Suara dahsyat terdengar dari tengah Alas Purwo. Konon banyak orang hilang dalam keadaan tak bernyawa di Pantai Pancur samudra Kidul yang berhimpitan dengan Alas Purwo. Kanjeng Ratu Kidul beristana di Kraton Soko Domas Bale Kencono. Terletak di dasar laut. Terbuat dari bahan serba emas. Indah mewah megah gagah. Tiap hari Sabtu Wage berkunjung ke Alas Purwo untuk enggar enggar penggalih. Disertai dengan wadya bala. Prajurit Ratu pantai selatan disebut Nyi Roro Kidul berbusana ijo lembayung.

Kuda Sembrani adalah titihan resmi Kanjeng Ratu Kidul. Saat berwisata di Alas Purwo berwahana kuda Sembrani lengkap dengan iringan prajurit. Angin sumilir mengiringi Sri Ratu. Orang menyebut sebagai lampor. Pelan pelan angin sumilir ini berubah kayaknya barat lesus. Ini akibat perbawa Kanjeng Ratu Kidul.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *