Termasuk tradisi Tetaken yang biasanya dihelat di perbukitan Gunung Limo, Bambang juga berharap akan terus dilestarikan. Sebab selain mengandung unsur sejarah, juga menjadi wahana edukasi bagi anak cucu kelak.
“Sekali lagi sebagai pemerhati budaya serta seni bela diri pencak silat, saya sangat setuju ksbijakan Mas Aji itu. Terus kembangkan namun tetap pada koridor sejarah. Jangan sampai ada yang menyimpang dari sejarah yang ada,” pesan sesepuh sebuah perguruan pencak silat ternama di Pacitan ini.
Demikian juga bagi masyarakat atau para pemuka agama , diharapkan untuk tidak berpandangan negatif atas prosesi sebuah budaya. Suatu misal dalam sebuah prosesi dibarengi dengan bakar menyan atau dupa.
Bakar menyan jangan diartikan syirik atau hal-hal mistik untuk mendatangkan makhluk halus. Ini sebuah budaya atau tradisi agar suasana menjadi semakin harum tanpa terkontaminasi bau-bau tak sedap lainnya. “Bakar menyan itu untuk mengharumkan suasana. Atau membuat suasana baru yang lebih nyaman. Jangan diartikan ngundang setan.
Kalau sudah harum, akan tercipta keheningan yang membuat prosesi budaya menjadi lebih sakral. Nggak ada hubungannya dengan mistik, klenik atau lainnya,” jelas Bambang. (Red/yun).
