Menanamlah

Ibu dan Bapak mengajarkan kepada anak-anak mereka belajar untuk tidak menebang sembarangan. Anak-anak berhimpun menjaga daun-daun dari petaka dan bencana dari para pendatang. Mereka menjadi perisai dan hidup dalam genggaman hijau dan beningnya air di setiap celah bebatuan. Setiap pagi anak-anak berebut embun ketika matahari masih berselimut halimun.

Menanamlah walau hanya sebatang dari setiap orang. Boleh pagi dan petang. Agar Bumi tak terus mengerang. Menanamlah
dari hati dan pikiran yang tenang sembari membacakan doa-doa kepada yang Maha Pengasih dan Penyayang. Esok pohon-pohon itu berbuah. Satwa-satwa ramai bersuka ria di saat menyambut cahaya surya yang menembus warna pucuk-pucuk daun muda. Mata air mengalir di ketiak bebatuan, dingin dan bening. Ranting-ranting pohon pecah di dahan menyatukan irama kumbang yang menari-nari di kitaran kelopak bunga hutan.

Pagiku, pagimu, pagi kita datang berbilang-bilang.Membawa kabar hutanku, hutanmu, hutan kita datang. Pohonku, pohonmu, pohon kita tumbuh berkembang di tangan-tangan yang ringan, dan hati yang lapang. Tempat mereka, anak cucu, yang percaya alam perlu seimbang. Alam turut menjaga kehidupan dari tubuh yang berkembang.

Anak-anak yang pulang usai menanam tentu tak pernah diam. Esok merawatnya jadi mata pelajaran dari sekolah langsung di alam. membawa bekal untuk esok tak kesal dari mahaguru pengalaman yang tak pernah hilang dan terlupakan. Walau zaman berganti zaman. Pepohon tetaplah harapan.

2016
Oppungleladjingga

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *