Beijing, Jadi Saksi Bisu Awal Kali Rekomendasi Pencalonan Bupati Indartato Sampai Ke Telinga IWA. Begini Kisahnya
Pacitan, Liputan 68.com- Beijing, Ibu Kota Tiongkok, China menjadi saksi bisu awal kali berita turunnya surat rekomendasi pencalonan Bupati Indartato, sampai ke telinga Indra Widya Agustina.
IWA begitu kakak kandung dari Bupati Pacitan, Raden Mas Tumenggung Indrata Nur Bayuaji akrab disapa mengisahkan, pertarungan berat harus ia lalui untuk memperjuangkan nama Indartato agar bisa lolos mendapatkan kepercayaan dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon bupati yang diusung oleh Partai Demokrat.
“Perjuangan berat bagi Pak In (Imdartato) sebelum akhirnya berhasil menerima mandat rekomendasi dari Pak SBY kala itu.
Banyak kabar-kabar negatif dari beberapa pihak di Pacitan tentang Pak In yang tersampaikan melalui pesan singkat (SMS) kepada almarhumah tante (Ani Yudhoyono, Red) kala itu. Dan itu (informasi negatif) sering kali dikirimkan,” cerita IWA saat ditemui awak media di kediaman salah seorang pengusaha di Pacitan, Kamis (12/10).
Meski begitu, tekad dan keyakinan IWA untuk memperjuangkan Indartato bukannya surut namun ia semakin yakin kalau Indartato memang layak untuk menerima surat rekomendasi sebagai calon bupati yang diberangkatkan oleh Demokrat.
Keyakinan itu juga tak lepas dari peran adiknya Indrata Nur Bayuaji, yang terus berkoordinasi ketika Indartato mendapatkan kampanye hitam dari rival politiknya.
Maklum saja, sambung IWA, ketika itu calon lain yang ingin berebut rekomendasi dari Demokrat juga tak sedikit. “Saya sering kali ditegur sama Tante, Ndra begini ya calon yang kamu jagokan, seraya mengirim balik SMS yang banyak bercerita hal negatif tentang Pak In.
Sebelum saya jawab, SMS itu selalu saya bicarakan dulu sama Mas Aji (Indrata Nur Bayuaji). Setelah ada kesepakatan sama adik saya, baru SMS itu saya balas ke tante. Singkat cerita, saya dan Mas Aji selalu membela Pak In dan meyakinkan ke tante kalau Pak In tidak seperti yang dibicarakan itu,” beber pria yang detik ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Demokrat Jatim.
Kasak-kusuk yang menyerang Indartato tak hanya berhenti sampai disitu. Semakin kuat IWA meyakinkan SBY dan Ani Yudhoyono, semakin sering pula SMS negatif terkirim ke Cikeas.
Hingga akhirnya, bertepatan dengan momentum kunjungan kerja Presiden SBY ke Beijing, secara diam-diam IWA ikut dalam rombongan kepresidenan.
Sesampainya di Tiongkok, ternyata untuk bisa menemui SBY dan Ibu Negara tak semudah yang ada dalam benak pikiran IWA. Namun ia tak kurang akal, bagaimana sebisa mungkin bertemu dengan SBY atau setidaknya Ani Yudhoyono agar masalah rekomendasi pencalonan Bupati Pacitan bisa jatuh ke tangan Indartato.
“Alhamdulillah lewat bantuan Debus Tiongkok, saya bisa bertemu dengan tante di sebuah ruangan khusus.
Ketika duduk bersama satu meja, tante menginformasikan kalau surat rekomendasi pencalonan Bupati Pacitan sudah di tandatangani sama Om’mu (SBY). Ya untuk itu (Indartato),” cerita IWA.
Sangking bungahnya mendengar kabar dari Ani Yudhoyono, kalau rekomendasi pencalonan Bupati Pacitan jatuh ke tangan Indartato, IWA langsung menghubungi adiknya, Mas Aji, agar mengutus Rakhman Wijayanto, mantan Kades Arjowinangun, untuk meneruskan kabar tersebut kepada Indartato.
“Mas Wiwit (Rakhman Wijayanto) yang saat itu dimintai bantuan sama Mas Aji untuk menyampaikan kabar tersebut ke Pak In. Begitu mendengar kabar tersebut Pak In begegas ke belakang dekat sebuah sumur dan menangis haru. Saat itu kediaman Pak In kebetulan pas banyak tamu,” terang IWA.
Dari kilas balik perjuangan duet kakak beradik, IWA dan Mas Aji, sehingga berhasil menghantarkan Indartato terpilih sebagai Bupati Pacitan selama dua periode.
Tak hanya itu, Indartato juga mendapat kepercayaan dari Cikeas sebagai Ketua DPC Demokrat Pacitan selama dua periode kepemimpinan. Pun putra sulungnya, Eko Prasetya Wahyudiarto lolos terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jatim selama dua periode berjalan. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan