Berbagai dinamika politik yang dihadapi PDI-P saat ini harus dijadikan pelajaran untuk mengoreksi perjalanan sejarahnya. Memeringati HUT ke-51 PDI-P adalah memeringati deklarasi fusi kelima partai. PDI-P itu bukan hanya kelanjutan dari PNI, namun kelanjutan dari PNI, Murba, IPKI, Parkindo, dan Partai Katolik. Maka PDIP harus proporsional dalam memberi penghargaan kepada semua deklarator fusi, termasuk memerjuangkan semua deklarator fusi sebagai pahlawan nasional di bidang politik dan demokrasi. PDI-P oleh Orde Baru dipaksa menjadi rumah politik kaum nasionalis, maka PDI-P harus konsisten dengan latar belakang sejarah itu.
Selamat mengikuti langkah politik Jokowi Bung Ara, kami masih akan tetap dan terus di sini, di PDI-P melanjutkan perjuangan yang dirintis pendahulu kami, Sabam Sirait yang telah membawa aspirasi politik umat Kristen lewat Parkindo melebur dan menyatu di PDI-P.
PDI-P selalu terbuka sebagai tempat pulang para kaum nasionalis. Dan PDI-P juga selalu siap berhadapan dengan siapapun yang ingin merubah arah dan tujuan bangsa ini. Kesucian politik yang digagas oleh Sabam Sirait senior kami, akan kami jaga dan rawat di PDI-P, sebab hanya PDIP satu-satunya tempat perjuangan dan perwujudan politik yang suci. ***
*Penulis: Sutrisno Pangaribuan (Kader PDI-P, Kader Perjuangan Politik Parkindo)
