“Tujuannya untuk memberikan pengetahuan tentang perubahan iklim terhadap kegiatan masyarakat, memperluas jaringan komunikasi atau sinergi sehingga informasi yang diberikan pleh BMKG dapat dimanfaatkan dengan baik,” terang Adji.
Lebih lanjut, Adji mengatakan, untuk dapat meningkatkan pemahaman dan mampu menyebarluaskan isu perubahan iklim dan perubahannya di masyarakat, komunitas kreatif, para tokoh agama, dan kaum disabilitas serta dapat diwujudkan dalam aksi nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui aksi sederhana.
Menurut Adji, perubahan iklim merupakan isu mendesak yang dihadapi dunia saat ini. Berbagai dampak seperti peningkatan suhu, perubahan curah hujan, kenaikan permukaan laut, kekeringan, dan banjir sudah mulai terasa.
“BMKG bekerjasama dengan berbagai pihak dalam kegiatan literasi perubahan iklim untuk memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat NTT,” tuturnya.
Lanjut Adji, iklim di NTT cenderung tropis kering dengan musim kemarau yang panjang, sekitar 8 bulan setiap tahun, dan curah hujan yang tidak merata.
Sementara itu Manajer Advokasi dan Kampanye Yayasan PIKUL, Dina Soro mengatakan, salah satu tujuan kegiatan hari ini agar informasi perubahan iklim itu sampai ke mereka kemudian mereka mampu dalam aktivitas kegiatannya itu menterjemahkan apa yang didapatkan di sini dalam kegiatan kerja mereka dan juga dari perwakilan agama itu juga membantu dalam membuat kotbah mungkin itu menjadi perpanjangan informasi ke umat.
“Melalui literasi iklim ini harapannya isu iklim mudah dipahami oleh semua masyarakat seperti nelayan, anak muda karena bicara isu iklim itu dalam kerja-kerjanya sebenarnya mereka sudah melakukan cuma membedakan antara mitigasi atau adaptasi ini kita sudah berkontribusi secara tidak langsung terhadap pola perubahan seperti itu. Dan selama ini kita lihat memang kelompok-kelompok ini kurang dilibatkan sehingga hari ini kami hadirkan mereka,” katanya.
“Ketika mereka pulang dan mampu menjadi agen kanter informasi hoax itu salah satu keberhasilan menurut kami, kemudian ketika project-projct mini yang dilakukan itu kalau berdampak itu juga kami sangat bersyukur artinya kegiatan ini berhasil tidak hanya teori tetapi pada praktikya juga bisa terlaksana,” tutup Dina.
Untuk diketahui, kegiatan Literasi Iklim ini diikuti oleh kelompok masyarakat, komunitas kreatif, tokoh agama, dan kaum disabilitas sebanyak kurang lebih 50 peserta.***
