Kemiskinan di sisi lain terjadi karena pada dasarnya seseorang itu miskin sedari awal. Sehingga pemerintah harus hadir dalam membantu masyarakat keluar dari kemiskinan.
“Nah dasarnya kemiskinan itulah kehadiran penguasa untuk memberikan kehidupan,” kata Edy Rahmayadi.
Dikatakan dia, seseorang tidak boleh pasrah menghadapi kemiskinan.
“Pak kami tak punya apa-apa, kami susah. Eh emakku itu tukang jual kue, bapakku adalah sersan pangkatnya,” ujarnya.
“Tapi jangan diketawai emakku jual kue, bapakku sersan, anaknya jenderal. Emakku jual kue anaknya gubernur,” terang Edy Rahmayadi yang disambut tepuk tangan meriah masyarakat yang hadir.
Harapan agar masyarakat terangkat dari garis kemiskinan, disampaikan sejumlah warga, di antaranya Zakaria Tambunan, Irfansyah Gultom, Rahmah Nasution dan Sufinem.
“Kalau bisa bikin gratislah pendidikan. Kami payah sekali menyekolahkan anak, mohonlah, pak,” ujar Sufinem mencontohkan sulitnya kehidupan ekonomi masyarakat.
Menanggapi hal itu, Edy Rahmayadi telah menyiapkan program mendongkrak kesejahteraan warga melalui bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pertanian, ekonomi dan pariwisata.
Sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk miskin di Asahan baik secara absolut maupun secara persentase pada 2023, mencapai sekitar 61,69 ribu jiwa atau sekitar 8,21% dari total jumlah penduduk 802.563.
Sebelumnya pada 2019 jumlahnya 70,53 ribu jiwa (9,68%), pada 2020 sebanyak 66,32 ribu jiwa (9,04%), pada 2021 sebanyak 69,29 ribu jiwa (9,35%) dan pada 2022 sebanyak 64,49 ribu jiwa (8,64%). (*)

