Kerah Bajunya Pernah Ditarik Saat Meliput, Wartawan Keluhkan Tindakan Kasar Walpri Wali Kota Medan

MEDAN — LIPUTAN68.COM — Kebebasan pers yang dijamin Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 kembali mendapat tantangan di lapangan. Kali ini, sorotan tertuju pada pengawal pribadi (walpri) Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, yang dinilai bertindak berlebihan hingga mengganggu kerja-kerja jurnalistik.

Sejumlah wartawan mengeluhkan sikap kasar walpri saat meliput kegiatan Wali Kota Rico Waas, yang dikenal publik sebagai sosok humble dan terbuka kepada semua kalangan. Ironisnya, sikap humanis sang wali kota justru tak tercermin dari perlakuan para pengawalnya.

Insiden paling disorot terjadi saat acara Ramadhan Fair 2025 baru-baru ini, ketika seorang wartawan Tribunmedan.com mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Saat hendak merekam video wawancara, kerah bajunya ditarik paksa oleh salah seorang walpri berkulit sawo matang. Aksi ini sontak mengundang kecaman karena dinilai tidak etis dan bertentangan dengan semangat demokrasi dan kebebasan pers.

“Walpri sekarang kok aneh kali. Kalau nanya dari mana, siapa, nadanya kok kasar? Udah macam betul kali, heran kita karena Pak Wali humble, humanis, kenapa walprinya macam militer perang,” keluh seorang jurnalis media elektronik yang kerap meliput di lingkungan Pemko Medan.

Keluhan serupa juga disampaikan jurnalis televisi yang merasa pendekatan pengamanan wali kota sudah melebihi ketatnya pengawalan ala Paspampres. Ia menyebut sikap intimidatif walpri kerap membuat wartawan kehilangan momen penting dalam peliputan.

“Kami minta Pak Wali Kota mengevaluasi kinerja walprinya. Pengawalan seperti ini justru menimbulkan jarak antara pemimpin dan masyarakat. Sikap mereka tak mencerminkan kepribadian Pak Wali yang terbuka dan bersahabat,” ujar wartawan senior itu.

Selain terkesan arogan, sikap kurang ramah walpri wali kota turut dirasakan para personel Satpol PP. Baik mereka yang bertugas di balai kota maupun saat mendampingi agenda wali kota di lapangan.

“Kami bekerja sesuai perintah dan SOP (standar operasional prosedur) Pemko Medan-lah, Bang. Ya kadang kena tegur, biasalah, mungkin perlu koordinasi antara walpri dan Satpol PP yang bertugas supaya klop dan sesuai dengan arahan atasan,” ujar salah seorang personel Satpol PP yang minta namanya dirahasiakan, baru-baru ini.

Arogansi para walpri ini juga mendapat sambutan negatif masyarakat saat wali kota meninjau Pasar Simalingkar pada Kamis pagi, 10 April 2025. Amatan wartawan di lapangan, masyarakat sampai menyebut bahwa pengamanan oleh walpri sangat berlebihan.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *