Gerakan Hijau Desa Litamali: Tanam Pohon Bringin untuk Selamatkan Hutan Adat Rawely dan Sumber Air Wemasa
NTT, Liputan68.com- Semangat menjaga kelestarian alam ditunjukkan oleh aparatur Desa Litamali bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dengan menanam anakan pohon bringin di kawasan Hutan Adat Rawely dan sumber mata air Wemasa, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, pada Sabtu, (19/7/2025).
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mengantisipasi kerusakan lingkungan serta mendukung ketersediaan sumber daya air bagi masyarakat.
Kepala Desa Litamali, Emanuel Daok Nahak, menyebut kegiatan penanaman pohon ini sebagai momentum penting yang menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan.
“Ini adalah kegiatan yang luar biasa karena mampu menggerakkan semua pihak, sehingga masyarakat merasa memiliki dan sadar akan pentingnya hutan adat serta sumber mata air Wemasa,” ujarnya.
Hutan Adat Rawely, yang menjadi lokasi utama kegiatan ini, merupakan kawasan hutan bersejarah yang sudah ada sejak zaman kerajaan.
Emanuel menegaskan bahwa hutan ini adalah paru-paru Desa Litamali yang harus dijaga kelestariannya.
“Hutan ini bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga pelindung ekosistem yang memberi kehidupan bagi masyarakat,” katanya.
Sumber mata air Wemasa yang berdampingan dengan hutan adat Rawely juga menjadi perhatian utama dalam kegiatan ini.
Air dari sumber Wemasa menjadi penopang kehidupan bagi sebagian warga Desa Litamali.
“Mata air ini adalah sumber kehidupan bagi warga. Jika hutan di sekitarnya rusak, mata air pun bisa mengering. Karena itu, kegiatan penanaman ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan alam,” jelas Emanuel.
Kegiatan penanaman anakan bringin ini didanai melalui Dana Desa Tahun Anggaran 2025, khususnya dari alokasi program perubahan iklim.
Pemerintah Desa Litamali berkomitmen untuk memanfaatkan dana desa bukan hanya untuk pembangunan infrastruktur, tetapi juga untuk program pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Ke depan, aparatur desa bersama masyarakat berencana melakukan perawatan berkelanjutan terhadap pohon-pohon yang sudah ditanam.
Harapannya, hutan adat dan sumber mata air Wemasa tetap terjaga fungsinya sebagai penyangga kehidupan, sekaligus menjadi contoh nyata bahwa kesadaran lingkungan bisa dimulai dari desa.*** (Eki Luan)

Tinggalkan Balasan