NTT, Liputan68.com- Stadion Oepoi Kupang sore itu, Sabtu (30/8/2025), dipenuhi riuh sorak pendukung.
Final Piala Menpora U-15 Regional NTT 2025 mempertemukan PS Malaka U-15 atau yang dikenal dengan julukan Manu Meo Malaka, melawan Bouyant FC Kota Kupang.
Pertandingan berjalan sengit sejak menit pertama. Kedua tim tampil penuh semangat, saling menyerang dan bertahan dengan gigih.
Namun, pada menit ke-37, kebuntuan akhirnya pecah. Nomor punggung sembilan PS Malaka, Delon Fahik, berhasil mencatatkan namanya di papan skor.
Dengan sepakan terukur, ia menjebol gawang lawan dan mengubah kedudukan menjadi 1-0.
Gol tersebut langsung disambut dengan sorak-sorai tak terbendung dari pendukung Malaka yang memadati tribun.
Bendera Manu Meo berkibar, yel-yel kemenangan menggema, dan atmosfer stadion berubah menjadi pesta kebanggaan bagi masyarakat Malaka.
Hingga peluit panjang berbunyi, skor 1-0 bertahan, memastikan PS Malaka U-15 sebagai Juara 1 Piala Menpora U-15 Regional NTT 2025.
Kemenangan ini otomatis mengantarkan PS Malaka U-15 sebagai wakil Nusa Tenggara Timur di tingkat nasional yang akan digelar di Surabaya.
Usai pertandingan, para pemain kompak menyerukan kalimat penuh semangat: “Surabaya, Kami Datang!”
Direktur Olahraga PS Malaka, dr. Dion Bria Seran, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas prestasi tersebut.
“Anak-anak ini telah menulis sejarah baru untuk Malaka. Mereka menunjukkan karakter, mental juara, dan semangat Manu Meo yang sesungguhnya. Gelar juara ini adalah buah dari kerja keras, disiplin, dan doa seluruh masyarakat Malaka,” ujarnya dengan penuh haru.
Ia menegaskan bahwa PS Malaka siap melangkah lebih jauh.
“Kami tidak hanya datang ke Surabaya untuk berpartisipasi, tapi untuk bersaing dan memberi yang terbaik. Dukungan masyarakat adalah kekuatan besar bagi tim ini, dan kami akan membawa nama Malaka serta NTT dengan penuh kebanggaan,” tutup Dion Bria Seran.
Dengan kemenangan ini, PS Malaka U-15 bukan hanya membawa pulang trofi, tetapi juga harapan besar masyarakat Malaka.
Langkah menuju Surabaya kini menjadi awal dari mimpi yang lebih besar: mengibarkan nama Malaka di pentas nasional.***








