Oppungleladjingga: Sastra yang Mencintai Alam dan Peradaban

di dusun tunggurono”.

Adapun kata “nusantara”, “hamparan sawah”, “mulai berbuah” dan “dusun tunggurono” berasosiasi pada pelukisan penyair tentang suasana alam Dusun Tunggurono yang indah, sehingga merefleksikan citra bumi Indonesia yang hijau dan subur.

Selanjutnya, larik-larik puisi tersebut bercerita tentang kombinasi aspek pengalaman visual dan rabaan penyair yakni, sebagai berikut:

jembatan panjang yang melintang di atas

sungai wampu yang tenang”.

Kata “jembatan panjang”, “melintang di atas” dan “sungai wampu yang tenang” menggambarkan tentang tenangnya suasana Sungai Wampu di bawah bangunan jembatan panjang yang megah dan teduh.

Pada bait selanjutnya, Oppungleladjingga melukiskan tentang peradaban masyarakat setempat sekaligus pertunjukan seni budayanya antara lain, sebagai berikut:

“bunyi sentuhan angklung rampak akordion kecik

seketika melantun tanjung katung

gaung harmoni kehidupan dari balik rumpun-rumpun aur di huta tinggi

Kata “angklung”, “akordion kecik” dan “melantun tanjung katung” menceritakan tentang pertunjukan seni menyanyikan lagu Tanjung Katung, yang diiringi oleh alat musik tradisional berupa angklung dan akordion kecil. Sedangkan kata “harmoni kehidupan”, “rumpun-rumpun aur” dan “huta tinggi” menggambarkan tentang suasana peradaban masyarakat Huta Tinggi damai dan tenteram, meskipun bermukim di sekitar rumpun bambu (hidup secara sederhana).

Pada bait terakhir puisi, penyair bercerita tentang perasaan puas dan bahagianya melalui ungkapan-ungkapan representasi simbolis yang cenderung bersifat ambigu yakni, sebagai berikut:

“aku akan bangun lebih pagi menjaga embun setiap hari

agar tak jatuh karena terik matahari

Kata “bangun lebih pagi” dapat dimaknai sebagai ekspresi kebahagiaan penyair, yang melihat suasana alam yang indah ketika pagi hari; kata “menjaga embun” bermakna usaha mempertahankan suasana bermasyarakat yang damai; kata “tak jatuh” merupakan representasi simbolis terkait harapan pelestarian alam sekitar. Sedangkan kata “terik matahari” dapat berasosiasi pada sikap serakah maupun huru-hara.

Pembahasan aspek-aspek spiritual dan profetik-religius sepertinya jarang sekali luput dari banyak buah karya Oppungleladjingga. Pada beberapa puisi karyanya seperti Di Langitmu Teduh (2014), Di Antara Malam (Ada Rindu yang Menunggu) (2015) dan Lukisan Malam (2016), penyair mengekspresikan perasaannya dengan berbagai rangkai arketipe keilahian. Selain itu, terdapat pula pesan-pesan moral yang mengajak pembaca untuk tetap bersyukur, sekaligus mengintrospeksi diri. Adapun hal tersebut tersimak pada puisi Di Langitmu Teduh yakni, sebagai berikut:

kupeluk tubuh subuh erat dalam cumbu hangat seluruh tubuh aku tengadah membaca kalam-Mu

Kata “kupeluk …subuh” merepresentasikan sikap seorang muslim dalam melaksanakan ibadah sholat subuh’ kata “erat dalam cumbu” dimaknai sebagai kekhusyukannya dalam melantunkan bacaam sholat, sehingga merasa dekat dengan Allah Swt; kata “hangat seluruh tubuh” bermakna perasaan tenang yang diperoleh ketika melaksanakan sholat; kata “terngadah” merepresentasikan posisi bersatunya kedua telapak tangan yang menghadap ke arah atas ketika sedang memanjatkan doa. Sedangkan kata “kalam-Mu” merepresentasikan ayat-ayat doa, yang dipersembahkan penyair kepada Allah-Swt.

Pada puisi Di Antara Malam (Ada Rindu yang Menunggu) (2015), Oppungleladjingga menyampaikan ungkapan-ungkapan batin dalam berupa representasi simbol spiritual-religius, sekaligus mengutarakan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang introspektif antara lain, sebagai berikut:

berulang kali rukuk serasa diri tak juga tunduk

dalam kasih karuniaMu: takluk”.

Kata “berulang kali rukuk” dan “diri tak juga tunduk” merupakan paradoks introspektif yang menggambarkan keadaan di luar ekspektasi berupa pelaksanaan ibadah sholat seyogianya membuat seorang muslim menjadi lebih taat dan rendah hati, bukan kebalikannya. Sedangkan kata “kasih karuniaMu” dan “takluk” merepresentasikan arketipe rezeki yang diperoleh penyair dari Allah Swt, serta anjuran kepada dirinya agar menjadi muslim yang taat.

Pada puisi Lukisan Malam (2016), ditemui kombinasi ungkapan eksistensial dan introspektif, sekaligus pesan-pesan moral yang dibalut dengan imaji-imaji spiritual, sebagai berikut:

“aku tersungkur

pada dengkur yang mengukur diri tentang rasa syukur dan kufur

adakah bayang-bayang itu?

karena sesungguhnya diri tak pernah sendiri”.

Kata “tersungkur” dan “dengkur” berasosiasi simbolis pada keadaan menerima kesialan akibat berperilaku lalai (dalam melaksanakan ibadah); kata “mengukur diri” bermakna instropektif guna mengetahui batas kemampuan diri. Sedangkan kata “syukur dan kufur” merupakan paradoks eksistensial yang mengajak pembaca untuk merenungi sikap dalam mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah Swt, bukan justru menjadi seseorang yang kufur. Lebih lanjut, kata “bayang- bayang” merupakan representasi arketipe yang bermakna kehadiran (presence) Allah Swt yang tidak pernah menampakkan wujud-Nya. Sedangkan kata “diri tak pernah sendiri” dapat dimaknai sebagai ungkapan eksistensial, dimana manusia sejatinya selalu dalam pantauan Allah Swt beserta para malaikat-Nya.

Setelah menyimak kekhasan struktur dan konten dari puisi-puisi gubahan Oppungleladjingga, dapat disimpulkan bahwa Zulkarnain Siregar sejatinya telah memfungsikan sastra sebagai medium pengungkapan perasaan dan nostalgia masa-masa keemasan, sekaligus potret atas berbagai keindahan alam, serta uniknya peradaban masyarakat setempat. Melalui karya- karya romantiknya tersebut, pembaca diajak untuk ‘bernyanyi’ melalui larik-larik puisi yang sarat akan permainan rima asonansi, aliterasi dan konsonansi bernada liris. Terlebih lagi, dalam kemahirannya dalam merangkai struktur bait sastra modern Indonesia yang bersifat estetis, ekspresif dan dinamis.

Puisi-puisi karya Oppungleladjingga sangat kaya akan nilai-nilai edukasi moral, adat istiadat masyarakat Timur, spiritual, religi, representasi simbolis, dan lain-lain. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan jika puisi-puisi karya Zulkarnain Siregar tersebut diposisikan sebagai bentuk upaya nyata dari revitalisasi sastra yang berfungsi meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melembutkan hati nurani masyarakat, serta memotivasi kaum muda untuk lebih memaknai peran penting dan keutamaan sastra.

Daftar Pustaka

Bakhtin, M. (1981). Discourse in the Novel. Terjemahan M. Holquist, & C. Emerson. 1981. Austin: University of Texas Press.

Lukács, G. (1916). The Theory of the Novel: A Historico-Philosophical Essay on the Forms of Great Epic Literature. Terjemahan A. Bostock. 1974. Massachusetts: The MIT Press.

Selden, R. (1985). A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Kentucky: University Press of Kentucky.

Siregar, Z. (2015). Pulang ke Hulu (Antologi Puisi). Medan: Yayasan Al-Hayat.

Siregar, Z. (2022). Orang-orang Perbatasan: Sebuah Buku dalam 62 Puisi (Antologi Puisi). Medan: Swarnadwipa.

Wellek, R., & Warren, A. (1977). Theory of Literature, 3rd Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *