Liputan BERITA

Lancur Susanto Bicara Lugas: Pilkada Bukan Sekadar Mahal, Demokrasi Harus Lebih Matang

Ditulis oleh Liputan68 pada 20 Januari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com-Wacana pengembalian Pilkada melalui mekanisme keterwakilan kembali mengemuka dan memantik perbincangan serius di ruang publik. Di tengah derasnya narasi soal mahalnya ongkos politik, Ketua DPD Partai Golkar Pacitan, Lancur Susanto, menyuarakan pandangan yang lebih mendasar dan reflektif.

Menurut Lancur, Pilkada tidak semestinya disederhanakan hanya sebagai persoalan biaya yang membebani anggaran maupun peserta kontestasi. Ia mengakui bahwa realitas politik elektoral memang menuntut ongkos besar, namun fokus utama seharusnya diarahkan pada kualitas sistem demokrasi yang dijalankan.

“Persoalannya bukan semata mahal atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana demokrasi itu berjalan secara efektif, rasional, dan benar-benar menghasilkan pemimpin yang bekerja untuk rakyat,” ujar Lancur, yang juga Wakil Ketua DPRD Pacitan ini, Selasa (20/1/2026).

Ia menilai, perdebatan mengenai mekanisme Pilkada, apakah langsung atau melalui DPRD, harus ditempatkan dalam bingkai tata kelola demokrasi yang lebih matang. Demokrasi, kata dia, tidak cukup diukur dari prosedur pemilihan semata, tetapi dari kemampuan sistem tersebut melahirkan kepemimpinan yang berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Lancur juga mengingatkan bahwa tingginya biaya politik kerap melahirkan ekses berkepanjangan, mulai dari pragmatisme politik hingga beban balas jasa pasca kontestasi. Karena itu, diperlukan keberanian untuk menata ulang mekanisme demokrasi agar lebih sehat dan berorientasi pada kepentingan publik jangka panjang.

“Jadi bukan hanya sekadar soal biaya mahal, tetapi bagaimana kita membangun tata kelola demokrasi yang lebih matang dan beradab,” tegasnya.

Pernyataan Ketua DPD Golkar Pacitan tersebut menambah dimensi baru dalam diskursus Pilkada nasional. Lebih dari sekadar perdebatan teknis, wacana ini menjadi cermin kegelisahan publik terhadap arah demokrasi lokal, apakah tetap bertumpu pada euforia prosedural, atau beranjak menuju kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya.(Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian