Pacitan,Liputan68.com-Rangkaian Hari Jadi Kabupaten Pacitan ke-281 Tahun 2026 diwarnai dengan penyelenggaraan Gelar Budaya Luwung, Majang Keris dan Majang Akik, sebuah agenda budaya yang tidak sekadar menampilkan pusaka, tetapi juga mengajak masyarakat memahami nilai sejarah dan filosofi leluhur Pacitan.
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro tersebut menampilkan berbagai benda pusaka tradisional, mulai dari keris, batu akik hingga artefak budaya lain yang sarat makna simbolik.
Pameran ini menjadi ruang edukasi publik tentang tradisi lelaku, sebuah praktik spiritual dan etika hidup yang dijalani nenek moyang Jawa sebagai bentuk pengendalian diri, kedekatan dengan alam, dan pencarian kebijaksanaan.
Ketua DPRD Pacitan Arif Setia Budi atau akrab disapa ASB yang berkesempatan hadir menyampaikan bahwa pusaka-pusaka yang dipamerkan bukan sekadar benda mati, melainkan penanda perjalanan sejarah dan kebudayaan Pacitan. Menurutnya, setiap pusaka lahir dari proses panjang, mulai dari tirakat, doa, hingga penguasaan nilai moral oleh para empunya.
“Memang ada aura yang terasa dari beberapa pusaka ini. Bukan untuk dimitoskan secara berlebihan, tetapi sebagai pengingat bahwa leluhur kita memiliki laku hidup yang kuat, disiplin, dan penuh tanggung jawab,” ujar ASB, Rabu (4/2/2026).
ASB yang hadir bersama Sekretaris Daerah Pacitan, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, menegaskan bahwa tradisi lelaku merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Pacitan. Lelaku bukan sekadar praktik spiritual, melainkan pendidikan karakter yang menanamkan kesabaran, ketekunan, serta penghormatan terhadap kehidupan.
“Pacitan ini sejak dulu dikenal sebagai tanah dengan banyak tokoh sakti mandraguna. Artinya, daerah ini memiliki tradisi keilmuan, kebatinan, dan kepemimpinan yang kuat. Nilai-nilai itulah yang perlu kita wariskan, bukan sekadar kisah mistiknya,” jelasnya.








