Pendidikan karakter harus inklusif, progresif, dan berdaya saing global.
Kebijakan ini sekaligus menjadi kritik konstruktif terhadap pola lama yang menjadikan biaya sebagai variabel utama kegiatan. Kwarda Sumut memilih membangun kolaborasi lintas sektor, memperkuat kemitraan, dan mengoptimalkan sumber daya organisasi agar peserta tetap terlindungi dari beban finansial.
“Kalau kita serius membangun generasi, jangan mulai dengan membebani mereka. Kita mulai dengan membuka jalan,” pungkas Kak Dikky.
Dengan pendekatan ini, Jambore Daerah Sumatera Utara diproyeksikan bukan sekadar perkemahan tahunan, tetapi simbol keberanian mengambil kebijakan yang berpihak pada generasi muda.
Jika ingin lebih keras lagi, saya bisa buatkan versi yang menekankan aspek “keadilan sosial” dan “tanggung jawab negara dalam pendidikan karakter generasi muda.”
(LP-01)
