Pacitan, liputan68.com – Dua hari lalu, hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan dan sekitarnya. Butiran air hujan, diperkirakan sebesar 176 mm.
Hujan lebat pertama yang turun setelah kemarau panjang tersebut membuat debit aliran sungai Jelok terus bertambah. Hal itu mengakibatkan dua bendung di sepanjang Sungai Jelok tersumbat oleh tumpukan sampah. Kedua bendung tersebut, yaitu Bendung Sukoharjo dan Bendung Kembang. Bahkan beberapa desa di sekitar Sungai Jelok mengalami banjir, sehingga sebagian warganya memilih untuk mengungsi.
Tumpukan sampah yang menyumbat dua bendung tersebut, terdiri dari sampah plastik, limbah rumah tangga, bambu, akar pohon, dan batang kayu dengan ukuran besar.
Kabid Sumber Daya Air, Dinas PUPR Kabupaten Pacitan, Yudo Tri Kuncoro mengatakan, desain bendung yang merupakan bendung gerak dengan pintu tersebut, membutuhkan perhatian khusus dalam pengoperasiannya. Sebab, harus diberlakukan buka-tutup pintu terutama pada musim hujan. “Keterlambatan dalam membuka pintu bendung, mengakibatkan naiknya muka air sungai di hulu bendung. Sehingga dapat melimpas ke permukiman penduduk,” kata Yudo, Selasa (3/11).
Selain itu, sampah-sampah akan tertahan pada pintu-pintu bendung. Menyikapi kasus tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Pacitan berkoordinasi dengan petugas OP SDA III Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, bertindak cepat membuka pintu bendung Kembang yang belum seluruhnya terbuka. “Selain itu sejumlah warga juga melakukan kerja bakti membersihkan tumpukan sampah yang menyumbat bendung Sukoharjo pasca kejadian banjir.
