Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)
A. Berdirinya Propinsi Bengkulu.
Daerah Bengkulu pada jaman dulu dibina oleh Kerajaan Inderapura, yang berkuasa tahun 800-1911. Berturut turut Kerajaan Air Pura, Inderajati dan Inderapura.
Kerajaan yang terdapat di wilayah Bengkulu berjenis jenis. Sebut saja Kerajaan Sungai Serut, Patpetulai, Balai Buntar, Sungai Lemau, Sekiris, Gedung Agung, Mau Riang. Semua kerajaan ini mendapat pembinaan dari Kasultanan Banten sejak tahun 1685.
Propinsi Bengkulu lahir berdasarkan UU no 9 tahun 1967. Berturut turut para Gubernur Bengkulu yang memerintah dengan bijak bestari.
1. Ali Amin 1968-1974.
2. Abdul Chalik 1974-1979.
3. Suprapto 1979-1989.
4. Razie Yahya 1989-1994.
5. Adjis Ahmaf 1994-1999.
6. Andi Djalal Bahtiar 1999-1999.
7. Hasan Zen 1999-2004.
8. Seman Widjoyo 2004-2005.
9. Agusrin Maryono Najamuddin 2005-2012.
10. Junaidi Hamzah 2012-2015.
11. Suhajar Diantoro 2015-2016.
12. Ridwan Maluk 2016-2017.
13. Rohidin Mersyech 2017-2022.
Latar sosio historis menjadi bahan renungan. Kunjungan budaya di Bengkulu tanggal 13-16 November 2015. Perkenalan dengan daerah Bengkulu sudah dimulai sejak tahun 1979. Program transmigrasi sedang gencar gencarnya dilakukan di Jawa. Kebetulan sekali pejabat Gubernur saat itu adalah Bapak Soeprapto. Beliau pernah menjadi Bupati di Kabupaten Nganjuk. Tidak mengherankan apabila warganya berbondong-bondong menyusul sang Bapak. Perasaan emosional terbangun seolah-olah Nganjuk – Bengkulu amat dekat. Sukses kepemimpinan Bapak Soeprapto berpindah lokasi ke daerah Bengkulu. Dengan sukarela warga Nganjuk bertransmigrasi.
Jarak Nganjuk – Bengkulu terlalu jauh. Pergi untuk bertransmigrasi berarti berpisah untuk selama lamanya. Ketika mau berangkat tentu saja ada rasa haru, kehilangan dan hujan tangis.
Kalimat yang menghibur : ing kana kene tetep bumine Gusti Allah. Padha wae, sing penting slamet seger waras. Begitulah ungkapan yang mujarab untuk menjalankan perpisahan. Rombongan dari desa Mojorembun Rejoso Nganjuk jumlahnya cukup banyak. Dapat disebut di sini keluarga Sarimo, Kadi, Giyar, Madi, Jalal, Bari, Yayuk, Gombak, Sumirah, Naryo, Padi, Puji. Pada kenyataannya mereka berkunjung ke daerah asal sekali dua kali. Bahkan ada yang sampai akhir hayat belum pernah kembali ke desa.
Transportasi tersedia bus lintas Jawa Sumatra yang perlu waktu tempuh 3 hari 3 malam. Perjuangan lewat darat perlu kesabaran. Lantas menyeberang laut. Telpun belum akrab digunakan. Apalagi hp kalau ada berita penting baru disampaikan lewat telegram. Warga transmigran untuk bisa tilik kampung halaman adalah sebuah kemewahan. Contoh perantau yang sudah senior di Lampung adalah Darmi dan Darmo. Setelah 20 tahun merantau, baru pulang ke kampung. Isak tangis pun meledak. Orang berpikir Sumatra itu tempat yang amat jauh. Sulit dibayangkan alam pikiran petani yang dibatasi oleh sawah dan tanaman.
Kini situasi berubah. Berita apa pun mudah tersebar melalui Hp dengan segala kelengkapan. Hubungan keluarga menjadi amat dekat. Kapan saja dan di mana saja bisa sambung. Seiring itu kendaraan pesawat terbang tersedia murah. Tiap hari berkunjung pun dapat asalkan ada tiketnya. Umumnya harga tiket bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Teknologi informasi dan transportasi betul-betul mengubah imajinasi, geografis dan emosi. Sambang sambung srawung berubah pola dan bentuk.
B. Bengkulu Menjadi Tujuan Program Transmigrasi.
Transmigrasi merupakan program pemerintah yang populer sekitar tahun 1970. Definisi transmigrasi menurut guru geografi SMP adalah proses perpindahan penduduk dari satu pulau ke pulau lain dalam satu negara.
Pola pikir anak anak malah tertuju pada lapisan bawah lemah. Orang Jawa ini dipindah oleh pemerintah ke luar pulau Jawa. Mereka tidak punya apa apa di Jawa. Oleh karena itu perlu diberi tanah yang cukup di luar Jawa. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya menjadi tujuan program transmigrasi.
Kebanyakan peserta transmigrasi itu adalah buruh tani. Mereka bertani tanpa punya tanah. Pemerintah menolong nasibnya dengan program transmigrasi. Harapan itu memang mulia.
Pengertian transmigrasi ala guru SMP itu menimbulkan masalah. Apakah pelancong dari Jawa ke Bali tiap hari itu disebut transmigrasi. Pejabat yang berpindah pindah dari satu pulau ke pulau lain juga dinamakan transmigrasi? Anak anak luar Jawa yang kuliah di Yogyakarta juga termasuk transmigrasi. Inilah problem definisi yang mentah.
Oleh karena itu pengertian yang bikin kacau pikiran anak anak. Apalagi program transmigrasi sekarang tidak populer. Anak muda tidak tertarik lagi.
Di banding dengan daerah Kalimantan, Sulawesi dan Papua barangkali Bengkulu amat terkenal di telinga orang Nganjuk. Transmigrasi dari Nganjuk jumlahnya ratusan ribu orang. Mereka beranak pinak di Bengkulu, sehingga orang Jawa jumlahnya lebih dari 80%. Tiap pilkada, untuk pilihan bupati atau gubernur, komunitas Jawa menjadi ajang rebutan. Suara mereka menentukan dalam pilkada.
Embok Yatinem, perempuan desa yang kerap nembang lagu transmigrasi. Syairnya demikian :
Ayo budhal transmigrasi
Ben ndang sugih jagung pari
Sawahe sing amba
Aneng luar Jawa
Sungguh aneh, Embok Yatinem pula yang tidak tertarik sama sekali untuk pergi ke luar Jawa. Analisa dia transmigrasi kurang bisa menguntungkan. Transmigrasi berarti babad alas. Seperti orang buka mbaon atau ladang. Membuka lahan baru perlu energi berlipat ganda. Hitung hitungan ekonomi lebih baik tinggal di Jawa.
Kenangan dengan gadis Bengkulu yaitu Mbak Yeni Haspalnida. Dia adalah mahasiswi jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UGM. Seangkatan dengan Agus Erwan Sulaiman, Heni Ngawi yang masuk pada tahun 1990. Ada lagi dosen Universitas Bengkulu yang bernama Syuplahan Gumay. Orangnya rendah hati dan lucu. Kalau omong pengucapannya selalu mleset. Beliau alumni Fakultas Filsafat UGM program Sarjana dan Magister.
C. Potret Sosial Budaya Masyarakat Bengkulu.
Masyarakat Bengkulu punya seni budaya yang mengagumkan. Ambil contoh seni tari penyambutan, tombak kerbau, putri gadibg cepaka, Andun, kejei, bidadari menimang anak, topeng. Tari tarian Bengkulu ini kerap pentas.
Pengenalan musik meliputi musik dal, geritan, serambeak, andai andai, sambei. Permaiban musik ini menghasilkan bunyi merdu. Asyik sekali bila didengar sambil istirahat.
Pengkajian budaya dilakukan oleh tim LOKANTARA. Hari Jumat tanggal 13 November 2015 berangkat dari Yogyakarta pukul 7.30. Penerbangan Yogya-Jakarta berjalan lancar. Transit di Bandara Cengkareng Jakarta, beristirahat agak lama. Sekitar 14.30 penerbangan dilanjutkan ke arah Jakarta Bengkulu. Dari angkasa terlihat awan gemawan. Mendung di bawah pesawat memantulkan cahaya matahari keputih-putihan. Tepat pukul 16.00 pesawat mendarat, hitam legam seperti berkabut.
Tanah Bengkulu yang menjadi tujuan orang Jawa transmigrasi menjadi kenyataan. Alhamdulillah. Pesawat mendarat dengan aman. Awan mendung tidak disertai dengan hujan. Dari pesawat yang berjalan pelan kelihatan kelapa sawit, pemukiman, menara masjid, perkebunan, rerumputan. Bandara di Bengkulu sebesar Bandara Adi Sucipto. Suasana tidak begitu ramai. Justru tampak anggun dan indah.
Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu besarnya mirip dengan Bandara Kendari. Taksi bandara siap mengantar. Jumlah taksi terbatas, sehingga tidak banyak pilihan. Tanpa harus tawar menawar, langsung saja sepakat untuk menuju penginapan. Dicari penginapan yang dekat dengan transportasi angkot, pasar dan terminal. Dengan tujuan mobilitas, aktivitas serta produktivitas berjalan lancar. Dapatlah penginapan Sindu atau Sinar Dunia, Jl. Salak Raya 293 Bengkulu. Hujan deras mengguyur.
Untuk mengisi waktu luang, segera keliling kota Bengkulu dengan angkot. Pasti harganya murah. Masih dapat dua angkot dengan nomor khusus Kota Bengkulu mempunyai enam jalur 1. Jalur A warna merah. 2. Jalur B warna biru. 3. Jalur C warna hijau. 4. Jalur D warna putih. 5. Jalur E warna kuning.
Begitulah menejemen angkutan kota yang tertib. Kira kira pukul 17 malam gerimis rintik rintik menghiasi Bengkulu. Kendaraan lengang. Pusat perbelanjaan agak sepi. Di pinggir jalan berderet deret penjual pecel lele. Orang Lamongan memang njajah desa milang kori di bumi nusantara. Tiap kota pasti disinggahi. Pecel lele, bebek goreng dan soto babad.
Turunnya hujan itu sekaligus menandai lenyapnya asap yang menjadi isu nasional. Wilayah Bengkulu juga tak lepas dari bencana asap. Pernah bandara tutup gara-gara asap yang menutupi jarak pandang. Tiap tahun bencana asap terus berulang. Hutan dan perkebunan ada yang sengaja membakar.
Pagi pagi kegiatan di kota Bengkulu dimulai. Hari Sabtu 14 November 2015, setelah makan pagi dengan sayur lodeh segera cari angkot warna kuning. Rutenya cukup jauh. Dari penginapan menuju pantai pulang pergi sekitar 2 jam. Cukup kasih ongkos Rp. 20.000. Perjalanan keliling kota lumayan enak. Tidak macet. Anak-anak sekolah dan kantor sudah lewat. Sementara waktu baru pukul 10.30 pagi. Jalan-jalan boleh dikatakan lengang. Di Bengkulu angkot mau mengantar sampai di depan rumah penumpang.
Sambil jalan sopir mesti memberi informasi penting. Berbeda dengan suasana kota Palembang, Tanjungkarang, Riau, Medan dan Pekanbaru. Kota Bengkulu menunjukkan khas kota pertanian Jawa. Dinamika perkembangan kota terlihat santai. Perkotaan cocok untuk pertanian. Interaksi dengan modernitas sebatas pada benda-benda teknologi. Sopir angkot yang berasal dari Padang dan Palembang mengatakan bahwa bangunan peninggalan Belanda umumnya kokoh, kuat, indah. Contohnya bangunan benteng Bengkulu. Elok sekali sudah beratus-ratus tahun lamanya tetap anggun.
Kegiatan Lokantara lancar. Pukul 12.00, Sabtu tanggal 14 November 2015 diundang oleh Bapak H. Agusrin. Beliau mantan Gubernur Bengkulu yang lincah, ramah dan cekatan. Punya pusat aktivitas di Yayasan Agusrin di Puncak Dataran tinggi Bengkulu. Di sana kami lakukan siaran radio. Pertama tentang kebudayaan Jawa. Untuk orang tua diberi sajian lagu tembang macapat. Untuk anak muda disajikan lagu dolanan yang meriah.
Nama Radio 901 FM mengudara di kawasan tertinggi kota Bengkulu. Bertempat di area yang cukup luas, berbukit bukit, sejuk, dikelilingi pepohonan. Suara burung berkicau menghiasi tempat yang tenang dan hening. Cocok untuk refleksi dan kontemplasi. Di sini tertera nama Najamudin Community. Lembaga ini dibina oleh Bapak Agusrin M. Najamudin. Mantan Gubernur Bengkulu tampak sibuk dalam bidang seni budaya.
Dua orang penyiar Nara Radio 901 FM yaitu Uda Jamaris dan Teh Adel. Kedua orang ini cukup dinamis dalam menghidupkan radio Nara. Uda Jamaris dan Teh Adel begitu profesional dalam mengisi acara Nara radio Bengkulu. Ada nama pendengar yaitu Riwon dan Waty. Keduanya senang dengan kebudayaan Jawa.
Hubungan Jawa Sumatra sudah berlangsung lama. Sejak jaman kerajaan Singasari. Raja Kertanegara mengirim Expedisi Pamalayu. Pulangnya membawa putri Melayu yang bernama Gayatri. Nanti diambil istri oleh Raden Wijaya. Pada jaman kerajaan Majapahit Adityawarman, teman Gajahmada diutus ke kerajaan Pagaruyung. Pada jaman kerajaan Demak ada hubungan dengan kerajaan Palembang. Jaman Mataram Sultan Agung mengutus Syekh Jangkung ke Palembang.

