MEDAN – LIPUTAN68.COM — Proyek revitalisasi Lapangan Merdeka Medan (LMM) yang seharusnya menjadi kebanggaan warga ternyata menyisakan banyak masalah. Selain belum rampung sepenuhnya, proyek ini juga diwarnai dugaan pelanggaran hak pekerja, perusahaan bermasalah hingga tindakan yang dianggap tidak berprikemanusiaan.
Salah satu mantan pekerja proyek, khususnya di bagian pemasangan lift dan eskalator, mengungkapkan kepada wartawan bahwa hingga kini ia dan dua rekannya belum menerima upah.
“Betul, kami belum menerima gaji. Selain saya, ada dua orang lagi yang bekerja di proyek ini yang juga belum dibayar sampai hari ini,” ujar sumber yang minta identitasnya dirahasiakan, Rabu (12/3).
Akibat gaji yang tak kunjung dibayar, ia terpaksa mencari pekerjaan lain di luar Kota Medan. Padahal, sejak awal mereka diminta untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum 15 Januari 2025 agar proyek bisa diresmikan oleh wali kota. Namun, peresmian yang akhirnya molor hingga Februari tetap tidak membawa kepastian pembayaran hak mereka.
“Saya sudah curiga sejak awal. Ketika saya menagih gaji Januari kepada Vincent (pemborong proyek), dia bilang akan dibayar Februari. Nyatanya, hingga proyek diresmikan, hak kami masih belum diberikan,” keluhnya.
Tak hanya pekerja lift dan eskalator, tim pemasangan air conditioner (AC) juga mengalami hal serupa. Uang makan yang seharusnya mereka terima pun tak kunjung dibayarkan. Bahkan, helper serta pihak yang menyuplai material proyek juga belum mendapatkan pembayaran dari Vincent Desranta, pemilik perusahaan yang mengerjakan proyek tersebut.
“Saya mulai bekerja sejak November 2024, tetapi setelah gaji Januari tidak dibayarkan, saya merasa tidak ada kejelasan lagi. Ketika saya menuntut hak saya, justru saya diblokir. Apa gunanya bekerja kalau hasilnya nihil?” katanya dengan nada kecewa.
Perusahaan Bermasalah
Dari informasi yang dihimpun, Vincent Desranta disebut memiliki beberapa perusahaan yang bermasalah. Tak hanya di Medan, perusahaan-perusahaan ini juga mengerjakan proyek di Batam dan Jakarta.
“Dia punya enam perusahaan, dan sebagian besar sudah di-blacklist oleh Bea Cukai. Tapi anehnya, dia masih bisa melakukan ekspor barang dengan memalsukan data. Bahkan, PT miliknya yang memenangkan tender proyek revitalisasi LMM juga terlibat dalam pembangunan Stadion Kebun Bunga,” ungkap sumber.
Lebih lanjut, sumber tersebut menyebut PT Xiolift sebagai perusahaan yang bertanggung jawab atas proyek lift, AC, dan eskalator di LMM. Namun, proyek ini pun dinilai tidak jelas dan berantakan.
“Setiap bulan dia ganti karyawan dan selalu membuka lowongan kerja. Dia juga mengklaim dekat dengan mantan Wali Kota Medan Bobby Nasution, sehingga mendapatkan banyak proyek. Tapi semua proyeknya bermasalah,” imbuhnya.
