Kini, apa yang terjadi ternyata Negara Amerika menjadi Negara yang paling banyak, kematian mencapai 87.000 jiwa, disusul China 81.000 jiwa, diserang oleh virus tak nampak Covid-19, dari kedua Negara itu, tak lagi mendengar suara kesombongan Amerika dan China Saya yakin itu semua tentara Allah SWT untuk meredam kesombongan dan mudah-mudahah menjadikan hidayah bagi Negara-negara sombong. Saat saya menulis tulisan ini, statistic penyebaran Covid-19 menunjukkan angka naik terus.
Saya tetap heran. Saya ingat Bulan November 2019, virus itu terdengar di kota Wuhan, China. Kok bisa cepat menyebar. Berapa juta orangkah yang saling kirim Corona hingga mendunia begitu cepat, tahu tahu Jakarta sudah lebih dari 100 yang meninggal, lebih dari 1000 terjangkit. heran saya heran, kok bisa begitu cepat yah. Agar tak heran ya sudah, “: Kun Fayakuun”. Bila Allah Berkata JADI, Maka Jadilah. Kesimpulan, Wuhan adalah sebuah ayat-ayat Allah yang Memperlihatakan, dengan nyata, Kemahakuasaannya kepada seru sekalian alam.
_3. BANYAK PEKERJAAN HINGGA TAK TERASA WAKTU BERGERAK
Saya mengira, dengan adanya peristiwa Covid-19 yang belum berakhir ini, pekerjaan atau kegiatan berkurang. Ternyata tidak, sehingga waktu tidak terasa, baru saja sholat Subuh, tak terasa sudah salat Isya lagi. Bagaimana bisa, jawabannya, karena anak, istri, menantu dan cucu, semua punya kegiatan online.
Cucuku lucu, dia dapat tugas menghafal Surat Iq’ra hingga lima ayat, lalu setelah hapal difoto, direkam dan dilaporkan ke Gurunya. Lalu Gurunya menyapa dan minta si cucu langsung didepan Guru membaca ayat 1-5 Surat Al Iq’ro. Si Nenek juga rapat dan kuliah online dengan pihak Universitas Pasundan. Anak dan menantu bekerja dengan kantornya yang dibawa ke rumah ku, dokumen dibawa ke Rumah, dibalas laporan online.
Tak terasa lagi, kini kami sekeluarga seperti punya jadwal rutin. Subuh, berjamaah di rumah, mengaji dan dzikir sampai pagi Hari, lalu pagi sarapan menurut hobi masing-masing. Mang Engkoes nasi goreng, cucuku roti mentega dan coklat. Anak menantu nasi kuning atau kupat tahu. Lalu, jam 08.00 bila matahari terang cemerlang, kami keluar berjemur depan Masjid Ar-Rachmat. Kemudian jam 10 sd 12.10 adzan Dzhuhur, kembali berjamaa Dzuhur, jam 13 sd 15.12 ada yang tidur ada yang terus bekerja. Demikian cucu, diatur juga agar jam 13 sampai dengan 15 mereka harus tidur siang.
Tiba saatnya Azhar, kami berjamaah kembali, mengajak anak cucu mengaji, demikian seterusnya, menunggu hingga Magrib tiba. Saat Magrib kembali berjamaah, usai Magrib masing-masing punya kegiatan, kalau istriku sudah terbiasa, sejak Magrib hingga tak pernah berhenti dzikir dan wirid hingga Isya. Demikianlah cerita saya kawan-kawan semoga ada kawan yang bercerita lain lagi sehingga, dirumah saja gegara Covid-19, bukan lagi musibah akan tetapi barokah. Inilah barangkali yang selalu dikisahkan Prof. Dr. Suyatno, Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung, agar, “ Bukan lagi sabar saat musibah, syukur saat berkah” akan tetapi hendaknya “Kita bisa, tetap bersyukur dalam suka maupun duka”. /liputan68
Kontributor ; Ichwan Aridanu, S.Pd, M.Pd.
Editor ; Seno
